Bintang Kematian: Pembully Berhak Mati!!

Prasetyo Adhi Suseno
Chapter #9

Mulai Muncul Teror

Sampai detik ini, setelah satu Minggu berlalu, Rega benar-benar aman dari kasus pembunuhan berencana yang sudah berhasil merenggut nyawa Delva. Cowok manipulatif itu patut diacungi dua jempol atas akting yang diperankan dengan apik di mana ia pura-pura mengalami shock berat akibat kematian sahabatnya itu.

Rega bercerita di hadapan Om Robert, bahwa Delva mengalami kecelakaan lantaran ketika sedang perjalanan menuju rumah Rega, kondisi Delva berada dalam pengaruh alkohol. Saat menceritakan hal itu kepada ayahnya Delva, Rega benar-benar piawai dalam bersandiwara. Rega memasang wajah sedih dan penuh kehilangan.

Dalam keremangan lampu kamar, Rega berjalan ke arah jendela lalu menatap langit malam yang penuh bintang bersinar. Seulas senyum lebar tersungging di bibir Rega.

"Sekarang, tahta bintang sekolah yang bersinar sudah menjadi milik gue. Kekuasaan penuh berada di tangan gue."

Ya, menjadi yang sempurna adalah ambisi seorang Rega. Lama sudah ia menanti momen menjadi panglima paling terdepan di SMA Armada, bukan hanya sekedar menjadi bayang-bayang Delva saja. Serta menjadi bintang bersinar seperti yang pernah Delva rasakan selama ini. Segala posisi yang pernah Delva sandang sudah mulai tampak akan berpaling kepada Rega, tentu saja dengan pembawaan karakternya sendiri.

Rega menutup jendela, lantas hendak turun ke lantai bawah untuk menyegarkan tenggorokan. Rega baru sadar kalau ternyata Kiana masih berada di rumah ini, sedang asyik membaca seraya berbaring di sofa depan televisi.

"Good night, Rega!" sapa Kiana tanpa menoleh sedikit pun kepada Rega.

"Apa cewek alay itu marah sama gue? Kok dia kelihatan cuek banget." Rega membatin sembari menuangkan air mineral ke dalam gelas.

"Dih bodo amat mau dia marah atau engga. Bukan urusan gue." Rega bergidik.

"Besok pagi aku pamit pulang dulu ya." Kiana mengambil posisi duduk. "Tapi semua baju-baju kotor kamu udah aku cuci kok. Barusan juga udah aku setrika seragam buat besok."

"Eh cewek alay! Ingat! Ancaman gue kemarin malam nggak main-main ya! Gue nggak segan-segan melakukan apa–"

"Rega!" Kiana meletakkan novel di tangannya dengan sedikit kasar. "Sori, aku udah berusaha buat nggak ngungkit-ngungkit soal kasus kamu. Jadi harusnya kamu nggak usah mengancam aku ini-itu!"

"Cewek kayak elo, sewaktu-waktu bisa membocorkan rahasia gue dan temen-temen gue ini ke ranah publik. Jadi, gue tekankan terus soal ancaman gue kalau lo masih ingin terus melanjutkan hidup." Rega menatap Kiana nyalang.

"Kamu tenang aja, Rega, aku nggak bakalan berani membocorkan rahasia gelap kalian ke siapa pun kok. Asalkan, izinkan aku untuk tetap menuruti kemauan orangtua kita soal perjodohan ini."

"Apa lo nggak bisa buat menolak perjodohan ini? Lagian emang lo sudi punya calon tunangan yang kriminal kayak gue ini?" Rega malah tersenyum miring, mendekatkan wajahnya ke wajah Kiana.

Kiana tersenyum, ada sedikit rasa takut ditatap Rega dalam jarak dekat seperti itu. "Enggak, aku nggak masalah kalau punya calon tunangan kayak kamu. Aku yakin kok, kamu sebenarnya baik. Cuma... cara kamu aja yang salah."

Rega mendengus. Gombal sekali kata-kata cewek di hadapannya ini. Namun tanpa Rega ketahui, Kiana melakukan semua itu demi sang ayah. Kiana tidak ingin kondisi jantung sang ayah kembali kumat lantaran ia menolak segala permintaan dan keinginannya. Pernah suatu kali saat Kiana menentang kemauan ayahnya itu, tiba-tiba beliau terkena serangan jantung dan sampai dilarikan ke rumah sakit. Kiana tidak ingin kehilangan ayahnya setelah ibunya terlebih dahulu meninggal beberapa tahun lalu. Maka dari itu, segala apa pun perintah dari mulut sang ayah adalah suatu kewajiban bagi Kiana untuk dijalankan, suka atau tidak suka.

"Plis, Rega. Aku akan tutup mulut! Janji!" Kiana memegang lengan Rega, menatap penuh harap.

"Oke, gue pegang erat kata-kata lo."

Kiana tersenyum lebar. Mengecup pipi Rega dengan cepat sebelum cewek itu berbalik badan, mengambil tas di sudut ruangan.

"Sepertinya aku pulang sekarang aja deh. Ehm... minta diantar Pak Junaedi."

Rega yang masih terpaku di tempat hanya mengedikkan bahu tak peduli. Bagus, meskipun Kiana akan selalu menjadi pengganggu dalam hidupnya, tapi setidaknya Rega merasa lega lantaran untuk sekarang cewek itu berdiri di pihak Rega.

"Oh iya." Kiana putar badan. "Lain kali, jangan tega-tega ngurung Pak Junaedi di gudang ya."

Rega mendengus terang-terangan, sudah menduga jika Pak Junaedi terbebas dari gudang karena dibantu oleh Kiana kemarin malam.

"Ya udah, see you bye-bye, Rega. Jangan lupa untuk selalu tersenyum meski hari-hari lo nanti akan berat."

Kiana melambaikan tangan, menghilang di balik ruangan. Rega mengerutkan kening atas ucapan Kiana barusan.

"Hari-hari berat? Apa maksud cewek alay itu?"

Berusaha tak menghiraukan perkataan Kiana lagi, Rega lekas berlari menaiki tangga menuju kamarnya, mematikan lampu sebelum menjatuhkan diri di atas ranjang.

***

Rega tak perlu repot-repot mengganti seragam tim bernomor punggung 7 itu dengan pakaian lain. Ia lebih memilih mengemasi seragam putih abu-abunya ke dalam tas ransel yang tersimpan di loker ruang ganti. Rega dan teman sekelasnya baru saja usai melaksanakan pertandingan sepak bola melawan adik kelasnya.

Kini matahari telah berisitirahat ke peraduannya. Suara jangkrik berkolaborasi dengan suara burung gagak terdengar dari kejauhan. Gelap yang menyelimuti ruangan mengharuskan Rega menghidupkan penerangan.

"Kebangetan banget itu anak-anak. Masa gue ditinggal sendirian gini. Katanya solider? Tapi apa nyatanya? Dasar payah." Rega bermonolog, siap menyandang tas ketika lampu di ruangan itu tiba-tiba berkelap-kelip. Hidup-mati seperti korslet.

"Woy siapa tuh? Nggak usah bercanda!" Rega mengencangkan volume suara. Menatap sekeliling, Rega baru menyadari bahwa saklar lampunya tak berada jauh dari pandangan. Tidak ada siapa pun di sana, itu artinya tidak mungkin ada yang bercanda.

Lihat selengkapnya