Bintang Kematian: Pembully Berhak Mati!!

Prasetyo Adhi Suseno
Chapter #8

Sang Drama King

"Sekali lagi gue peringatin! Jangan beritahu ke siapa pun juga tentang kejadian yang lo lihat barusan! Kalau lo sampai berani buka mulut untuk mengungkapkan kejadian yang sebenarnya, nyawa lo akan bernasib sama dengan Delva!" Rega mendesis, melayangkan ancaman untuk Kiana yang merupakan saksi mata atas kematian Delva sesungguhnya.

"Bener. Lo akan menanggung sendiri akibatnya, Kiana," timpal Fendi sambil meneliti penampilan Kiana yang terlihat seksi.

Ternyata cewek ini oke juga. Bisa gue jadikan dia target buat naikin income gue. Fendi membatin, mulai punya rencana untuk rahasia gelapnya.

Mendapat serangan berupa ancaman dari mulut-mulut cowok di hadapannya itu, membuat Kiana sedikit merasa terintimidasi. Bagaimanapun juga, Kiana bukanlah cewek pemberani yang bisa berkata tegas sebagai bentuk perlawanan terhadap sesuatu yang mengancam keselamatan hidupnya.

Kiana tidak merespon apa pun. Kalimatnya terhenti dan tak bisa diungkapkan. Berurusan dengan Rega, membuat Kiana harus ekstra sabar. Kalau bukan karena tuntutan sang ayah yang menyuruh Kiana untuk berusaha mengambil hati Rega, Kiana juga akan memilih tidak dekat-dekat dengan Rega.

"Ronny... lo... lo kok bisa..." Kiana geleng-geleng kepala, menatap Ronny yang sedang menunduk. Kiana merasa tak percaya jika Ronny, sahabat lamanya yang dahulu terlihat baik ternyata kini menjadi komplotan pembunuh.

"Diam!" Rega mendelik.

Usai menatap Kiana dengan tajam dan penuh peringatan, Rega melepas cekalan tangannya, lantas segera menginterupsi keempat sahabatnya untuk turun ke bawah. Mereka hendak melanjutkan skenario tahap berikutnya perihal kematian Delva ini.

Sesampainya di depan mayat Delva yang tergeletak malang, Rizal, Iman dan Fendi segera mengangkat tubuh Delva untuk dibawa ke suatu tempat. Rega lekas menghapus jejak-jejak darah dengan mengepel lantai, menyemprotkan sekeliling tempat dengan pewangi. Sementara Ronny ditugaskan Rega untuk mengelabui Pak Junaedi supaya satpam tersebut tidak melihat Rizal, Fendi dan Iman yang tengah menggotong manusia tak bernyawa untuk diangkut ke dalam mobil.

"Ronny! Gimana? Beres?" Rega menghampiri Ronny yang baru mengunci pintu gudang.

"Beres, Re, Pak Junaedi udah gue kurung di gudang. Beliau pura-pura gue suruh buat mencari kunci Inggris yang lo butuhin," pungkas Ronny, menjelaskan tugasnya.

Rega manggut-manggut, kentara menahan tawa.

"Cuma itu yang bisa gue pikirin," kata Ronny lagi.

Rega merangkul pundak Ronny, mulai melangkah pergi. "Nggak masalah, yang penting Pak Junaedi nggak curiga. Oke, sekarang saatnya kita sempurnakan rencana kita."

Jadi, sesuai rencana yang telah disepakati bersama, Rega akan memanipulasi kematian Delva dengan cara dibuat seolah-olah itu merupakan sebuah kecelakaan. Dengan begitu, mereka bisa terbebas dari tuduhan yang menyeret nama mereka masing-masing. Terlebih lagi, mereka semua dikenal sebagai sahabat baik Delva, sehingga Rega teramat yakin tidak ada pihak yang mencurigai kematian Delva ada sangkut pautnya dengan mereka.

Begitu kelima remaja tersebut sampai di tempat eksekusi, yaitu sebuah jalanan lengang, Rega yang mengendarai mobil Delva sengaja memposisikan mobil ke arah tiang listrik. Rizal dan Iman dengan sekuat tenaga mengatur tubuh Delva agar berada di bawah pintu kemudi. Kemudian Ronny dan Fendi menghancurkan bumper depan sampai penyok, kaca dipecah hingga serpihannya menjatuhi wajah Delva. Hal itu dibuat seakan-akan Delva mengalami kecelakaan dengan tragis, menabrak tiang listrik hingga tubuhnya terpental keluar mobil.

"Aman, gays." Rega berusaha untuk menenangkan teman-temannya yang spot jantung selama melakukan eksekusi skenario tersebut. Keringat dingin membanjiri wajah mereka. "Gue yakin kita semua aman dan nggak perlu ada yang ditakuti. Oke?"

Keempat sahabat Rega kompak mengangguk dengan tampang panik.

"Ya udah sekarang lo cepet lanjutin skenario ini, Re. Telepon bokapnya Delva." Fendi mengingatkan.

Rega mengangguk cepat, mengeluarkan ponsel untuk menelepon ayahnya Delva.

"Bener, Re. Gue udah pengen cepet pergi dari sini. Mendadak gue merasa merinding." Rizal mengusap-usap tengkuk.

"Sama, Zal. Gue ngerasa kayak ada yang ngintai kita." Iman mengedarkan pandangan ke sekeliling yang tentu saja tampak sepi.

"Mungkin itu perasaan kita aja." Ronny menukas tanpa diduga. Cowok paling tenang di geng mereka itu tampak kalem menjalankan rencana ini. "I mean, kita semua baru saja menyelesaikan pembunuhan berencana, jadi itu hal wajar kalau kita dihinggapi rasa parno."

"Ronny bener. Kita cuma parno doang. Nggak mungkin ada orang yang mengintai kita," tukas Rega yang sedang menempelkan ponsel ke daun telinga. "Terhubung, tapi belum diangkat juga sama Om Robert."

Untuk mengusir rasa panik, Iman memutuskan mantau situasi, cowok itu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat. Jalanan kosong, hanya ada tiang-tiang listrik berjejer, bersatu dengan lampu jalan maupun tanaman pohon palem.

"Hallo, Om Robert!" Terdengar suara Rega. "Ini Rega, Om, sahabatnya Delva. Saya mau ngabarin kalau Delva mengalami kecelakaan, Om. Dan dia... udah meninggal dunia."

Akhirnya setelah tiga tahun lamanya, nggak lama lagi, tahta sang bintang akan menjadi milik gue seutuhnya. Rega tersenyum miring setelah menyelesaikan rencana ini dengan matang.

...

"Pengumuman-pengumuman! Diberitahukan kepada seluruh warga SMA Armada agar segera berkumpul di lapangan sekarang juga. Semuanya! Dimohon berkumpul!"

Atas persetujuan kepala sekolah, Rega akan mengumumkan kematian Delva di hadapan seluruh murid SMA Armada. Anak-anak yang belum mengetahui kabar tersebut saling berbisik-bisik satu sama lain. Mereka kompak menatap Rega yang berdiri di podium, memegang mik dengan ekspresi penuh kesedihan.

Beberapa saat setelah hampir semua penghuni SMA Armada berkumpul, Rega memejamkan mata sebelum berdeham untuk membuka suara. "Saya berdiri di sini atas izin dari bapak kepala sekolah, ingin memberitahukan kepada teman-teman semua, bahwa salah satu sahabat kita, sang bintang sekolahan yang bersinar, Delva Antonio... telah meninggal dunia karena kecelakaan tragis yang dialaminya semalam."

Sontak saja semua mulut menganga lebar, raut penuh rasa tak percaya menyelimuti wajah-wajah mereka. Tidak sedikit pula para fansgirl Delva segera membekap mulut, mulai menangis pelan.

Lihat selengkapnya