
Malam di Bali terasa begitu sunyi.
Di kamar yang temaram, Zora duduk sendirian di dekat jendela. Tirai tipis bergetar perlahan tertiup angin malam. Dari kejauhan terdengar suara ombak yang bergulung lembut, namun bagi Zora suara itu justru terasa seperti gema kesedihan yang terus berulang.
Lampu kamar hanya menyala redup. Bayangan pepohonan bergerak pelan di dinding, sementara pikirannya kembali berputar pada satu momen yang sejak tadi terus menghantuinya.
Percakapan di lobi hotel siang tadi.
Zora menutup matanya perlahan, dan kenangan itu kembali hadir dengan begitu jelas dipenuhi cahaya hangat dan suara tamu yang berlalu lalang. Namun bagi Zora, dunia terasa berhenti ketika bibi Ilham berdiri di depannya.
Wanita itu terlihat sangat anggun dengan senyum yang lembut, namun ada ketegasan yang tidak bisa disembunyikan di balik sikap tenangnya.
“Zora,” ucapnya pelan.
Nada suaranya begitu halus hingga hampir terdengar seperti seorang ibu yang sedang berbicara kepada anaknya sendiri.
“Aku ingin berbicara sebentar denganmu.”
Zora mengangguk sopan.
Mereka duduk di salah satu sudut lobi yang agak sepi. Di antara mereka ada meja kecil dengan secangkir teh yang hampir tidak tersentuh.
Bibi Ilham memandang Zora beberapa saat sebelum akhirnya berkata dengan suara yang tetap lembut.
“Kamu perempuan yang baik.”
Zora terdiam.
“Aku bisa melihat bagaimana kamu mencintai Ilham.”
Ia tersenyum tipis.
“Dan aku tahu Ilham juga mencintaimu.”
Namun senyum itu perlahan memudar.
“Tapi ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan cinta.”
Zora merasakan dadanya mulai terasa sesak.
Bibi Ilham melanjutkan dengan tenang.
“Kalian berasal dari dua keyakinan yang berbeda.”
“Ilham adalah satu satunya anak laki laki dalam keluarga kami. Banyak harapan yang bergantung padanya.”
Ia menatap Zora dengan pandangan yang tidak marah, tidak pula kasar.
Justru terlalu tenang.
“Jika kamu benar benar mencintainya… maka kamu juga harus memikirkan kehidupannya di masa depan.”
Zora menunduk.
Kata kata itu terasa seperti perlahan menekan hatinya.
Lalu bibi Ilham mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan meletakkannya di meja.
“Perusahaan keluargamu sedang berjuang untuk bangkit kembali.”
Zora terkejut.
“Bibi tahu?”