Siapa sebenarnya sosok Langit yang dikenalkan oleh temannya kepada Bintang? Namanya ialah Langit Saka Bumi, sembilan belas tahun, asli Bandung. Ia mempunyai postur tubuh yang tinggi, dan badan yang proporsional. Hobinya ialah bermain berbagai genre game, mengkoleksi jaket, dan mengkoleksi sepatu. Penampilannya sudah pasti santai dan namun chic. Jaket yang kenakan sesekali di cocokkan dengan kaus atau kemeja. Cocok untuk outfit orang yang sedang berkuliah. Ia berkuliah di jurusan Hukum. Menurut teman-teman kuliahnya, Langit adalah orang yang baik, suka berorganisasi, dan pintar bahasa Inggrisnya. Maka tidak salah, kalau ia sangat sibuk karena berkecimpung dalam dunia Badan Eksekutif Mahasiswa. Saat itu memang belum, karena ia masih termasuk mahasiswa baru. Namun saat itu adalah masa-masa awal rekrutmen, dan pemilihan ketua BEM dan beserta anggota-anggotanya. Dan ternyata, kejutan lainnya ialah Langit pun menduduki jabatan sebagai ketua Organisasi Siswa Sekolah saat ia SMA dulu. Pantas saja Langit sudah berpengalaman di bidang itu. Ia juga punya satu kesayangan, itu ialah mobil Jeep nya. Setiap hari, ia menggunakan mobil Jeep kesayangannya itu untuk beraktifitas, berkuliah, dan termasuk.. saat hendak mulai ada keinginan untuk mengenal Bintang lebih banyak. Jadi, ini kelanjutan cerita awal permulaan Bintang mengenal Langit.
Di suatu minggu pagi yang cerah, saat itu adalah hari libur akhir semester genap. Jadi anggaplah sebentar lagi, Bintang maupun Langit, akan menginjak tahun kedua di masa perkuliahannya. Langit, yang memang up to date dengan gadget dan termasuk sosial media, menyadari jika satu hari sebelumnya, Bintang mengklik add friend facebook nya Langit. Namun karena Langit di hari Sabtu itu sedang sibuk bermain game, maka ia baru akan merespon satu hari setelahnya, di hari Minggu tersebut. Ia bangun pagi, bersantai sejenak sambil melihat handphone nya, tepatnya facebooknya. Ia mulai melihat-lihat isi facebook Bintang, dan pikiran pertama yang dipikirkan oleh Langit adalah cantik. Langit belum terlalu tertarik dengan Bintang saat itu, namun rasa penasaran nya, dan mendengar cerita dari teman-teman SMA nya yang mengenal Bintang juga, sehingga ia tertarik untuk juga mengenalnya. Akhirnya tak lama kemudian, Langit meng approve facebook Bintang, dan langsung memberikan message ke facebooknya Bintang. Kira-kira, begini isinya, "Hai.. Salam kenal Bintang. Thank you for adding me to your FB friend. Nice to meet you". Dari awal percakapan yang dimulai oleh Langit itulah, percakapan lainnya dimulai, sampai Langit memberanikan diri untuk meminta bertukar nomor handphone dan diberikan, sampai akhirnya obrolan itu berpindah dari message facebook, menjadi sms dan mengobrol lewat telepon. Rupanya Langit yang belum pernah bertemu dengan Bintang, mulai tertarik dengannya karena caranya mereka mengobrol, berkomunikasi, kecocokkan bahasan yang dibahas, sampai rasanya mudah untuk tertawa, dan selalu ada saja yang dibahas tidak ada habisnya. Sampai dua minggu hampir berlalu, yang menandakan libur akhir semester sudah hampir selesai. Bintang yang saat liburan berada di Jakarta, akan kembali menuju apartemennya di Bandung. Langit yang memang berada di Bandung, berniat untuk bertemu dengan Bintang. Tetapi, Langit masih bingung dan ragu, sehingga Langit memberitahu niatnya kepada Bintang dengan cukup mendadak hanya berselang satu jam sebelum Bintang berangkat menuju Bandung. Tak disangka, Bintang yang awalnya juga ada perasaan ragu apakah ini waktu yang tepat untuk bertemu, akhirnya menyambut baik pertemuan itu. Setibanya Bintang di apartemen nya, sekitar dua puluh lima menit, Langit pun tiba di apartemen Bintang dengan mobil Jeepnya. Langit turun dari mobilnya, menutup pintu mobilnya, kemudian berjalan dengan yakin namun sedikit gugup, ditambah dengan dinginnya angin malam udara Bandung yang menyengat. Langit melangkah maju, langkah demi langkah, terlihat