Bintang Kematian: Pembully Berhak Mati!!

Prasetyo Adhi Suseno
Chapter #4

Bad Attitude

Army berjalan seorang diri dengan langkah gontai di tengah hiruk pikuk anak-anak bubar sekolah. Semua tampak memiliki sahabat masing-masing, saling bercanda, tertawa, meledek satu sama lain. Army menatap mereka dengan hati yang nelangsa dan penuh kebencian. Hanya Army satu-satunya anak yang tidak memiliki teman. Hampir tiga tahun, masa sekolah yang seharunya menjadi masa paling indah justru dirasa Army menjadi neraka dunia. Dijauhi sekelompok geng, tidak diterima sana-sini. Mencoba untuk menggoda cewek juga tidak pernah berhasil. Karena mereka telah menganggap Army seorang virus berjalan yang patut dihindari jika tidak ingin terkena penyakit. Dan perlu digarisbawahi, provokator dari awal mula masalah itu tentu saja ialah Rega and the Genk.

Army keluar dari gerbang sekolah, tatapan matanya dingin. Sebisa mungkin, Army bersikap acuh tak acuh. Lagi pula, Army sudah terbiasa mendapat lirikan penuh makna jijik dari semua murid di SMA Armada ini. Andaikan Army tidak teringat ayahnya yang dipenjara, mungkin Army lebih memilih pergi dan keluar dari sekolah ini, berkelana saja entah ke mana, asalkan bisa jauh dari kucilan anak-anak yang seharusnya menjadi sahabat karibnya.

"Ayah udah biayain sekolah gue sampai tamat, gue nggak boleh menyia-nyiakan hal ini." Army berjalan terus tanpa henti, tidak minat untuk pulang ke rumah Pamannya yang kini menjadi tempat tinggalnya. Di sana, Army diperlakukan seperti pembantu! Tantenya sendiri tega menyuruh Army tidur di kamar gudang, setiap hari harus membersihkan rumah sebelum berangkat sekolah serta segenap perlakuan buruk lainnya. Belum lagi, kekerasan fisik kerap kali dilakukan sang tante terhadap Army.

"Lihat aja. Suatu hari nanti, gue bisa nebus penderitaan gue ini! Gue bakal balas dendam kepada orang-orang yang udah jahat sama gue!"

Tanpa disadari oleh cowok berambut tebal itu, salah seorang cewek remaja yang duduk di jok belakang sebuah X-Pander sedang mencari dirinya. Mobil tersebut parkir di seberang jalan, bersatu dengan mobil-mobil lainnya. Begitu melihat sosok Army di kejauhan, sang cewek lekas berseru kepada sopirnya. "Itu dia, Pak, anaknya!"

"Yang mana, Non?" tanya sang sopir dengan setelan seragam hitam-hitam.

"Yang jalan sendirian, pakai jaket." Mata sang cewek terus menatap Army tanpa berkedip.

"Nona Clava... anak-anak yang memakai jaket terlihat banyak."

"Pak Hendri tolong fokus ke satu arah, satu-satunya cowok yang sendirian." Cewek yang ternyata Clava terus mengawasi gerak-gerik Army yang mulai melangkah menjauh.

"Oh yang pakai jaket belang-belang zebra?" Pak Hendri memastikan.

Clava menghela napas. "Nah iya betul. Buruan Pak Hendri turun. Ingat! Sesuai rencana ya, Pak. Habis cowok itu berhasil masuk ke mobil ini, Pak Hendri pergi dan nyari taksi buat pulang."

"Baik, siap, Nona Clava." Pak Hendri lekas turun, berjalan dengan langkah lebar menghampiri Army.

Di dalam mobil, Clava senyum-senyum sendiri. Cewek itu tidak memedulikan statusnya yang masih menjadi pacar Delva, sang bintang sekolah. Entah kenapa, Clava sangat tertarik dengan perangai Army. Cowok itu menyimpan sisi misterius yang cukup disukai oleh cewek seperti Clava. Menurut Clava, Army sangat berbanding terbalik dengan Delva yang beraura bintang dan terlihat friendly.

