Bintang Kematian: Pembully Berhak Mati!!

Prasetyo Adhi Suseno
Chapter #5

Perkara Main Belakang

Tanpa diduga Army sebelumnya, Clava mengajak cowok kesepian itu jalan-jalan mengelilingi kota, menaiki KRL yang tidak pernah dirasakan oleh Army semasa hidupnya. Selama di dalam commuter line itu, Clava kembali memasang telinga untuk mendengarkan keluh kesah Army yang sangat pilu.

"Kenapa om lo nggak pernah membela elo saat lo dijahatin sama istrinya dia?"

"Entahlah, Cla. Gue rasa, om gue orang yang nggak peduli sama hidup dan mati gue." Army menyahut datar. "Kalau seandainya gue mati, gue rasa mereka nggak akan peduli."

"Pernah nggak sih terlintas di pikiran lo kalau suatu saat nanti, lo akan membalas semua perlakuan orang-orang yang udah bikin lo jadi seperti ini?" Clava sengaja bertanya hal demikian, ingin tahu secara pelan isi hati terdalam seorang Army.

Army mendengus. "Kalau gue ngelakuin itu, Delva pacar lo termasuk target gue. Emang lo mau kalau lihat Delva hancur?"

Clava mengangguk-angguk. Merasa jawaban dari mulut Army cukup masuk akal. Seandainya Army berniat untuk balas dendam dengan cara apa pun, tidak menutup kemungkinan kalau Delva akan menjadi salah satu korban.

Langit sudah mulai menghitam ketika Clava dan Army selesai hangout berdua. Menghabiskan waktu bersama di KRL rupanya belum cukup bagi Clava, cewek itu kini mengajak Army untuk bertandang ke rumahnya. Karena ini bagian dari rencana Clava.

"Masuk dulu ya ke dalam. Santai aja, ortu gue nggak ada kok." Clava memberhentikan mobil di depan rumah megah miliknya.

"Rumah sebesar ini lo cuma tinggal sendirian, Cla?" tanya Army dengan tatapan tertuju ke sekeliling bangunan. Baru pertama kali ia akan menginjakkan kaki di rumah bak istana.

Clava hanya tersenyum tipis. Tanpa diduga Army, tangan Clava menyentuh wajah Army secara perlahan. Army tak tahu maksudnya apa, tetapi cowok itu tidak menolak sentuhan tersebut. Desiran halus menyentuh perasaan terdalamnya.

Lambat laun, Clava mendekatkan bibirnya ke pipi Army, lantas dengan gerakan cepat, cewek itu melayangkan satu kecupan manis yang sukses membuat Army membeku. Tak memedulikan reaksi Army, Clava lekas turun dari mobil, berjalan ringan menuju akses pintu masuk rumah.

"Army! Lo mau di mobil aja?!" seru Clava, membuat Army buru-buru turun dari mobil dan mengejar Clava.

"Cla... lo...?" Army memegangi pipinya yang hangat.

"Why? Gue yakin pasti lo suka dapat first kiss dari gue. Jangan sungkan-sungkan kalau lo mau kiss balik gue." Clava tersenyum lebar, melangkah memasuki ruang tamu.

"Cla... mobil yang di parkir samping mobil lo tadi, mobil lo juga?" tanya Army yang mengikuti jejak Clava di belakang.

"Bukan. Itu mobil temen-temen gue. Mereka ada di sini kok." Clava berbalik badan, menatap Army dalam-dalam. "Mereka pengen lihat asupan manis, jadi gue bawa aja lo ke sini."

Sungguh, Army tak kuasa menyunggingkan senyum mendengar kata-kata yang dirasa mengandung pujian. Demi apa pun, gue bisa menjadikan Clava alat untuk menghancurkan Delva.

Clava memasuki sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk berlatih dance bersama teman-temannya. Clava memang dancer sejati, kepiawaiannya dalam menari ia gunakan untuk membangun klub seni dance dengan nuansa modern dan kekinian di sekolahnya.

Di dalam ruangan tersebut, sudah ada tiga sahabat Clava yang sudah menunggu sejak tadi. Begitu Clava membuka pintu, ketiga pasang mata segera menoleh bebarengan.

"Hai, girls. Tebak deh gue bawa siapa?" Clava tersenyum lebar, masih menyuruh Army untuk tetap di belakangnya.

"Ya ampun Clava nggak perlu main tebak-tebakan juga. Kita semua udah tahu kali. Lo bawa cowok yang kemarin lo singgung-singgung," sahut Olla, salah satu teman Clava yang tak kalah cantik.

"Aw... akhirnya gue bisa ngelihat dia," timpal Ressy dengan wajah merah.

"Kejutaaan!" Clava melebarkan pintu, lalu mempersilakan Army untuk masuk ke dalam ruangan yang mirip studio musik itu.

"Hai..." Army melambaikan tangan ke arah mereka sembari mengulas senyum.

"Siapa nama lo?" Olla mendekati Army.

"Army!" Clava yang menjawab, terdengar posesif. Sebenarnya, Clava dari jauh hari sedang menahan diri agar tidak melabrak Olla yang kegatelan. Sebab, Olla punya rahasia yang bersangkutan dengan Delva.

"UHH... ARMY!!" sahut ketiga sahabat Clava dengan kompak.

"Eh Army silakan duduk dulu." Clava menyilakan Army duduk di sofa yang tersedia.

"Lo mau coba main di belakang Delva?" Olla berbisik di telinga Clava.

"Atau lo mau menjadikan Army sebagai cowok cadangan?" timpal Milly dengan suara pelan.

Melihat Clava berbisik-bisik dengan para sobatnya, Army mengernyit, berusaha pasang ekspresi cuek.

Clava memutar bola mata, menoleh ke arah Army. "Ehm... Army, gue bikinin lo capuccino ya."

"Boleh, Cla." Army mengangguk.

"Lo tungguin sebentar ya, gue bikinin dulu." Clava lekas keluar ruangan, melangkah lebar memasuki kamarnya sebelum mengobrak-abrik isi lemari pakaian untuk ganti baju terlebih dahulu. Clava akan memilih pakaian yang cukup menggoda di mata cowok. Clava tidak ingin kehilangan momen.

Beberapa menit kemudian Clava kembali memasuki ruangan, memberikan secangkir capuccino ke hadapan Army. Sementara Olla, Milly dan Ressy tertawa cekikikan seraya berbisik satu sama lain. Mereka paham apa yang akan dilakukan Clava.

"Thanks, Cla..." Army menatap Clava yang kini sudah berganti seragam. Clava memakai pakaian seksi yang cukup membawa hasrat seorang lelaki untuk terus menatapnya tanpa kedip.

Lihat selengkapnya