Bintang Kematian: Pembully Berhak Mati!!

Prasetyo Adhi Suseno
Chapter #7

Menjemput Mati di Hari Ultah

Rega tinggal di rumah yang terpisah dengan kedua orangtuanya, ayah Rega bersama ibu serta adiknya tinggal jauh di luar kota. Sang ayah yang merupakan seorang pejabat memiliki aktivitas yang sangat padat, sementara ibunya yang berkecimpung di dunia bisnis juga selalu sibuk dan tak ada waktu untuk menengok anak pertamanya itu. Ya, mereka menjenguk Rega setiap beberapa bulan sekali, itu pun hanya salah satu perwakilan di antara pihak ayah atau ibu. Bagi Rega pribadi, hal tersebut tidak menjadi masalah jika kedua orangtuanya jarang berkunjung dan menanyakan kabar, asalkan uang saku bulanan lancar ditransfer sesuai kebutuhan yang diinginkan Rega.

Rega membunyikan klakson mobil begitu sampai di depan gerbang rumah. Pak Junaedi, seorang satpam yang ditugaskan menjaga keamanan rumah tersebut segera keluar dari pos satpam, membukakan gerbang untuk sang majikan.

"Lagi ngapain sih, Pak? Lama banget bukanya. Padahal saya udah bilang kan? Kalau jam pulang sekolah gini, harus stand bye di depan!" seru Rega menyempatkan diri untuk mengomeli Pak Junaedi.

"Maaf, Mas Rega." Pak Junaedi mengangguk. "Tadi habis–"

"Maaf mulu!" Rega mencibir, lantas memarkir mobilnya di garasi.

Begitu memasuki rumah yang tentu saja lengang, Rega terkejut saat mendapati Kiana tengah duduk di ruang tamu sembari asik membuka-buka majalah, gayanya begitu santai dengan menyilangkan kaki, membuat paha mulusnya sedikit terekspos lantaran rok mini yang dipakainya. Segelas jus jeruk segar terhidang di atas meja, menemani momen santai cewek itu.

"Astagadragon! Ngapain lo di rumah gue?!" Rega lekas berteriak, menatap tajam ke arah Kiana dengan rasa tidak suka.

"Eh hai... Rega darling. Kamu baru sampai? Habis dari mana aja?" Kiana dengan mudahnya tersenyum lebar ketika baru saja mendapat semprotan tajam. "Oh iya aku tahu, pasti habis jedag-jedug dulu ya sama temen-temen kamu?"

Rega menahan emosi. "Dasar cewek absurd! Nanya sendiri jawab sendiri."

Kiana hanya tersenyum, lantas beranjak dan melangkah mendekati Rega. "Tadi aku udah sempat belanja bahan-bahan di mini market. Aku mau masakin makan siang buat kamu. Kamu mau request apa, Re? Nanti bakal aku buatin yang paling spesial deh. Enak loh masakan buatan aku, Om Fauzan, papa kamu aja suka."

Rega melangkah mundur. "Lo ngga bisa ngerem suara lo ya?!"

"Yeah... this is me." Kiana mengedikkan bahu cuek

"Lo ngapain sih ada di sini?!"

"Loh... jelas dong. Aku disuruh Om Fauzan buat menemani kamu di sini biar kamu nggak merasa kesepian. Selain masak, aku juga nanti bakal menyetrika baju kamu, nyuci baju kamu, bersihin kamar–"

"Ooh jadi maksudnya lo disewa datang ke sini buat jadi pembantu?" Rega tertawa mengejek.

"Terserah sih kamu mau bilang aku pembantu atau apa. Tapi yang penting aku ini calon keluarga besar Om Fauzan. Aku calon tunangan kamu. Ingat, Rega, begitu kita lulus sekolah, kita bakal langsung tukar cincin." Kiana dengan pede menggelayut di lengan Rega.

