
Rapat akan dimulai, namun tiba-tiba kejanggalan terjadi, saat sebelum masuk ke Ruangan tersebut, terlihat semua wanita di Hotel memandangku sinis tidak suka. Baiklah,aku mengerti ini pasti karena mereka memandang dari penampilanku yang biasa dan jauh dari kata mewah dan mahal.
Berjalan bersanding dengan Ilham dengan romantis, tentu saja membuat semua wanita di Resort ini ingin sekali merasakan hal yang sama sepertiku. Dimana, dengan sangat tampan dan berkelas, Ilham menggandeng tanganku dan memasukkan kedalam saku jas yang dia kenakan.
“Jangan dihiraukan,santai saja sayang!” katanya seraya meyakinkanku. “Tenang saja,don’t worry.”jawabku sembari tersenyum.
Akan tetapi, disaat aku hendak masuk ke dalam ruangan tersebut,tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang anak kecil berusia enam tahun yang sedang membantu ibunya menyapu halaman Resort, dengan wajah yang lapar.
Aku melihat anak kecil itu memegang erat perutnya hingga mengikatnya dengan tali rafia agar ibunya tidak tahu, bahwa dia sedang sangat lapar.
Hatiku semakin terasa miris ketika anak kecil itu justru berlari sekencang-kencangnya mengejar makanan sisa yang dibuang oleh salah satu karyawan dari Resort ini.
“Ilham, kamu masuk saja dahulu, aku ada urusan sebentar, dan setelah itu akan hadir di ruangan rapat.”
“Tunggu ada apa? Mengapa kamu merasa cemas tiba-tiba, kamu sakit?”
“Ah, tidak. Sebentar saja, aku pergi dulu.” Kataku, lalu berlari meninggalkannya.
Sekarang, tujuanku adalah menuju ke salah satu restoran di Resort dan membeli makanan untuk anak kecil itu beserta ibunya.
“Adek, ini, silahkan makan yang ini saja. Ini lebih bersih dan higenis.”kataku kepada anak kecil tersebut, lalu dengan tersenyum simpul dia tersenyum kepadaku sembari mengambilnya.
SAAT AKU AKAN BEREBALIK
Aku tidak menyangka, Ilham ternyata mengikutiku dan berdiri tepat di belakangku. Aku memberi ulasan senyum padanya karena dia telah memujiku.
“Aku bersyukur, karena kekasihku tidak hanya cantik tapi juga berakhlak baik serta peduli kepada semua orang.”