BINAR CAHAYA INFLUENCER

ahmadbarnash
Chapter #22

Surat Wasiat dalam Format Digital

Kesunyian di dalam kamar apartemen sewaan itu mendadak terasa begitu berwibawa. Jam dinding berdetak di angka 20.45 WIB. Di luar jendela, langit Jakarta sepenuhnya jelaga, menyembunyikan hiruk-pikuk kota di balik polusi dan kabut tipis. Anya Pramesti tidak lagi menangis. Fase histeria dan serangan panik beberapa hari lalu telah menguap, digantikan oleh semacam ketenangan yang dingin, pekat, dan mutlak.

Ia bangkit dari kasur, melangkah menuju sudut ruangan dengan gerakan yang anggun—gerakan yang biasa ia tunjukkan dalam video-video panduan beraktivitasnya. Ia memungut *ring light* lipat kecil yang tergeletak di lantai.

*Klik. Klik.*

Suara besi tripod yang merenggang terdengar nyaring memecah keheningan. Anya menyusun kaki-kaki penyangga itu di atas meja kayu kecil, menaruh ponsel cadangannya di penjepit gawai tepat di tengah lingkaran lampu. Ia mencolokkan kabel daya ke stopkontak. Seketika, cahaya putih berpendar terang, mengusir kegelapan dari wajahnya yang pucat.

Ia tidak mencari kertas atau pena. Di era distopia digital ini, selembar kertas terlalu rapuh. Surat wasit tradisional yang ditulis dengan tinta bisa dengan mudah ditemukan oleh tim hukum Reza, robek, dibakar, dan dihilangkan dari sejarah sebelum sempat menyentuh dunia luar. Reza memiliki uang untuk membungkam realitas fisik.

Namun, Reza tidak bisa menghentikan bita (*bytes*) data yang telanjur menyebar ke jutaan layar dalam hitungan detik. Anya menyadari satu hal: cara terbaik untuk melawan sistem yang menghancurkannya lewat layar adalah dengan menggunakan layar itu sendiri untuk terakhir kalinya. Ia akan menulis surat wasiatnya langsung di hadapan para juri, eksekutor, dan penonton setianya.

Karena akun utamanya **@anyapramesti** masih ditangguhkan oleh agensi PR suaminya, Anya membuka aplikasi TikTok menggunakan ponsel cadangan lamanya yang terikat pada nomor pribadi cadangan yang tak diketahui Reza. Ia mengubah nama pengguna akun baru itu menjadi sesuatu yang lugas, tanpa kepalsuan: **@anya.pramesti.asli**.

Ia duduk tegak di depan lingkaran cahaya. Jarinya bergerak tenang di atas layar, menyalin tautan siaran langsung yang bersiap ia mulai, lalu melempar tautan tersebut ke akun Twitter/X *burner*-nya dengan satu kalimat pendek: *"Aku akan bicara sekarang. Tanpa filter. Tanpa tim PR. Dengar atau lupakan."*

Lihat selengkapnya