Bintang Kematian: Pembully Berhak Mati!!

Prasetyo Adhi Suseno
Chapter #11

Diintai Sang Peneror

Lepas dari jalur utama jalan raya, Fendi mengendarai motor Honda CBR keluaran terbaru itu dengan ngebut. Ia menikmati sensasi tersebut, seolah jalan pintas menuju rumah Rizal itu memang menjadi hak paten miliknya.

Namun rupanya Fendi tak menikmati perjalanan itu dalam waktu lama. Ketika memasuki kompleks tanah lapang yang sepi, tiba-tiba motornya melaju semakin pelan hingga berakhir terhenti tepat di tengah tempat sepi nan gelap.

"Kenapa ini motor gue? Perasaan bensin full. Kenapa mogok?" Fendi turun dari motor, mencoba memeriksa kedua ban. Aman. Rasanya ada yang aneh, motor mogok secara mendadak tanpa sebab yang jelas.

Berpikir positif, Fendi mencoba menstarter motornya beberapa kali. Hasilnya nihil. Tidak berhasil.

Fendi sontak panik saat menyadari begitu seram dan gelap tempat sekarang ia berada. Sembari menengok ke sekitar, Fendi menghubungi Iman.

"Man, lo di mana sekarang? Tiba-tiba motor gue mogok di tempat sepi gini," ujar Fendi begitu sambungan diangkat.

"Kok bisa mogok?" Iman bertanya dengan bloon.

Kali ini Iman memang tidak menebeng Ronny seperti biasa lantaran Ronny beralasan bahwa mobilnya sedang dipakai mamanya ke luar kota. Ronny bilang akan ke rumah Rizal memakai tumpangan taksi online. Karena tidak punya dana lebih, akhirnya Iman memutuskan untuk menebeng Fendi. Dan sekarang di sinilah Iman berada, menunggu Fendi. Ia duduk di halte yang cukup gelap. Hanya ada lampu dengan penerangan yang terpasang di atas atap halte.

"Mana gue tau, Man. Mau balik lagi tapi gue rasa nanggung banget. Lo sekarang di mana?" Fendi kembali turun dari sepeda motornya, menjepit ponsel di antara pundak dan telinga, sementara kedua tangannya memutuskan menuntun sepeda motor. Kali saja ada orang di sekitar yang bisa dimintai tolong. Begitu pikir Fendi.

"Gue nunggu di halte SMP 48. Gila, Fen, di sini lebih sepi daripada kuburan."

"SMP 48? Oke, lo bisa sambil jalan nunggu gue di jalur persimpangan blok 4AB, itu yang paling deket dari posisi gue."

Iman menggaruk rambut, beranjak berdiri dan menengok ke sekitar. Memperbaiki tas di gendongannya, Iman memutuskan berjalan ke tempat yang dimaksud setelah setuju dengan usul Fendi.

Fendi mulai berkeringat dingin, jantungnya berdegup kencang, napasnya mulai tidak teratur. Kombinasi rasa lelah dengan rasa takut yang menjadi satu. Terlebih pada detik Fendi mengambil napas dalam-dalam, tiba-tiba terdengar sebuah derap langkah kaki di belakangnya. Tidak, Fendi belum berani menengok ke sumber suara itu. Ia lebih memilih fokus untuk tetap menuntun motornya.

***

Sebuah klakson terdengar berkali-kali di depan rumah Rizal. Rega sudah datang terlebih dahulu, membuat perasaan Rizal sedikit lebih lega.

"Lo ketiduran ya? Udah gue bunyiin klakson seribu kali nggak keluar juga!" ujar Rega saat Rizal sedang membukakan pintu gerbangnya.

"Sori Re tadi gue habis dari kamar mandi." Rizal nampaknya masih belum bisa cerita soal sosok bertopeng tengkorak yang dilihatnya tadi kepada Rega.

Setelah Pajero itu terparkir, Rizal tak menutup rapat pintu gerbangnya untuk memudahkan Fendi, Iman dan Ronny langsung masuk ke dalam nanti.

"Zal, lo nggak habis lihat setan kan?" Rega sengaja mencairkan suasana yang sedikit tegang. Terlebih lagi Rega bisa melihat wajah Rizal yang pucat.

Mereka berdua kini sedang berjalan menuju kamar Rizal di lantai bawah. Rizal dan kedua orangtuanya memang lebih banyak menghabiskan ruang-ruang pribadinya di lantai bawah, sehingga di lantai dua jarang dijamah kecuali sang pegawai yang harus rutin membersihkan. Rizal sendiri juga merasa tidak berani naik-naik ke lantai atas yang seolah-olah berpenghuni makhluk tak kasatmata bekas pemilik rumah yang dulu. Menurut penuturan Mbak Yanti—pengurus rumah, ia sempat beberapa kali melihat kejanggalan di lantai dua itu, salah satunya ketika ia melihat darah yang merembes dari sela-sela keramik. Itulah sebabnya Rizal segera mengontak sobatnya untuk menemani malam ini.

"Re, nggak usah ngungkit-ngungkit hal kayak gitu." Rizal menjawab lesu.

Rega manggut-manggut. "I know, pasti ada sesuatu. Ayolah cerita!"

Rizal menyalakan televisi pribadi di kamarnya. Lalu duduk di sofa sambil membuka minuman kaleng. "Tadi habis gue nelepon lo, gue ngelihat sosok aneh kayak pakai jubah dan topeng tengkorak gitu. Dia berdiri di halaman depan kamar gue, seolah sedang mengintai gue, Re."

Gerakan Rega yang sedang mengisi daya ponsel di salah satu stopkontak terhenti. Sosok bertopeng tengkorak?

"Serius lo?"

"Buat apa gue bohong, Re? Dan dia... bawa benda tajam semacam kapak."

Rega melotot. Sosok itu pastilah yang mengaku-ngaku sebagai Bintang Kematian. Sosok yang rupanya tidak main-main untuk meneror mereka semua.

Lihat selengkapnya