Tok... Tok... Tok…
Ketukan keras di pintu kayu studio memecahkan keheningan.
Adam terperanjat dan langsung mencabut harddisk eksternal dari port USB lalu menyembunyikannya ke dalam saku jaket. Ia meraih flashdisk biasa berisi foto-foto formal dari atas meja, menghela napas panjang dan berjalan membukakan pintu.
Seorang pria tegap berkemeja hitam dengan kacamata gelap berdiri di ambang pintu.
"Kartu memori dan file fotonya," minta pria itu tanpa basa-basi. Suaranya rendah, berat, dan sangat kaku.
Adam mencoba tersenyum tipis seraya menyerahkan data dan kartu memori yang sudah di-format bersih dari kameranya. "Ini flashdisk-nya, Pak. Semua foto hasil pemotretan pagi ini sudah ada di dalam. Kartu memorinya juga sudah kosong sesuai perintah."
Pria berjas itu menerima keduanya, mengamati data itu sejenak di telapak tangannya, lalu menatap Adam tajam dari balik kacamata hitam.
"Semua file di komputermu sudah kamu hapus?" tanyanya bernada menekan.
"Sudah, Pak. Langsung saya hapus begitu selesai dipindahkan," jawab Adam bohong, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Lagipula, studio saya cuma simpan file seperlunya."
"Bagus. Kamu penurut, Mas Adam," kata pria itu seraya mengantongi flashdisk. "Ingat, sisa pembayaran jasa pemotretanmu akan ditransfer sore ini. Tapi kalau sampai ada satu foto saja yang bocor ke media atau media sosial... kamu tahu sendiri akibatnya."
"Saya paham profesionalisme, Pak," sahut Adam, “saya cuma tukang foto yang butuh makan dan bayar studio yang menunggak.”
"Bagus kalau paham," potong pria itu dingin. "Pekerjaanmu selesai. Jangan pernah coba-coba datang lagi ke rumah itu atau menghubungi Nona Naya."
Pria itu berbalik dan melangkah cepat menuju mobil sedan hitam yang mesinnya masih menyala di tepi jalan.
Adam berdiri kaku di pintu sampai mobil itu menghilang di belokan komplek. Ia langsung menutup pintu rapat-rapat, dan menguncinya. Tangannya meraba saku jaket—harddisk berisi foto rahasia itu masih aman.
Ia kembali duduk di depan komputer kerjanya dan membuka peramban web. "Harjaya Sentosa..." gumam Adam pelan seraya mengetikkan alamat perumahan mewah pagi tadi di kolom pencarian.
Dibutuhkan waktu hampir satu jam menelusuri artikel berita bisnis lokal, hingga akhirnya sebuah artikel berita media daring nasional menarik perhatiannya. Foto utama artikel itu menampilkan sosok pria tua berambut putih dengan garis wajah dingin—pria yang sama persis dengan yang berdiri di balik pantulan kaca rumah kaca.
Adam membaca judul artikel itu berulang kali: 'Harjaya Sentosa: Gurita Bisnis Sentosa Group dan Sisi Kedermawanannya.'
Namun, matanya tertuju pada paragraf terakhir berita tersebut. Adam membacanya keras-keras dengan suara berbisik: