Bintang dan Bunga Lily

Wina Alda
Chapter #1

Bab 1

Narayana tidak pernah merasakan kebahagiaan yang membuncah lebih dari ini. Ribuan orang di hadapannya tampak gembira, bernyanyi bersama. Kelap-kelip fan light di atas tribune yang bergerak seirama musik, serupa ribuan kunang-kunang yang ikut menari. Ini adalah lagu penutup. Narayana menyanyikannya dengan penuh semangat. Konser tunggal yang diimpikannya sejak lama, akhirnya bisa terwujud. Berkat kerja keras siang malam, juga para penggemarnya, tentu saja. Mereka yang loyal, yang selalu mendukung Narayana dari nol sampai bisa berada di puncak popularitas seperti sekarang. Albumnya berhasil terjual ratusan ribu keping hanya dalam waktu kurang dari satu minggu. Lagunya juga bisa sampai nangkring di chart Billboard. Sungguh, semua itu adalah prestasi yang Narayana tidak tahu lagi harus bersyukur dengan cara seperti apa.

Di akhir penampilan, Narayana mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Nama yang pertama kali dia sebut adalah Mama dan Papa. Mereka berdua ada di bangku penonton, sama-sama mengacungkan banner dan fan light seperti penggemar kebanyakan. Mereka adalah penggemar nomor satunya Narayana. Mereka yang tahu lagu-lagu Narayana, mulai dari coretan-coretan lirik acak-acakan, sampai bisa menjadi sebuah karya yang mengagumkan.

“Untuk Mama dan Papa, terima kasih karena telah mempercayai impianku,” ujar Narayana dengan senyum penuh sukacita, meski keringat masih terus bercururan deras dari dahi sampai ke dagu.

“Terima kasih karena sudah menjadi sayap di kanan-kiriku,” lanjut Narayana. “Juga terima kasih sudah menjadi parasut saat aku terjatuh.”

Tepuk tangan dan teriakan terdengar menggema. Meski samar-samar, Narayana bisa melihat mama dan papanya menggoyang-goyangkan banner di kursi penonton. Mereka memilih menonton di area seating VIP karena tidak mungkin berdiri berdesakan dengan anak-anak muda. Dengan bibir yang masih mengukir senyum, Narayana diam sejenak sampai riuh mereda. Setelah beberapa saat, Narayana melanjutkan ucapannya.

“Untuk Naracita, kalian bukan sekadar penggemar. Kalian bahkan lebih dari seorang teman. Kalian adalah keluargaku. Kalianlah yang mengantarkanku sampai ke panggung ini. Terima kasih. Kita sama-sama terus, ya?”

Teriakan makin histeris. Dari gemuruh yang terdengar, suara didominasi oleh perempuan. Narayana menutup konsernya, dengan harapan bisa meninggalkan kenangan indah bagi semua orang, untuk kemudian berjalan bersama lagi dan menciptakan kenangan-kenangan indah yang lain.

Narayana menuju ke back stage dipandu oleh seorang kru. Handuk kecil berwarna putih tersampir di pundak. Ujungnya dia gunakan untuk mengusap keringat di dahi. Di ruang tunggu, manajer menyambutnya dengan sebotol air mineral dingin.

“Kerja bagus, Nara! Lo keren banget!” Bang Eza, manajernya, menepuk punggung Narayana sambil tersenyum bangga.

“Naraaaaaa!!!”

Narayana belum sempat menanggapi pujian Bang Eza, Mama sudah berteriak dan menghambur ke pelukan.

“Anak Mama keren! Paling keren sedunia!” katanya sembari memeluk Narayana erat.

“Iya, kan, anaknya Mama.” Narayana menjawab sambil tertawa.

“Papa gak diajak, nih?”

Narayana menoleh ke arah pintu, melihat papanya yang baru masuk. Sebelah tangan Narayana merentang, menyambut pelukan Papa, sedangkan tangan yang lain masih memeluk Mama.

“Makasih banyak udah nyempetin datang,” kata Narayana.

Sebenarnya, Papa harus keluar kota untuk mengurus pekerjaannya, meeting dengan klien. Namun, dia rela membayar sekretarisnya dua kali lipat untuk menggantikan pekerjaannya, demi bisa menghadiri konser pertama Narayana.

“Ini namanya bukan nyempetin, tapi memenuhi kewajiban,” kata Papa. Narayana tergelak mendengarnya.

Lihat selengkapnya