
Sanju tidak pernah menyangka bahwa takdir akan mempertemukannya kembali dengan Zora dalam keadaan yang begitu rapuh. Perempuan yang dulu selalu memancarkan keceriaan itu kini berdiri di hadapannya dengan mata yang menyimpan kelelahan panjang. Ada kesedihan yang tak sempat ia ceritakan pada siapa pun. Sanju memandangnya lama seolah takut bayangan itu akan menghilang jika ia berkedip. Lima tahun telah berlalu sejak mereka terakhir kali berdiri dalam cerita yang sama. Namun perasaan yang dulu pernah tumbuh seakan tidak pernah benar benar pergi.
Pertemuan itu membangkitkan kembali kenangan yang selama ini ia simpan di sudut paling sunyi dalam hatinya. Ingatannya melayang jauh ke sebuah senja di kota Mumbai.
#FLASHBACK
Saat itu mereka masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Langit India berwarna jingga lembut dan jalanan kota dipenuhi aroma manis dari pedagang jalebi yang baru saja diangkat dari wajan panas. Zora tertawa kecil sambil memegang kertas pembungkus jalebi yang lengket oleh gula. Wajahnya bersinar dalam cahaya senja seolah dunia tidak pernah memiliki kesedihan.
Langit senja di Mumbai perlahan berubah menjadi warna jingga yang lembut. Cahaya matahari terakhir menyentuh jalanan kota yang masih ramai oleh suara kendaraan dan langkah orang orang yang pulang ke rumah. Di sudut trotoar kecil dekat taman sekolah mereka berdiri, Zora dan Sanju duduk berdampingan di bangku kayu sambil memegang kertas kecil berisi jalebi hangat yang baru saja mereka beli.
Aroma gula yang manis bercampur dengan udara sore yang sejuk. Zora menggigit jalebi itu sambil tertawa kecil. Senyumnya selalu berhasil membuat dunia terasa lebih ringan.
“Sanju, ini benar benar enak,” katanya sambil mengangkat jalebi itu di depan wajahnya. “Kamu harus mencobanya sebelum aku habiskan semuanya.”
Sanju tersenyum sambil menggeleng pelan. Ia sebenarnya tidak terlalu memerhatikan rasa manis jalebi itu. Sejak tadi matanya hanya tertuju pada Zora. Cara perempuan itu tertawa. Cara rambutnya bergerak tertiup angin. Cara matanya bersinar setiap kali ia berbicara.
Namun di balik tatapan lembut itu ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Sanju menunduk sejenak. Kata kata yang ingin ia ucapkan terasa berat seperti batu yang menekan dadanya. Ayahnya sudah memutuskan semuanya. Mereka akan pindah ke Amerika. Dalam beberapa minggu lagi ia harus meninggalkan Mumbai. Meninggalkan sekolahnya. Dan yang paling sulit adalah meninggalkan Zora.
Ia menggenggam kertas pembungkus jalebi itu lebih erat.
Zora menatapnya dengan heran.
“Kamu kenapa diam saja dari tadi?” tanya Zora. “Biasanya kamu yang paling banyak bicara.” Sanju tersadar dari pikirannya lalu tersenyum tipis.
“Aku hanya sedang menikmati suasana,” jawabnya pelan.
“Menikmati suasana atau sedang memikirkan sesuatu?” Zora menyipitkan matanya seolah mencoba membaca isi pikirannya.
Sanju tertawa kecil untuk menutupi kegelisahannya.
“Kamu terlalu pandai menebak.”
Angin senja tiba tiba berembus sedikit lebih kencang hingga membuat poni rambut Zora jatuh menutupi matanya. Tanpa sadar Sanju mengangkat tangannya lalu merapikan rambut itu dengan lembut. Gerakan sederhana yang membuat Zora terdiam beberapa detik.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Zora pelan.
Sanju tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Zora lebih lama dari biasanya seolah ingin menyimpan setiap detailnya di dalam ingatan.
“Aku hanya ingin mengingat hari ini,” katanya perlahan.
Zora tertawa kecil.
“Kita bertemu hampir setiap hari Sanju. Kenapa kamu bicara seperti ini hari terakhir kita?”
Kalimat itu menusuk hati Sanju tanpa Zora sadari.
Ia ingin mengatakan semuanya. Ia ingin berkata bahwa beberapa minggu lagi ia tidak akan ada di kota ini lagi. Ia ingin menjelaskan bahwa perpisahan itu bukanlah keinginannya.
Namun bayangan wajah Zora yang terluka membuat kata kata itu terhenti di bibirnya.
Sanju menarik napas panjang lalu berkata dengan suara yang lebih lembut.
“Zora.”
“Iya?”
“Kalau suatu hari nanti kita tidak bertemu lagi untuk waktu yang lama kamu akan tetap mengingatku?”
Zora mengerutkan keningnya lalu menatapnya dengan heran.
“Kamu aneh sekali hari ini.”
“Aku serius.”
Zora terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum.
“Tentu saja aku akan mengingatmu. Kamu ini sahabatku sejak lama. Lagipula kita juga sudah berjanji akan selalu bersama kan?”
Sanju menunduk agar Zora tidak melihat matanya yang mulai berkabut.
“Iya,” jawabnya lirih. “Kita sudah berjanji.”
Zora menyodorkan potongan jalebi terakhir kepadanya.