BINAR CAHAYA INFLUENCER

ahmadbarnash
Chapter #26

Cahaya Palsu (Epilog)

Juni 2027. Satu tahun adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Jakarta untuk mengganti seluruh ornamen permukaannya. Aspal Menteng kembali berkilau setelah diguyur hujan sore, dan baliho-baliho digital di sepanjang Jalan Sudirman telah melahirkan belasan ikon baru dengan senyum simetris yang tak kalah berkilau.

Di lantai 22 Ardiansyah Group Tower, Reza Ardiansyah berdiri menatap pemandangan kota melalui dinding kaca yang bersih. Penampilannya kini jauh lebih matang; setelan jas Tom Ford biru gelap melekat sempurna di tubuhnya. Isu korupsi amdal senilai 45 miliar rupiah setahun lalu menguap begitu saja di meja hijau, tenggelam oleh gelombang simpati publik yang masif setelah kematian istrinya.

Reza berhasil lolos dari segala jerat hukum, bertransformasi seutuhnya menjadi figur *"Duda Tegar & Ayah Tunggal Teladan"*. Proyek *Menteng Signature* telah rampung, seluruh unitnya habis terjual, dan penawaran saham perdana (IPO) perusahaannya sukses besar di bursa efek. Kematian Anya, pada akhirnya, adalah pengorbanan modal yang menghasilkan keuntungan triliunan rupiah bagi dinasti bisnisnya.

Sementara itu, di sudut sebuah galeri kecil yang temaram di kawasan Jakarta Selatan, sebuah pameran tunggal yang sunyi sedang berlangsung.

Rafi Gunawan duduk di sudut ruangan, memegangi cangkir kopi kertas yang sudah dingin. Rambut gondrongnya kini dipotong pendek kaku, dan matanya kehilangan binar idealis yang dulu pernah ia miliki. Pameran itu bertajuk **"Cahaya Palsu"**. Di dinding galeri, berderet foto-foto hitam-putih tanpa filter yang merekam sudut-sudut sepi Jakarta—termasuk satu ruangan apartemen kosong dengan sebuah *ring light* yang tergeletak patah di lantai.

Sebuah buku foto dengan judul yang sama terpajang di meja depan, laris manis dipesan oleh para kolektor seni. Di halaman pertamanya tertulis draf kecil: *“Seluruh keuntungan dari buku ini didonasikan untuk yayasan pemulihan kesehatan mental.”* Namun, bagi Rafi, uang dan kesuksesan seni itu tidak bisa menebus trauma abadi di kepalanya. Setiap kali ia memegang kamera, ia selalu melihat bayangan sepasang mata berkaca-kaca Anya yang seolah berbisik bahwa lensa miliknya adalah pelatuk yang mengeksekusi mati wanita itu.

Dunia digital tidak peduli pada air mata riil Rafi ataupun kalkulasi sosiopatis Reza. Algoritma internet telah lama beranjak, melupakan nama Anya Pramesti, dan terus memutar mesinnya untuk mencari target baru untuk dipuja, dikuliti, lalu dihancurkan.

### **[USER INTERFACE – THE ENDLESS SCROLL]**

**Smartphone Screen: Beranda Instagram Seorang Netizen Acak (Juni 2027)**

> 📱 *[Gerakan jemari melakukan scroll cepat ke bawah pada layar ponsel pintar. Feed bergerak mulus tanpa jeda.]*

Lihat selengkapnya