
HENING TANPA SUARA
KESUNYIAN DI HATI SANJU
KELU
ANDAIKAN ZORA TAHU
Di dalam pesawat yang perlahan menjauh dari landasan Mumbai, Sanju duduk diam di dekat jendela. Sabuk pengaman masih terpasang di tubuhnya, namun pikirannya terasa jauh melayang. Kota yang selama ini menjadi rumahnya perlahan mengecil di balik kaca jendela. Gedung gedung tinggi berubah menjadi titik kecil, lalu menghilang di balik awan putih.
Namun yang benar benar sulit ia tinggalkan bukanlah kota itu. Melainkan seseorang yang masih berada di sana. Sanju menutup matanya sejenak. Dadanya terasa sesak sejak pesawat mulai lepas landas. Tangannya menggenggam ponsel yang kini sudah tidak memiliki kartu aktif. Ponsel yang semalam masih menyimpan banyak pesan dari Zora.
Ia belum sempat membalasnya.
Atau mungkin ia memang tidak berani.
Pikirannya terus kembali pada satu wajah yang selalu muncul dalam ingatannya. Zora dengan senyumnya yang hangat. Zora dengan tawanya yang ringan. Zora yang beberapa hari lalu masih duduk di sampingnya menikmati jalebi di bawah langit senja Mumbai.
Sanju menghela napas panjang. Tenggorokannya terasa kering.
Hari ini adalah ulang tahun Zora.
Ia sangat tahu itu.
Ia juga sangat tahu bahwa Zora pasti akan datang mencarinya.
Bayangan itu membuat dadanya terasa semakin berat. Ia dapat membayangkan Zora berdiri di depan rumahnya yang kini kosong. Memanggil namanya dengan harapan sederhana bahwa ia akan keluar dari pintu dan tersenyum seperti biasa.
Namun Sanju tidak ada di sana.Ia telah pergi tanpa penjelasan. Tanpa perpisahan. Tanpa keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.
Sanju menundukkan kepalanya. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.
“Aku minta maaf, Zora,” bisiknya pelan.
Suara itu hampir tidak terdengar di antara dengungan mesin pesawat.
Keputusan ini bukanlah sesuatu yang ia inginkan. Beberapa minggu lalu ayahnya mengatakan bahwa perusahaan keluarga mereka harus dipindahkan ke Amerika untuk menyelamatkan bisnis yang hampir runtuh. Semua keputusan dibuat begitu cepat. Sekolah harus ditinggalkan. Rumah harus dijual. Hidup mereka harus dimulai kembali di tempat yang jauh.
Sanju sebenarnya masih memiliki satu pilihan.
Ia bisa mengatakan semuanya kepada Zora.
Ia bisa mengajaknya bertemu lalu menjelaskan dengan jujur bahwa ia harus pergi.
Namun setiap kali membayangkan wajah Zora yang terluka, keberanian itu selalu menghilang.
Ia tahu Zora tidak akan menangis di depannya.
Zora selalu kuat.
Justru karena itulah Sanju tidak sanggup melihat kesedihan yang akan tersembunyi di balik senyumnya.
Sanju menggenggam tangannya sendiri dengan erat.