Malam itu, koridor lantai tiga apartemen di kawasan Jakarta Selatan dihantui oleh derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas lantai ubin yang dingin. Rafi Gunawan berlari kencang, napasnya memburu, mengabaikan rasa perih di telapak kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit usang. Di belakangnya, dua petugas keamanan apartemen dan seorang polisi berpangkat bintara mencoba mengejar dengan senter yang bergoyang liar.
Rafi melihat siaran langsung itu dari sisa ponselnya yang retak di studio Blok M. Melalui insting dan pelacakan dari nomor taksi daring yang sempat terekam di lingkungan studionya siang tadi—serta bantuan darurat dari Anita yang histeris di telepon—Rafi berhasil menyatukan kepingan lokasi persembunyian Anya.
Namun, ia tahu ia sudah terlambat.
"Pintu yang ini, Pak! Ketuk, Pak! Dobrak!" teriak Rafi, suaranya parau, nyaris habis oleh kepanikan yang mencekik tenggorokannya.
Petugas keamanan maju, menggedor pintu besi itu beberapa kali. "Mbak Anya? Permisi, Mbak! Buka pintunya!"
Tidak ada jawaban. Kesunyian dari balik pintu itu terasa begitu padat, tipe keheningan yang menolak segala jenis intervensi dari dunia luar. Polisi di samping Rafi mengangguk tegas, lalu bersama-sama dengan petugas keamanan menendang engsel pintu kayu tripleks itu hingga jebol dengan suara hantaman keras.
*Brak!*
Pintu terbuka. Bau ruangan itu adalah kombinasi antara udara pengap yang terkunci, sisa mi instan yang mendingin, dan aroma Chanel No. 5 yang lamat-lamat menguap. Ruangan itu gelap gulita.
Rafi adalah orang pertama yang merangsek masuk. Senter dari ponselnya menyapu ruangan kecil tersebut. Cahaya itu pertama kali menangkap siluet *ring light* yang berdiri kaku di atas meja kayu seperti kerangka besi, dengan kabel daya yang menjuntai lepas di lantai. Dan di sudut kasur tanpa dipan, di bawah bayangan lampu neon luar yang menembus ventilasi jendela, Anya Pramesti terbaring diam.
Ia tampak seperti sedang tidur, mengenakan kaos hitam polos yang sama dengan yang ada di siaran langsung beberapa jam lalu. Namun, dada wanita itu tidak lagi bergerak naik-turun. Kulitnya terasa dingin saat Rafi merengkuh tubuhnya yang mulai kaku, meratap tanpa suara di dalam kegelapan kamar yang tidak lagi ramah kamera. Gawai di dekat tangan Anya tergeletak pasrah dengan layar yang mati total—sebuah alat rekam yang telah menyelesaikan tugas terakhirnya memotong sisa hidup sang pemilik.
Selama beberapa jam setelah siaran langsung itu terputus, jagat maya Indonesia mengalami sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya: keheningan total.
Komentar-komentar parodi yang biasanya membanjiri linimasa mendadak berhenti. Video-video TikTok parodi dihapus satu per satu secara massal oleh pemiliknya dalam hitungan menit demi menghindari pelacakan digital. Rasa bersalah kolektif yang mencekam merayap di antara jutaan pengguna gawai yang beberapa jam lalu masih menganggap hidup Anya sebagai tontonan sirkus gratis.