Bingkai Cinta yang Salah (Apakah Kita Harus Memaksa?)

aisyah nur hanifah
Chapter #6

SETELAH KAKAK, PERGI RUMAH KITA HAMPA


PAGI HARI BERSELIMUT DUKA

Seperti biasa di pukul 05.00 pagi aku bersama mama menjalani ritual pagi, yaitu memberikan persembahan kepada dewa Hanoman. Walaupun dada ini masih terasa sesak, seakan ingin sekali semua duka lara ini adalah mimpi, lalu aku bangun dengan raut bahagia menyambut ayah dan kakak dengan senyuman manis seperti biasa.

Tapi aku tidak bisa menolak takdir yang telah hyang Widhi gariskan padaku. Aku tidak bisa lagi menjadi anak gadis bungsu sekarang, masih ada mama yang selalu membutuhkanku untuk selalu kuat menjalani hidup

(“Dewa. Rasanya sangat perih sekali. Dua pria cinta sejatiku pergi bersamaan tanpa jeda. Bahkan disaat aku belum mampu memenuhi janjiku pada ayah untuk mengembalikan kejayaan perusahaan ini. Aku mohon, bantu aku untuk tetap kuat berjalan dan berdiri tegak diatas kakiku sendiri. Sehingga, aku selalu menjadi pondasi untuk mama agar kembali memiliki semangat hidup.”) ucapku lalu menutup mata seraya memanjatkan doa dengan khusyuk di depan patung dewa Hanoman.

“Ma, pagi ini Zora akan pergi dengan Ilham untuk bertemu dengan bibinya. Ilham telah mengatakan kepada Zora jika bibinya menyetujui untuk memberikan dana investasi bagi keluarga kita untuk kembali membangun perusahaan ini, bibinya sangat setuju dengan rencana proposal yang Zora buat, bahkan bibinya akan memberikan 1 bangunan toko terbengkalai milik perusahaan mereka yang tidak terpakai untuk kita gunakan, memang toko itu kecil, tapi seiring waktu Zora janji akan mengembalikan kejayaan perusahaan kita lagi.”

Dengan wajah yang masih basah dan sembab, mama memelukku hangat dan mencium keningku.”tanpa kamu minta, mama selalu berdoa yang terbaik buat kamu sayang, maafkan kami karena membuatmu harus sesakit ini, seharusnya di usiamu yang 21 tahun ini, kamu masih kuliah. Tapi karna masalah perusahaan yang menimpa keluarga kita, kamu justru cuti kuliah di Beijing, padahal tinggal 2 tahun lagi kuliah kedokteran kamu selesai. Kamu harus memberhentikan mimpimu demi keluarga kita”

“ma, semuanya hanya masa lalu. Fokus Zora sekarang adalah mama, keluarga dan perusahaan kita. Zora yakin, kesuksesan itu bukan hanya dari semua yang kita cita- citakan, justru sekarang Zora bersyukur dewa masih memberikan mama untuk selalu disisi Zora.”

OM SWASTIASTU

Suara itu, ya benar sekali suara kekasihku. Tidak terasa sudah 5 bulan aku menjalani hubungan sebagai kekasih dengan Ilham. Setelah meninggalnya ayah dan kakak, Ilham selalu menjagaku dengan hangat. Dia selalu bersamaku dalam duka dan suka, bahkan dibalik kesibukannya sebagai owner perusahaan, dia tidak pernah absen untuk menemani waktu lemburku menyelesaikan semua project yang aku kerjakan untuk membangun perushaaan properti kembali.

“Ilham, silahkan duduk, pagi ini ibu sudah masak steak tempe dengan saus mashroom kesukaan kamu” kataku menyambutnya hangat.

“Wah, kebetulan sekali sayang, mari kita sarapan bersama. Ayo ibu, duduk dengan kami”

“Ilham, silahkan berdua saja dengan Zora, ibu sedang ada urusan sebentar dengan bibi tetangga sebelah rumah.”

Di meja makan, sembari melihatnya sarapan dengan tenang dan sangat menikmati

Lihat selengkapnya