Bingkai Cinta yang Salah (Apakah Kita Harus Memaksa?)

aisyah nur hanifah
Chapter #3

DIA SANGAT BAIK

Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Ilham. Sungguh, aku mungkin sedang bermimpi kali ini, bagaimana bisa Ilham datang tiba-tiba menemuiku di Pura Ubud, bahkan aku dan dia belum saling tukar-menukar nomor handphone yang kami miliki.

“Direktur Ilham, bagaimana kamu tahu jika saya ada disini?”

“Darimana saya tahu itu tidaklah penting, yang terpenting saat ini adalah saya berhasil bertemu dengan kamu, sebelum kita bertemu di Resort.”

“Ah, begitu. Saya tadi hanya terkejut. Tapi, saya juga sangat bahagia bertemu dengan

anda. Oh iya, sekiranya apa tujuan Direktur Ilham kemari?” “Saya ingin mengajak kamu berangkat bersama saya ke Resort.”

Oh tidak, bagaimana ini, apakah sekarang aku telah bermimimpi? Dewa, mengapa cepat sekali rasanya engkau mengabulkan doaku. Barusaja tadi aku memintanya darimu, dan sekarang doa itu telah engkau kabulkan.

“Omswassiastu ibu.”

Ilham tidak hanya menyapaku, namun dia juga menyapa ibuku. Sungguh, Ilham adalah pria yang sangat sopan dan bijaksana. Bahkan, senyuman darinya itu tidak mampu aku lepaskan begitu saja saj dari dari dalam hidupku, dan selalu saja terngiang dengan sendirinya.

“Ibu, bolehkah saya mengajak Zora untuk pergi bersama saya ke Resort?” “Tentu saja boleh, akan tetapi Zora belum berganti busana.”

“Tidak papa ibu, justru Zora terlihat lebih cantik dengan mengenakan busana kebaya Bali seperti ini. Mari ibu, saya juga akan mengantar ibu pulang.”

Namun, sebelum kami memutuskan untuk pergi dari Pura ini, sekali lagi aku memberikan doa dan penghormatan kepada Dewa Visnu didepan Pura. Bersama dengan ibu, kami memanjatkan syukur melalui api suci, dan memakan ladu persembahan.

“Apakah saya boleh ikut memakan ladunya?”

Pertanyaan yang diajukan oleh Ilham seketika membuatku terkejut. Bagaimana bisa aku turut serta juga memberikan ladu persembahan ini kepada Ilham, sementara dirinya bukanlah umat yang beragama hindu seperti diriku.

“Tidak papa sayang, berikan saja, ini adalah salah satu bentuk penghargaan kita kepada sesame umat manusia. Bukankah Dewi durga juga demikian mengajarkan kepada kita. Sekaligus ini juga merupakan falsafah hidup yang diajarkan oleh Dewa Visnu dan Dewa Hanoman kepada kita.”

“Baik ibu.”

Setelah mendengar pernyataan dari ibu, aku memberikan satu bundar ladu kepada Ilham. Seraya tersenyum, aku menyuapai persembahan itu kedalam mulutnya.

“Bagaimana?”

“Rasanya manis dan enak.”

Aku tersenyum dan sedikit tertawa mendengar pernyataan darinya tersebut. Dikarenakan hari sudah menginjak pukul 10.00 WITA, maka sudah saatnya aku bergegas untuk pergi membahas kerjasama perusahaan di Resort.

SETELAH MENGANTARKAN IBU

Lihat selengkapnya