"Najis lo! Nggak usah ngarep tinggi-tinggi jadi bagian keluarga gue! Lagi pula, gue nggak mau ya lulus sekolah langsung tunangan." Rega melepaskan diri dari cengkraman Kiana. Rega bahkan baru tahu fakta bahwa setelah lulus sekolah ia akan bertunangan dengan Kiana. Rupanya mama dan papanya tidak main-main soal perjodohan ini.

"Aku nggak ngarep. Om Fauzan udah–"

"Sampai kapanpun, gue nggak sudi berhubungan sama cewek alay kayak lo! Ngerti!" Rega mendekatkan wajah ke arah Kiana yang jauh lebih pendek darinya.

Usai mengatakan kalimat tersebut, Rega melengos dan memutuskan lari ke ruang atas, menuju kamarnya. Rega memang benar-benar tidak menyukai Kiana meski cewek tersebut cukup cantik dan enak dipandang mata. Rega tidak suka perangainya, Rega tidak suka dijodohkan. Intinya Rega tidak akan menerima Kiana menjadi kekasihnya, apalagi sampai jadi tunangan segala. Karena sejauh ini, hanya Clava satu-satunya cewek yang menjadi incaran hati Rega.

"Clava... hmm... udah putus sama Delva!" Rega melempar tas ke atas ranjang. "Ternyata gue nggak perlu repot-repot buat bikin mereka bubar."

Rega melepas kancing seragam sekolah, lalu dilemparkan dengan sembarangan. "Tinggal selangkah lagi gue bisa mendapatkan lo, Clava."

Rega tersenyum bengis, membayangkan segala rencana yang telah disusun bersama Rizal, Fendi, Iman dan Ronny akan berjalan mulus. Malam ini, rencana tersebut akan dieksekusi. Rega tak sabar menunggu waktu yang akan tiba.

Merasa gerah dan ingin segera mendapat rasa segar, cowok itu buru-buru menyambar handuk dan bergegas masuk kamar mandi pribadi.

Beberapa saat Rega selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dan terkejut setengah mati saat melihat Kiana berada di kamarnya sedang sibuk menata dan merapikan sudut-sudut ruangan. Seragam sekolah Rega sudah tergantung rapi di dekat lemari.

"Hai... udah selesai mandinya?" Kiana berpaling sebentar ke arah Rega yang hanya memakai handuk di pinggang. "Oh iya lupa. Kalau belum selesai pasti belum keluar ya." Kiana terkekeh sendiri.

Rega mengepalkan tangan. "Lo!! Lo cewek aneh yang pernah gue temuin! Ini kamar cowok woy, ngapain lo main nyelonong masuk tanpa permisi?!"

"Nih udah aku siapin baju yang bakal kamu pakai. Percaya deh, outfit pilihan aku nggak bakal mengecewakan." Kiana menunjuk t-shirt hitam, tracktop jaket dan celana jins sobek-sobek yang terhampar di sudut ranjang.

"Gue nggak butuh bantuan lo soal milih-milih baju. Lagian lo pikir gue mau ke mana?!"

Kiana yang sedang menyapu dan merapikan seprai terhenti sesaat. "Ooh yeah... betul juga. Seorang Rega nggak mungkin buta soal pemilihan outfit. Kalau kamu nggak suka ya udah, seenggaknya aku di sini bisa bersihin kamar kamu. Banyak debu tau, Re."

Rega geleng-geleng kepala, merasa tak habis pikir dengan papanya yang begitu sayang dengan Kiana sampai-sampai Rega harus menjadi korban sikap Kiana yang tidak diharapkan itu. Mendadak sudut pandang Rega mengarah ke atas langit-langit kamar.

"Eh cewek alay! Lo mau bantuin gue, kan?!" Rega meraih kemeja yang sudah disiapkan di lemari baju untuk dipakai malam ini.

"Yes. Apa yang bisa aku bantu, Rega Darling? Memakaikan kamu celana? Ups..." Kiana cekikikan. Rega melotot tajam. "Sori, aku cuma bercanda, Rega Darling."

"Stop panggil gue Rega Darling! Najis!"

Lihat selengkapnya