
Pagi itu langit Bali terlihat sangat cerah.
Namun bagi Zora, pagi itu terasa seperti perpisahan yang panjang dengan bagian terindah dalam hidupnya.
Semalaman ia tidak tidur. Setelah doa yang ia panjatkan di kuil, setelah air mata yang ia tumpahkan di hadapan Tuhan dan kenangan ayah serta kakaknya, akhirnya ia menemukan satu keputusan.
Keputusan yang tidak lahir dari kebahagiaan.
Melainkan dari keteguhan.
Zora memilih keluarganya.
Ia memilih menepati janji kepada ayahnya.
Dan itu berarti ia harus meninggalkan Ilham.
Bandara Ngurah Rai pagi itu dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang. Suara pengumuman penerbangan bergema di seluruh ruangan. Koper-koper ditarik cepat di atas lantai marmer yang mengilap.
Namun di tengah keramaian itu, Zora berdiri dengan wajah yang sangat tenang.
Di sampingnya, ibunya memegang tas kecil sambil menatap putrinya dengan mata yang penuh emosi.
Zora mengenakan pakaian sederhana. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.
Ia tidak lagi tampak seperti perempuan yang semalam menangis di kuil.
Ia terlihat seperti seseorang yang telah membuat keputusan besar dalam hidupnya.
Ibunya memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya berbicara pelan.
“Zora…”
Zora menoleh.
“Iya, Bu?”
Ibunya menggenggam tangan putrinya dengan lembut.
“Kamu masih bisa berubah pikiran.”
Kalimat itu diucapkan dengan hati-hati, seolah ibunya sendiri takut dengan jawaban yang akan ia dengar.
“Aku tidak ingin kamu melakukan ini hanya karena ibu.”
Zora tersenyum tipis.
Senyum yang lembut namun penuh keteguhan.
“Ibu.”
Ia menatap mata ibunya dengan hangat.
“Aku tidak melakukan ini karena ibu memintanya.”
Ia menarik napas pelan.
“Aku melakukan ini karena aku sudah memilih.”
Ibunya terdiam.
Zora melanjutkan dengan suara yang tenang namun kuat.
“Ayah pernah berkata bahwa keluarga adalah rumah yang harus kita jaga… bahkan ketika dunia di luar sedang runtuh.”
Matanya sedikit berkaca, tetapi suaranya tetap stabil.
“Ketika ayah dan kakak pergi… aku berjanji pada mereka bahwa aku akan menjaga ibu.”
Ia menggenggam tangan ibunya lebih erat.
“Dan sekarang aku hanya sedang menepati janji itu.”
Air mata mulai mengalir di pipi ibunya.
“Tapi Ilham…”
Suara ibunya bergetar.
“Kamu mencintainya.”
Zora menunduk sebentar.
Nama itu masih terasa hangat di hatinya.
Namun ia kembali mengangkat wajahnya dengan ketenangan yang luar biasa.
“Cinta tidak selalu berarti memiliki, Bu.”
Kalimat itu keluar dengan pelan, tetapi begitu dalam.
“Ada cinta yang harus kita lepaskan agar orang yang kita cintai bisa tetap hidup tanpa beban.”
Ibunya menatapnya dengan mata yang penuh haru.
“Kamu terlalu kuat untuk perempuan seusiamu.”
Zora tersenyum kecil.
“Tidak, Bu.”
Ia menggeleng perlahan.
“Aku hanya anak perempuan ayah.”
Kalimat itu membuat ibunya menangis.
Zora memeluk ibunya dengan hangat.
Pelukan itu terasa lama.
Seolah mereka sedang menutup satu bab kehidupan yang sangat berat.