Bingkai yang Retak

Denns
Chapter #2

Batik Biru Tua dan Lebam

"Mas Adam Mahesa?"

Adam terperanjat. Padahal jarinya baru saja ingin menekan bel yang ada di samping gerbang. Tiba-tiba pintu kecil di samping gerbang terbuka, dan seorang satpam berbadan tegap dengan kaos hitam polos melangkah keluar.

"Eh, iya, Pak. Saya pemotret yang diminta datang jam delapan," jawab Adam pelan sambil mengangguk.

Satpam itu tidak membalas sapaan Adam. "Ikut saya ke dalam. Tuan sudah menunggu."

Adam melangkah masuk mengikuti satpam tersebut. Udara pagi di kawasan perumahan elit yang terletak di pinggiran kota ini terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung samar di antara pohon-pohon pinus yang memagari area ini dari bisingnya pusat kota.

Suasana di sekitar rumah besar bergaya kolonial modern ini teras sunyi. Rumahnya besar, didominasi warna putih kusam dengan pilar-pilar beton yang tampak kokoh seolah sengaja mengunci rapat segala rahasia di dalamnya.

Pintu depan berbahan kayu tebal mendadak terbuka sebelum Adam sempat mengetuknya. Pria berjas hitam kemarin sudah berdiri di sana, menyambut Adam dengan tatapan dingin yang sama.

"Tepat waktu. Saya suka orang yang bisa memegang janjinya," kata pria itu. “Ayo masuk."

"Terima kasih, Pak," sahut Adam pelan.

Saat Adam melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju pada kemewahan interior rumah itu. Lukisan-lukisan pemandangan tua memenuhi setiap sudut dinding. Namun, ada sesuatu yang sangat membuatnya merasa heran, karena di rumah seluas ini, tidak ada satupun foto wajah manusia yang terpajang.

"Pemotretan dilakukan di ruang kaca belakang," kata pria berjas itu sambil memandu Adam berjalan melewati lorong panjang. “Nona Naya sudah menunggu."

Adam mencoba membuka obrolan sambil merapikan tali tas kamera di bahunya. "Pak, kalau boleh tahu, Nona Naya ada permintaan khusus tidak untuk konsep atau gaya fotonya?"

Pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Adam dengan tersenyum tipis—sebuah senyuman yang dingin dan bahkan seperti dipaksakan.

"Tugasmu hanya satu, Mas Adam. Hanya memotret. Nona Naya tidak suka banyak diatur, dan bos saya cuma butuh hasil foto yang apa adanya. Seperti yang sudah kita bicarakan kemarin di studiomu."

"Oh... baik, Pak," sahut Adam.

Pria berjas itu lalu membukakan sepasang pintu kaca tebal di ujung lorong. Di balik pintu, ada rumah kaca yang luas dan terang benderang. Cahaya matahari pagi masuk leluasa dari atap kaca, menerangi tanaman-tanaman hias berdaun lebar di setiap sudutnya. Di tengah-tengah ruangan, duduk seorang wanita muda di atas kursi kayu berukir.

Adam sempat tertegun selama beberapa detik.

Lihat selengkapnya