Bingkai yang Retak

Denns
Chapter #1

Tawaran Tanpa Nama

Cahaya senja menerobos masuk melalui celah tirai studio yang berdebu, memotong ruangan menjadi dua bagian: yang terang dan yang tenggelam dalam bayangan.

Di tengah ruangan itu, Adam menggeser posisi lampu studio dengan gerakan tenang. Matanya menyipit, mengamati leher dan garis rahang model di depannya melalui jendela bidik kamera. Ia tidak menyukai kilatan lampu yang terlalu terang. Bagi Adam, bayangan alami justru tempat di mana karakter asli seseorang bersembunyi.

"Mas Adam, bisa tolong pas diedit nanti mukaku bikin lebih mulus dan tirus nggak?" potong sang model—seorang konten kreator muda yang menyewa studionya—sambil merapikan riasannya untuk kesekian kali. "Terus gambarnya bikin yang agak cerah ya, jangan gelap-gelapan begini. Kelihatan muram."

Adam menurunkan kameranya pelan, menghela napas tipis yang sebisa mungkin ia sembunyikan. "Riasanmu sudah pas," ujar Adam tenang, suaranya berat dan datar, “dan bayangan di pipimu itu yang bikin fotonya terasa hidup. Kalau dikikis habis waktu diedit, kamu cuma bakal kelihatan kayak patung lilin tanpa nyawa."

"Tapi pengikutku di media sosial sukanya yang mulus, Mas! Tampilan akunku butuh yang bersih!" ketus gadis itu, jelas tidak sabar.

Adam mengamati layar kecil di belakang kameranya. Detail tekstur kulit, bayangan jatuh yang dramatis, hingga pantulan cahaya di bola mata sang model sebenarnya sempurna. Sebuah foto wajah yang jujur. Namun di zaman sekarang, kejujuran dalam foto sering kali dianggap sebagai sebuah kekurangan.

"Kalau cuma mau foto mulus tanpa karakter," kata Adam halus namun tegas, "kamera HP dengan penyaring wajah bawaan jauh lebih cepat dari studio ini."

Gadis itu mendengus kesal, mengambil tas mewahnya, “aku datang ke studio ini agar hasil foto aku jauh lebih bagus Mas, sesuai dengan apa yang aku inginkan!”

Lalu gadis itu keluar dari studio setelah melemparkan beberapa lembar uang kertas ke atas meja. Bukan tarif penuh, tapi cukup untuk menutup ongkos sewa listrik minggu ini.

Adam hanya menatap lembaran uang itu tanpa niat menyentuhnya. Ia bersandar di tepi meja kayu, mengusap wajahnya yang lelah. Pikirannya melayang pada surat peringatan dari pemilik gedung yang tergeletak di pojok meja—tunggakan sewa studio ini sudah memasuki bulan ketiga. Idealismenya sebagai tukang foto memang memberi kepuasan seni, terkadang tidak pernah bisa memberi makan.

Lihat selengkapnya