Bingkai Cinta yang Salah (Apakah Kita Harus Memaksa?)

aisyah nur hanifah
Chapter #14

ANTARA DUA DOA


(ZORA)

Malam itu terasa seperti malam yang paling panjang bagi dua hati yang sedang diuji oleh takdir.

Di kamar , Zora masih memeluk bingkai foto ayah dan kakaknya. Namun semakin lama ia menatap foto itu, semakin kuat pula rasa sesak di dadanya. Seolah semua kenangan masa lalu kembali hidup di hadapannya.

Ia akhirnya berdiri perlahan.

Air mata yang sejak tadi jatuh di pipinya ia usap dengan punggung tangan.

Matanya tertuju pada satu tempat yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya.

Kuil kecil di pinggir kota.

Tempat yang dulu sering ia datangi ketika hatinya sedang tidak tenang.

Tempat di mana ia pernah berdoa bersama seseorang yang sangat ia cintai.

Ilham.

Tanpa banyak berpikir lagi, Zora mengenakan selendang tipis di bahunya lalu keluar dari kamar hotel.

Malam Bali terasa tenang. Jalanan lengang. Lampu-lampu kecil di pinggir jalan berpendar lembut seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Beberapa menit kemudian Zora sudah berdiri di halaman kuil.

Aroma dupa menyambutnya.

Cahaya lilin berkelip pelan di antara patung-patung suci yang berdiri kokoh dalam keheningan malam.

Langkah Zora terasa berat, tetapi hatinya terasa sedikit lebih tenang ketika memasuki area kuil.

Ia duduk bersila di depan altar kecil.

Tangannya disatukan di depan dada.

Matanya perlahan terpejam.

Angin malam menyentuh wajahnya dengan lembut seolah membawa ketenangan yang selama ini ia cari.

Air mata kembali jatuh di pipinya.

Dalam suara yang lirih, Zora mulai berdoa.

“Hyang Widhi…”

Suaranya bergetar oleh perasaan yang begitu dalam.

“Aku datang lagi ke tempat ini… seperti dulu.”

Ia menarik napas panjang.

“Aku tidak datang membawa kebahagiaan.”

“Aku datang membawa kebingungan.”

Air matanya jatuh perlahan di atas kedua tangannya yang masih terlipat.

“Tuhan… Engkau tahu aku mencintai Ilham.”

“Tapi Engkau juga tahu aku tidak bisa meninggalkan ibuku.”

Ia menundukkan kepalanya lebih dalam.

“Ayah dan kakakku sudah pergi… ibu adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki sekarang.”

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Jika aku harus memilih… aku tidak tahu mana yang harus aku lepaskan.”

Tangisnya pecah pelan.

“Hyang Widhi… jika memang aku harus kehilangan cinta ini demi keluargaku… berikan aku kekuatan untuk melakukannya.”

Lihat selengkapnya