
(SANJU)
Pesawat itu terus melaju menembus langit yang luas, meninggalkan Mumbai yang perlahan menghilang di balik awan. Sanju masih duduk di kursinya tanpa banyak bergerak. Tangannya menggenggam foto kecil yang sejak tadi ia keluarkan dari dompetnya. Foto itu sudah sedikit kusut di bagian sudutnya, namun wajah yang ada di dalamnya tetap terlihat jelas.
Zora.
Perempuan yang sejak lama mengisi sebagian besar ruang dalam hidupnya.
Sanju mengusap foto itu perlahan dengan ibu jarinya. Matanya terasa panas setiap kali ia menatap senyum yang tertangkap di dalam gambar itu.
“Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat ulang tahun,” gumamnya lirih.
Pikirannya kembali pada begitu banyak momen yang mereka lalui bersama. Hal hal kecil yang dulu terasa biasa kini berubah menjadi kenangan yang menyesakkan.
Ia ingat bagaimana Zora selalu menunggunya di gerbang sekolah setiap pagi.
Ia ingat bagaimana perempuan itu selalu mengeluh jika Sanju terlambat datang.
“Sanju, kamu ini selalu saja membuat orang menunggu,” kata Zora suatu pagi sambil menyilangkan tangannya.
Sanju tertawa kecil sambil mengangkat kedua tangannya.
“Aku hanya ingin memastikan kamu merindukanku.”
Zora memutar matanya namun tidak bisa menahan senyumnya.
“Percaya diri sekali.”
Kenangan itu membuat Sanju menutup matanya sejenak.
Di tempat lain, di kota yang sama yang kini ia tinggalkan, Zora masih duduk di dalam kuil kecil tempat mereka sering datang bersama.
Doanya telah selesai, tetapi ia belum juga beranjak dari tempatnya. Ia duduk diam di lantai batu yang dingin sambil memandang nyala lilin kecil di depan altar.
Tangannya masih menggenggam kotak hadiah yang ia bawa sejak pagi.
Zora membuka kotak itu perlahan. Pena yang ia beli untuk Sanju masih terbaring rapi di dalamnya.
Ia menghela napas panjang lalu tersenyum tipis, meski matanya masih merah karena menangis.
“Kamu benar benar pergi tanpa mengatakan apa pun ya,” bisiknya pelan.
Angin lembut masuk dari pintu kuil yang terbuka, membuat nyala lilin bergoyang pelan.
Zora menutup kotak itu kembali.
Di dalam hatinya ada begitu banyak pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Namun satu hal yang paling menyakitkan adalah perasaan bahwa dirinya telah ditinggalkan tanpa alasan.
Sementara itu ribuan meter di atas langit, Sanju masih memandangi foto yang sama.
Pramugari yang berjalan melewati lorong sempat berhenti sejenak ketika melihat wajah Sanju yang tampak murung.
“Apakah Anda baik baik saja,” tanyanya dengan lembut.
Sanju mengangguk pelan.
“Iya. Terima kasih.”