Bingkai Cinta yang Salah (Apakah Kita Harus Memaksa?)

aisyah nur hanifah
Chapter #1

PERTEMUAN PERTAMA



Hujan berderai di Desa Ubud Bali, seketika mengingatkanku kepada banyak hal kenangan indah yang pernah terjadi kota Mumbai saat itu. Andaikan saja, kala itu kondisi keluargaku masih baik- baik saja, dan perusahaan ayah tidak mengalami penipuan oleh rekan bisnisnya, maka kak Reno tidak perlu memutuskan kesepakatan ini untuk pindah ke Bali.

Namun, begitulah roda hidup berputar tanpa mengenal kepada siapa yang hendak dituju. Aku masih ingat, dimana kala itu, saat masih tinggal di Mumbai, aku hidup dengan kemewahan yang setiap hari bisa kudapatkan dengan mudah.

Pakaian mahal, sepatu mahal, dan tas branded adalah hal yang tidak sulit untuk aku minta dari ayah. Bukan hanya itu, setiap tahunnya sudah menjadi tradisi bagi kami sekelurga merayakan segala macam perayaan festival di Rumah, dengan mengundang teman-teman satu kampusku.

AKAN TETAPI TRAGEDI TERJADI SEKETIKA TEPAT DI ACARA HOLI ITU

#FLASHBACK 1 TAHUN YANG LALU

Seketika langit malam Kota Mumbai India menjadi sangat suram, badai petir diiringi hujan deras melanda mengguyur seluruh kota tanpa memberikan kilauan cahaya rembulan yang dapat menyentuh hati dan pikiran bagi siapa saja yang melihatnya.

Sudah dua puluh tahun lamanya, aku lahir dan besar di kota India. Tradisi Hindu yang sangat melekat di dalam kehidupan sehari-hari, berbaur bersama setiap tutur dan kata yang selalu mengagungkan segalanya kepada kehendak sang Hyang Widhi atau para Dewa.

Ibu dan ayah, adalah dua insan yang menyatu dalam cinta dan kasih sayang, dimana mereka bersatu dari permulaan cinta yang suci namun sedikit rumit. Takdir cinta yang mengawali kisah hidup mereka bermula dari dua keyakinan yang berbeda. Ibu yang mulanya adalah gadis Persia beragama muslim, sementara ayah adalah asli warga Mumbai Tamil keuturunan Bali pengikut Dewa Hanoman.

Namun, begitulah sekiranya cinta lalu membujuk ibu untuk mendukung keinginan ayah dengan mengikuti agamanya memeluk Hindu yang taat. Terbukti, saat ini ibu telah mengganti seluruh pakaian yang di kenakan dengan busana sari tradisional India yang telah dikombinasikan dengan nuansa moderen. Sementara aku mengenakaan busana curritart suit. Yaitu, celana leging kendor dengan perpaduan warna-warna cerah dengan atas busana gamis selutut yang memiliki corak bunga, lalu dengan dupata sebagai selendangnya.

Ayah mengatakan, sebagai gadis Hindu, sudah sewajarnya aku melestarikan busana tradisional yang aku kenakan dimanapun aku berada. Bahkan, aku dilarang untuk malu mengenakan busana seperti itu. Aku biasanya sering sekali mengenakan busana ini saat pergi ke Kampus, menikmati weekand, hangout, dan rutinitas lainnya.

HARI HOLI

Musim Semi di India telah tiba, seperti biasa aku bersama keluargaku merayakannya dengan melakukan festival Holi, yaitu sebuah festival yang melambangkan kebahagiaan, sukacita, dan kemakmuran bagi masyarakat Hindu dari malapetaka kesengsaraan dan pengaruh roh-roh jahat. Ini adalah peristiwa sakral, sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Akan tetapi, saat aku bersama ibu sedang mempersiapkan beraneka macam bubuk-bubuk warna untuk perayaan Holi, tiba-tiba, kami berdua mendengar suara dobrakan dari luar pintu rumah. Alhasil, ibu seketika menjadi kalut, dengan muka cemas segera mengajakku untuk melihat siapakah gerangan yang datang tersebut.

Oh tidak, ada sepuluh pemuda dengan tampilan sangar mengobrak-abrik seisi rumahku, bahkan diantaranya membawa surat pernyataan yang berbunyi jika ayah telah mendapatkan penipuan dari rekan bisnisnya yaitu penggelapan modal yang membuat ayah terlilit hutang.