Pak Hendri dengan mudah berhasil menjajari langkah Army. "Apa benar kamu yang bernama Army?"

Army menghentikan langkah. Menatap orang asing yang tiba-tiba ada di sampingnya. "I... iya. Bapak siapa ya?"

"Saya orang suruhan dari seorang cewek yang sekarang lagi nunggu kamu di mobil itu!" Pak Hendri menunjuk X-Pander milik Clava.

Army mengernyit bingung. Siapa orang yang sedang menunggunya? Army sama sekali merasa tidak memiliki hubungan interaksi dengan orang lain.

"Cewek?"

"Percaya saja. Sekarang kamu ikuti saya!"

Army ragu, tidak yakin dengan omongan laki-laki yang seumuran dengan ayahnya itu. Karena merasa penasaran dan tidak peduli dengan tindak kejahatan apa pun, akhirnya Army mengikuti langkah Pak Hendri untuk mendekati mobil tersebut.

"Siapa–"

Pintu kaca mobil seketika terbuka, menghentikan ucapan Army.

"Army!" Clava tersenyum lebar.

"E... elo?" Dalam waktu singkat, Army segera teringat cewek bernama Clava ini yang kemarin sempat ingin digoda. Army juga ingat, cewek ini merupakan pacar dari Delva, salah satu cowok yang cukup dibencinya. Army mendengus, mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari sosok Delva yang mungkin sedang dinanti oleh Clava.

Mengerti perubahan ekspresi wajah Army, Clava berdecak pelan dan segera membuka pintu mobil.

"Buruan masuk!" Clava tersenyum lebar. Mampu membuat Army tak kuasa menolak ajakannya.

Dengan pelan karena sedikit ragu, akhirnya Army masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Clava.

"Ada apa? Kata bapak-bapak tadi lo nyariin gue? Apa nggak salah?" tanya Army kemudian, lalu menyadari bapak yang dimaksud sudah tidak terlihat di luar.

"Nggak salah kok. Tujuan gue datang ke sini emang buat nyari elo. Bukan mau ketemu Delva."

Jawaban dari mulut Clava berhasil membuat Army tertegun dan menatap mata Clava lekat-lekat. "Emang... lo mau apa?"

Clava memejamkan mata sesaat, merasakan sensasi berbeda saat suara Army terdengar begitu dekat di telinganya.

"Gue ingat, lo kemarin ngajakin gue jalan kan? Gue belum sempat jawab ajakan lo. Jadi sekarang, kita berdua jalan bareng ya!" Clava menyahut penuh rayuan. Bibirnya saat berbicara tercetak jelas di memori Army.

"Gue lagi nggak mimpi kan!" Dengan suara pelan, Army menepuk pipinya sendiri.

Clava terkekeh kecil. Menggeleng. "Enggak, Army. Lo nggak mimpi."

Army menatap manik mata Clava dalam-dalam. Seulas senyum tipis menghiasi wajah Army. Cewek ini... mudah ditaklukkan, gue bisa ambil dia dari sisi Delva!

"Gimana Army? Lo pasti mau dong?" Clava masih saja tersenyum. Sepertinya Clava tipikal cewek murah senyum. Mana senyumnya manis banget, sampai penulisnya saja kebayang-bayang.

"Nggak mungkin gue nolak ajakan cewek secantik elo, Clava." Army mulai berani, menyentuh puncak kepala Clava.

Clava menahan girang. Ini memang tujuannya.

"Lagi pula, gue lagi malas pulang ke rumah," lanjut Army setelah melepaskan telapak tangan di atas kepala Clava.

Clava mengangguk. "Gue tahu banget. Pasti ada masalah ya?"

Army tersenyum tipis.

Lihat selengkapnya