Menjaga rahasia serapat mungkin perihal kondisi yang sekarang menimpa Iman adalah hal paling utama untuk saat ini. Biar bagaimanapun juga, kelima sahabatnya merupakan orang-orang tajir dan borju yang suka pilih-pilih teman bergaul. Iman tidak ingin kondisi ekonominya bocor ke telinga mereka jika hidupnya ingin tetap dan terus baik-baik saja. Iman yakin, seumpama rahasia ini terbongkar, sudah dipastikan Rega yang paling terdahulu menendang Iman dari lingkup geng mereka. Jangan heran! Circle pertemanan mereka memang cukup mengerikan.
Ya, sudah satu bulan ini kehidupan Iman jungkir balik akibat orangtuanya menjadi korban investasi bodong oleh perusahaan yang ternyata tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan. Ratusan juta uang modal raib dibawa oknum dari perusahaan ilegal tersebut, membuat orangtua Iman shock dan mengalami depresi beberapa hari. Namun Iman masih beruntung, biaya sekolahnya telah lunas dibayar hingga ia lulus nanti, sehingga hal itu tidak perlu menjadi ancaman Iman untuk hengkang dari SMA Armada dan pindah ke SMA buangan. Meski demikian, rumah megahnya sudah disita oleh Bank untuk jaminan investasi perusahaan papanya yang kini telah bangkrut. Hal tersebut membuat Iman disuruh kedua orangtuanya harus tinggal di rumah kos berbiaya murah.
Setelah Delva, Rega, Rizal dan Fendi perlahan melajukan kendaraan masing-masing keluar dari area parkir murid, Iman secara sembunyi-sembunyi masuk ke dalam mobil Ronny. Ronny yang sudah stand bye di balik kemudi melirik Iman.
"Gila! Senam jantung gue." Iman menghela napas lega, takut ketahuan oleh teman yang lain bahwa ia kembali nebeng Ronny untuk ketiga kalinya.
"Lo kenapa harus diam-diam gitu sih, Man?" tanya Ronny sambil mulai menjalankan mobil.
Iman mendengus sebelum menjawab. "Ron, gue nggak mau ya kalau mereka ngelihat gue nebeng lo terus. Terutama Rega. Malu!"
"Malu?" Ronny tertawa pelan. "Terus kalau sama gue doang lo nggak merasa malu gitu?"
Iman tercekat sesaat. "Ya... ayolah, Ron. Bagi gue lo itu beda dari mereka, bro. Lo nggak akan ngehina-hina gue kalau gue berangkat ataupun pulang sekolah naik angkot."
"Kalau seandainya Rega tahu lo naik angkot, emang apa salahnya?" tanya Ronny dengan polos. "Sebelum lo nebeng gue gini, lo pulang naik angkot terus."
Iman menghela napas ke sekian kali. Memalingkan muka. "Lo kayak nggak tahu Rega aja. Dia ketua geng. Paduka Raja yang bisa seenaknya ngambil keputusan."
Ronny mengernyit, masih belum mengerti. Sekiranya raut seperti itu yang diperlihatkan Ronny saat ini.
"Oke, bokap lo kan tajir, daripada kelamaan nunggu motor lo di bengkel, mending minta dibelikan lagi, lah. Jadi lo nggak perlu gengsi lagi naik angkot, nggak perlu sembunyi dari kita-kita lagi," pungkas Ronny di tengah perjalanan. "Sori ya, Man. Bukannya gue keberatan nebengin elo, cuma itu saran aja biar lo nggak senam jantung mulu tiap hari."
"Ronny, udahlah jangan bahas soal nasib gue ini. Lo pikir gue diam aja? Gue udah minta bokap buat beliin motor baru, tapi apa? Gue malah dimarahin! Katanya... gue belum boleh beli motor lagi sebelum gue lulus SMA," sahut Iman, mengarang cerita. Untung saja saat ini ia bisa berpikir cepat.
"Ya... ya... ya..." Ronny manggut-manggut, berusaha untuk mempercayai omongan Iman barusan. Sekilas pandang, Ronny melihat ada yang mencurigakan di diri Iman. Cowok itu memutuskan untuk membiarkan hal tersebut terlebih dahulu sampai suatu fakta akan terkuak nantinya.
"Oh iya, Ron." Seketika Iman mengubah raut wajah menjadi lebih manis.
"Apa?" sahut Ronny cuek, fokus ke depan jalanan.
"Gue... boleh minjam uang lo nggak? Cuma lo satu-satunya temen yang bisa gue mintain bantuan." Iman menatap Ronny penuh harap.
Ronny menoleh sekilas. "Lo kenapa sih, Man? Aneh banget."
Iman berdecak. "Emang aneh ya kalau gue minjam uang? Tenang aja, Ron. Pasti bakal gue balikin kok."
"Bukan masalah balikin nggak balikin. Tapi lo kelihatan aneh aja... lo kan..." Ronny kembali melirik Iman. "Oke, lo butuh berapa duit emang?"
"Lo bawa cash berapa?" Iman mulai berbinar-binar.
"Di dompet gue cuma ada enam ratus ribu." Ronny merogoh saku belakang, mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah, sisanya warna biru.
"Thanks, Ron." Iman tersenyum lebar, menerima uang tersebut sebelum dimasukkan ke dalam kantung celana. Lumayan lah enam ratus ribu buat keadaan dan kondisi gue yang sekarang.
"Gue nggak tahu kenapa lo tiba-tiba aneh gini. Suka minta traktiran Delva, suka nebeng gue, terus sekarang malah minjam duit."
Iman speechless, ia tidak mengira Ronny berkata demikian seolah-olah tengah menodongkan pistol ke arahnya. Sesaat, Iman merasa bingung hendak menjawab apa.
"Tapi kalau lo masih butuh uang lagi, panggil gue aja, nanti gue transfer ke rekening elo," lanjut Ronny tak menyadari perubahan mimik wajah Iman barusan.
Mendengar omongan Ronny yang seolah akan memberikan harta karun, Iman melebarkan mata, diam-diam menyeringai senang. Ronny, Ronny, lo kelewat baik atau emang bloon.
"Wah, lo emang paling the best, Ron. Nanti gue kasih tahu nominalnya ya." Iman menepuk-nepuk bahu Ronny. "Oh iya seperti biasa, gue berhenti di halte depan aja ya. Nanti gue nunggu jemputan sopir bokap gue aja."
"Gue udah paham. Ini ketiga kalinya lo nebeng gue dan minta turun di halte." Ronny menukas kalem.
Iman mengangguk-angguk. Sama sekali merasa aman dan Ronny tidak terlihat mencurigainya.
Sesampainya di depan halte, Iman lekas turun dari mobil Ronny. Melambaikan tangan seraya tersenyum lebar, Iman menyuruh Ronny langsung jalan saja dan tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.
"Hahaha, dasar Roon! Ronny oon! Gampang banget sih lo ditipu." Iman menatap kepergian mobil Ronny, tersenyum lebar penuh kemenangan.
Tak membuang-buang waktu lagi dan takut kepergok anak-anak SMA Armada, Iman lekas balik badan, berjalan setengah lari menuju tempat pangkalan ojek.