Kemeja putih Aura terasa kaku membungkus tubuhnya, serupa perisai yang ia kenakan setiap pagi. Cermin di toilet kantor Lentera Sastra memantulkan citra wanita tanpa riasan berlebih. Kacamata berbingkai hitam bertengger statis di pangkal hidung, menutupi mata yang menyimpan rahasia.
Di luar bilik kecil ini, ia adalah Aura, sang "Algojo Naskah" yang disegani sekaligus ditakuti. Suaranya tenang, kata-katanya baku, dan sikapnya dingin.
Tidak ada yang menduga bahwa di balik topeng profesional itu, terdapat gairah yang meluap dalam bentuk untaian kata erotis di dunia maya.
Langkah kaki Aura bergema di lorong sunyi kantor yang perlahan ditinggalkan penghuninya. Lampu-lampu neon berpendar redup, memberi kesan melankolis pada deretan kubikel kayu.
Ia menuju meja kerjanya, tempat tumpukan naskah menunggu untuk dibantai atau dipuja. Sebuah pesan singkat muncul di layar komputernya: "Rapat redaksi baru, naskah 'Radikal'."
Aura hanya mengernyitkan dahi. Ia tidak menghiraukan pesan itu. Prioritasnya bukan naskah baru yang entah dari siapa. Prioritasnya adalah dirinya yang lain.
Setelah yakin suasana benar-benar sunyi, ia membuka laci meja yang terkunci rapat, mengeluarkan sebuah laptop tipis tanpa stiker identitas. Ini adalah benda paling berbahaya di ruangan ini.
Jari-jarinya menari di atas trackpad. Ia masuk ke portal penulis anonim miliknya. Nama profil itu terpampang dengan huruf tebal yang provokatif: BiniKedua.
Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Dua juta pembaca dalam waktu satu minggu untuk bab terbaru. Ia menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak.
Ini gila, batinnya. Kalau mereka tahu editor paling konservatif di Jakarta adalah otak di balik fantasi liar ini, karierku tamat dalam hitungan detik.
Namun, sensasi bahaya itu justru menjadi bahan bakar. Aura mulai mengetik. Kali ini, ia tidak memerlukan riset. Ia hanya perlu memanggil kembali ingatan tentang sentuhan yang pernah ia rasakan, atau yang ia dambakan.
Lelaki itu berdiri di kegelapan sudut kamar, hanya menyisakan siluet yang mendominasi ruang. Aura merasakannya—hawa panas yang memancar dari tubuh sang pria, bahkan sebelum kulit mereka bersinggungan.
Kemeja sutra yang dikenakan lelaki tersebut terbuka pada tiga kancing teratas, memamerkan lekuk otot dada yang keras dan lembap oleh keringat tipis.
“Aku tahu kamu menunggu ini,” bisik lelaki itu. Suaranya serak, membelai telinga Aura seperti gesekan beludru pada luka yang baru terbuka.
Aura berhenti mengetik. Tenggorokannya kering. Bayangan tentang kekasih rahasianya, pria yang selama ini menjadi inspirasi sekaligus beban moral di pundaknya, mendadak muncul begitu nyata.
Ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk.
Pria Misterius: Aku di parkiran bawah. Lima menit.