Bingkai Cinta yang Salah (Apakah Kita Harus Memaksa?)

aisyah nur hanifah
Chapter #2

BENIH-BENIH CINTA


PAGI HARINYA

Seperti biasa, rutinitas pagi yang aku jalani bersama keluargaku adalah melakukan ritual untuk pemujuaan kepada sang hyang widhi Dewa Visnu di Pura Ubud Bali bersama para warga sekitar. Pemujaan ini sangat rutin dilakukan oleh keluargaku sebagai umat Hindu yang taat agar hyang widi selau memberikan kesehatan, kenikmatan rezeki dan umur panjang bagi kami semua.

SEMBARI MENYISIR RAMBUTKU

Aku masih mengingat tentang bagaimana tampannya wajahnya saat tersenyum padaku seraya menunjukkan lesung pipinya yang manis dan mempesona. Bukan itu saja, tutur katanya yang senantiasa dia tunjukkan akan membuat seluruh wanita pasti jatuh cinta pada pandangan yang pertama. Sama halnya seperti diriku.

Jantungku terus saja berdetak cukup kencang, apabila mendengar suaranya walau hanya sekilas. Belum lagi, jika dia menatapku ketika itu, sungguh aku benar-benar malu, aku ingin membalas tatapannya, namun aku semakin takut dan ragu.

Dan, jika dia mendekat padaku aroma maskulin dari dalam tubuhnya, membuatku tenang dan tentram. Dia memiliki suhu tubuh yang hangat dan baik sekali. Satu hal yang membuatku takjub padanya yaitu Ilham adalah pria yang sangat taat dengan agama yang dianut olehnya.

Aku memperhatikannya saat rapat pertemuan waktu itu, yaitu di pukul 12.30WIB bergegas dia menyudahi pertemuan tersebut dan beralih untuk beribadah menunaikan sholat fardu di Mesjid Resort. Sungguh, aku semakin terkesima padanya.

Aku mengerti, saat aku meyakinkan dia menjadi kekasihku, lalu berdoa kepada sang hyang widhi Dewa Hanoman agar dirinya menjadi suamiku adalah perihal yang tidak mungkin dan tentu akan menyalahkan takdir yang ada. Aku seorang hindu yang taat, dan Ilham muslim yang taat.

Akan tetapi, aku hanya percaya dengan satu hal, cinta adalah sesuatu yang sakral, bahkan cinta adalah rasa yang senantiasa membimbing dua sejoli yang memiliki perbedaan dapat bersatu dalam ruang lingkup cinta apabila adanya keyakinan untuk memahami dan saling mengerti.

Aku selalu berdoa kepada Dewa Hanoman, agar nantinya kisah cintaku abadi layaknya dua sejoli dalam mitologi kisah sejarah Hindu, yaitu cinta suci yang berbeda agama dalam mahligai satu atap pernikahan yaitu antara Ratu Jodha dan Raja Jalaludin Ahmad.

Tok, Tok, Tok

Tiba-tiba, pintu kamarku terketuk. Ibu datang menemuiku seraya membawa segelas teh jahe hangat dengan aroma kayu manis dan cengkeh yang sangat nikmat. Tanpa berpikir panjang, aku menyudahi untuk menata rambutku dan menemui ibu.

“Sudah ibu tebak, jika kamu belum saja selesai merias diri di depan cermin. Ayo, minum teh jahe ini dan setelah itu segera berganti dengan busana kebaya suci, kita akan ke Pura Ubud untuk melakukan pemujaan kepada sang hyang widhi Dewa Visnu.”

 “Iya ibu, tenang saja kita tidak akan telat dan tepat waktu sampai di Pura. Oh iya,

bolehkah Zora tanya sesuatu bu?” “Boleh sayang ibu, apakah itu?”

“Hem, ibu, apakah jatuh cinta kepada pria yang berbeda keyakinan oleh kita adalah salah?”

Sejujurnya, pertanyaan dariku sedikit menyinggung perasaan ibu. Namun, apa boleh buat, bahwa aku tidak pernah bisa berbohong di depan ibu, dan selalu bersumpah di hadapan Dewi Durga untuk selalu berkata jujur.

“Tidak sayang, cinta adalah sesuatu yang berharga dan bermakna. Terlebih lagi, cinta merupakan istilah terbaik yang memberikan kehangatan di dalam hidup kita. Dan cinta tidak pernah memilih kepada siapa akan bertaut dan bertahta, walaupun nantinya akan membuat kita harus memilih dan mengorbankna sesuatu.”

Lihat selengkapnya