DENGAN DEMIKIAN

Setelah kejadian yang menimpa keluargaku kali ini, seketika suasana rumahku menjadi sangat sunyi dan sepi tanpa adanya canda dan tawa yang terdengar. Bukan hanya itu, kadang kala ibu juga sering sekali menangis sendirian meratapi nasib yang sedang terjadi dan berat hati rasanya untuk pergi dari rumah ini.

Tapi apa boleh buat, ayahku juga tidak memiliki pilihan lagi. Kak Reno sebagai kaka tertuaku mengatakan, jika pindah ke Bali adalah pilihan yang tepat, dimana disana ada rekan bisnisnya yang akan membantu kami memulai bisnis property seperti semula.

Apalagi, saat ini ayah juga sering sekali mengalami kesusahan dalam bekerja. Sungguh, suasana keluarga seperit ini sangat menyulitkan bagiku dan membuatku sedih setiap hari.

“Zora, apakah kamu sedang sibuk nak?”

Saat aku sedang mengerjakan tugas kuliah yang cukup padat, tiba-tiba ayah dan ibu datang untuk menemuiku di kamar. Dengan senyum sumringah, akupun menyambut ibu dan ayahku serta mengajak mereka untuk duduk di atas tempat tidurku.

“Ada apa ayah?”

“Zora, maafkan ayah. Sepertinya kita tidak bisa lagi tinggal di Mumbai.” “Kenapa ayah, apakah ada masalah dengan perusahaan kita?”

Jujur saja, saat mendengar pernyataan yang disampaikan oleh Ayah membuatku sangat terkejut. Aku terus menanyakan hal yang sama kepada ayah dan ibu, mengenai pernyataan ini, namun ayah masih bungkam dan tidak menjawab.

“Ayah, coba jelaskan kepada Zora, apa sebenarnya yang terjadi pada keluarga kita?”

Sekali lagi, aku bertanya dengan nada pelan, agar Ayah menjelaskan padaku. Dengan nada lirih dan hati-hati, ayah mulai mengatakan alasannya, mengapa kami harus pindah dari Mumbai, India.

“Zora, maafkan ayah, setelah bisnis properti ayah mengalami kebangkrutan, Ayah tidak bisa mempertahankan perusahaan kita yang ada di Mumbai. Sehingga, agar kita bisa bertahan hidup, hanya ada satu pilihan yang bisa kita pilih saat ini, yaitu kita harus kembali ke kampung halaman ayah di Bali, Indonesia. Disana masih ada rumah nenek buyut yang bisa kita tempati. Tidak hanya itu, ayah juga berharap, sesampainya disana, ayah ingin kamu membantu ayah untuk membangun kembali perusahaan kita bersama dengan kak Reno agar tetap bertahan. Bagaimana, kamu setujukan dengan niat ibu dan ayah?”

“Baik ayah, Zora setuju dengan keputusan tersebut.”

“Terimakasih ya sayang.” kata mama padaku sembari memelukku hangat.

(“Jujur saja, pilihan untuk meninggalkan rumah ini sangat berat sekali bagiku. Ada banyak sekali kenangan berharga di Rumah ini, termasuk kenangan masa kecilku bersama dengan kak Reno. Namun, demi kebahagiaan keluarga dan kehidupan kami yang lebih baik lagi, dengan lapang dada, aku harus ikut bersama kak Reno, ayah dan ibu untuk menjalani kehidupan baruku di Bali, Indonesia.”) bisik hatiku.

KEMBALI DI DESA UBUD BALI

Dan sekarang semua suasana telah berubah. Aku tidak lagi tampil menjadi gadis hindu yang kaya, namun sebaliknya menjadi gadis hindu Bali yang manis dan tampil sederhana. Nuansa baru, kebudayaan baru, serta adat istiadat yang baru, telah mendarah daging di dalam diriku saat ini.

Apalagi dengan didukung panorama Bali yang menyuguhkan tempat yang dikelilingi oleh pesona alamnya yang indah dengan hamparan pantai yang sangat mengagumkan, seketika menyadarkanku, jika kehadiran Hyang Widhi Dewa Hanoman sangatlah dekat didalam hidupku.

Aku bersyukur, ketika keluargaku berada di masa-masa yang sulit, namun sang dewa masih memberiku tempat terbaik yang nyaman untuk bersandar dan melupakan semuanya, di pulau Bali ini. Terlebih lagi, disini masih terdapat banyak Pura layaknya sebuah kuil sebagai tempat ibadah, sehingga selalu menghantaraku untuk senantiasa dekat dan ingat kepada sang Hyang Widhi yang maha kuasa.

Lihat selengkapnya