sedikit menengok ke kiri ke kanan melihat nomor pintu apartemen nya, hingga akhirnya tiba di depan pintu apartemen Bintang. Sebelum mengetuk pintunya, Langit mengambil nafas cukup panjang, tanda kegugupan dan jantung berdetak semakin lama semakin kencang. Langit akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu apartemen nya. Bintang yang sedang bersantai di ruang tamunya setelah selesai membereskan beberapa barang yang dibawanya dari Jakarta, mendengar ketukan pintu itu. Bintang pun segera berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintunya sambil berkata, "Iya, sebentar aku buka pintunya..". Suara itu pun terdengar oleh Langit, dan secara spontan Langit tersenyum tipis, menandakan bahwa Langit sekilas mengingat kembali awal ia mengenal suara itu yang ia dengar lewat telepon. Terdengar suara kunci pintu yang menandakan pintu akan segera terbuka. Pintu terbuka dan saat itulah Langit melihat Bintang secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. "Hai.", kata Bintang kepada Langit. Dengan nada yang sedikit grogi, " Hai juga, Bintang. Akhirnya kita ketemu juga ya, gak lewat telepon lagi.", balas Langit. Mereka berdua tersenyum mendengar Langit bicara. Kemudian Langit mengulurkan tangannya, dan mereka pun berjabat tangan tanda mereka berkenalan secara langsung. Lalu Bintang sambil berkata, "Yuk, silahkan masuk saja." Langit pun melangkahkan kakinya perlahan untuk masuk ke apartemen Bintang, menaruh sepatunya di samping dekat pintu masuk, kemudian berjalan menuju ruang tamu untuk saling mengobrol. Saat malam itu menunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit. Tak terasa obrolan mereka sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit, dan mereka sama-sama belum makan malam. Langit mengajak Bintang untuk keluar makan malam sederhana ala anak kampus. "Bi, sudah makan malam belum?", tanya Langit. "Hmm, kebetulan belum sih, tadi pas sampai, beres-beres barang, terus gak lama kamu sampai, dan memang belum lapar juga tadi.", balas Bintang. "Kita makan malam diluar yuk? Sekalian kita lanjutin ngobrol-ngobrol kita.", lanjut Langit. Kemudian Bintang mengangguk menginsyaratkan bahwa Bintang mau untuk diajak makan malam diluar bersama Langit. Bintang segera bersiap, kemudian mereka berjalan keluar dari apartemen nya menuju parkiran mobilnya. Langit menyetir mobil dengan penuh kehati-hatian, sembari melanjutkan obrolan ringan, dan tak terasa tibalah mereka di tempat makan yang dituju. Mereka segera memesan beberapa makanan dan minuman, menyantap hidangan makan malam mereka, kembali berbincang, hingga saat Langit melihat jam tangannya sudah menunjukkan jam sembilan lebih tiga puluh lima malam. Langit mengajak Bintang untuk kembali ke apartemennya. Setelah tiba di apartemen, Langit mengantar Bintang sampai di depan pintu masuknya. Saat Bintang hendak masuk ke ruangannya, Langit memanggil nama Bintang sembari memegang pundaknya, katanya, "Bi, thank you ya sudah mau diajak keluar makan malam bareng aku. Hmm.. Kamu mau gak kapan kamu ada waktu, kita jalan bareng lagi, kita nonton mungkin?". Ternyata, di dalam hati Langit, dia sudah ada hati dan tertarik dengan Bintang, dan ingin mengenalnya lebih banyak lagi. Apalagi, proses berkenalan yang sudah dibilang lebih dari satu bulan, dihitung dari sejak libur itu, walaupun saat itu belum bisa bertemu. Rupanya, Langit tidak mau Bintang merasa terlalu lama untuk berkenalan. Kemudian Bintang menjawab, "Hmm.. Boleh kita nonton, hari Rabu sore aku bisa." Langit tersenyum agak lebar karena ia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Kemudian Langitpun pamit untuk pulang karena sudah cukup larut malam, apalagi besok kelas kuliah dimulai kembali.
Hari demi hari berganti dengan kegiatan kelas kuliah yang cukup padat, hingga tibalah hari Rabu yang dinanti oleh Langit. Rabu sore yang cerah, Langit sepulang kuliah langsung menuju ke apartemen Bintang untuk menjemputnya.