Bingkai Cinta yang Salah (Apakah Kita Harus Memaksa?)

aisyah nur hanifah
Chapter #12

ANTARA ILHAM DAN IBU


Sore di Bali itu berubah menjadi salah satu senja paling berat dalam hidup Zora.

Langit di atas Ubud berwarna keemasan. Cahaya matahari menembus sela pepohonan dan jatuh lembut di halaman resort tempat mereka berdiri. Di hadapannya, Ilham masih menatapnya dengan mata yang penuh ketulusan. Di tangannya ada sebuah cincin sederhana yang sejak beberapa menit lalu membuat dunia Zora terasa berputar lebih cepat.

“Zora,” ucap Ilham dengan suara yang tenang namun hangat.

“Aku tidak tahu bagaimana masa depan kita akan berjalan. Kita datang dari keyakinan yang berbeda. Banyak orang mungkin akan mengatakan ini mustahil.”

Ia berhenti sejenak lalu menatap Zora lebih dalam.

“Tapi aku tidak ingin kehilanganmu hanya karena ketakutan orang lain.”

Tangan Ilham sedikit gemetar saat ia membuka kotak kecil itu.

“Jika kamu bersedia, aku ingin berjalan bersamamu. Tanpa memaksamu meninggalkan keyakinanmu. Tanpa memaksaku meninggalkan imanku.”

Suara Ilham menjadi lebih pelan.

“Aku hanya ingin kita saling menjaga.”

Air mata langsung memenuhi mata Zora.

Ini adalah kebahagiaan yang selama ini tidak pernah ia bayangkan bisa datang ke dalam hidupnya. Setelah semua luka yang ia lalui sejak Mumbai. Setelah kehancuran keluarganya. Setelah kehilangan ayah dan kakaknya.

Ilham hadir seperti cahaya yang perlahan menghangatkan hidupnya kembali.

Namun justru di saat itulah badai lain datang.

MALAM HARINYA

Ibunya memanggilnya ke ruang kerja kecil di rumah mereka di Bali. Wajah wanita itu tampak lebih tua dari biasanya. Ada kelelahan panjang di matanya.

“Zora,” katanya pelan.

Zora duduk di depannya dengan perasaan yang tidak tenang.

“Ada sesuatu yang harus ibu katakan.”

Beberapa detik hening sebelum ibunya melanjutkan.

“Perusahaan keluarga kita akhirnya memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.”

Zora terdiam.

Kesempatan itu adalah sesuatu yang selama ini ia perjuangkan mati matian. Ia bekerja tanpa lelah selama bertahun tahun demi mengembalikan kejayaan perusahaan yang pernah runtuh saat ayahnya meninggal.

“Investor besar dari Beijing ingin membantu kita,” lanjut ibunya.

“Namun ada satu syarat.”

Zora merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

“Syarat apa?”

Ibunya menatapnya dengan mata yang berat.

Lihat selengkapnya