
(ILHAM)
Pagi di pantai Bali masih terasa tenang. Ombak kecil menyapu pasir dengan ritme yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun bagi Ilham, pagi itu terasa seperti sesuatu dalam hidupnya baru saja berakhir.
Ia berdiri menghadap laut, sementara angin pantai menggerakkan ujung kemejanya.
Di belakangnya, bibi Ilham berdiri dengan sikap yang sama tenangnya seperti biasa.
Wanita itu tidak pernah terlihat terburu-buru. Cara bicaranya lembut. Cara ia memandang orang selalu tampak penuh pengertian. Namun di balik kelembutan itu, selalu ada ketegasan yang tidak bisa ditolak.
Ilham akhirnya menoleh.
“Bibi sudah bicara dengan Zora, bukan?”
Nada suaranya tidak marah, tapi juga tidak ringan.
Bibi Ilham tersenyum tipis, seperti seseorang yang sudah memikirkan pertanyaan itu sejak lama.
“Aku hanya berbicara sebagai orang yang lebih tua.”
Jawaban itu terdengar lembut.
Namun Ilham menghela napas panjang.
“Bibi memintanya meninggalkanku.”
Bibi Ilham tidak langsung menjawab.
Ia berjalan beberapa langkah mendekati Ilham, lalu memandang laut yang sama seperti yang sedang dipandang keponakannya.
“Aku tidak memintanya.”
Ia berhenti sebentar.
“Aku hanya menjelaskan kenyataan.”
Ilham menatapnya.
“Kenyataan seperti apa?”
Bibi Ilham menoleh sedikit. Wajahnya tetap tenang, bahkan hampir terlihat penuh kasih.
“Kenyataan bahwa cinta tidak selalu cukup untuk membangun kehidupan.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sangat lembut.
Namun justru karena itulah kata-kata itu terasa menusuk.
Ilham menatapnya lama.
“Bibi juga menawarkan perusahaan kepada Zora.”
Bibi Ilham tidak menyangkal.
“Perusahaan itu bisa menyelamatkan keluarganya.”
Ia menatap Ilham dengan sorot mata yang tenang.
“Bukankah itu sesuatu yang baik?”
Ilham tertawa kecil, namun tidak ada kegembiraan di dalamnya.
“Bibi menyebut itu pilihan?”
Bibi Ilham memiringkan kepala sedikit.
“Bukankah memang begitu?”
Ilham menggeleng pelan.
“Bibi tahu Zora seperti apa.”
Suaranya mulai terdengar lebih dalam.
“Dia tidak akan pernah memilih dirinya sendiri jika keluarganya sedang membutuhkan.”
Bibi Ilham tidak terlihat terganggu oleh kalimat itu.
Sebaliknya, ia berkata dengan suara yang tetap lembut.
“Itulah alasan aku menghormatinya.”
Ia berhenti sejenak.
“Dia perempuan yang sangat berbakti.”
Kemudian ia menambahkan dengan tenang.
“Dan perempuan seperti itu selalu tahu mana yang harus ia korbankan.”
Ilham menatap bibinya lama.
Angin pantai berhembus lebih kencang.
Ada sesuatu dalam kalimat bibi Ilham yang membuat hati terasa dingin.
Seolah semua sudah diperhitungkan sejak awal.
Ilham akhirnya berkata pelan.
“Bibi membuatnya memilih antara keluarganya… atau aku.”
Bibi Ilham menatapnya dengan wajah yang hampir seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya.
“Ilham.”
Nada suaranya tetap lembut.
“Jika seorang perempuan benar-benar mencintaimu, dia akan memilih masa depan yang tidak menghancurkan hidupmu.”
Ilham terdiam.
Namun bibi Ilham melanjutkan dengan tenang.