Fendi sudah mengucurkan keringat di sekujur tubuh. Rupanya sosok bertopeng tengkorak itu berjalan mengikutinya. Semakin lama semakin membuat jantung Fendi berdegup kencang tak karuan. Apalagi kapak di genggaman tangan sosok itu begitu mengkilat tajam, siap menebas apa saja yang dikehendakinya, termasuk tubuh Fendi yang malang. Fendi mengumpulkan segenap keberanian. Tidak ada jalan lain selain lari secepat mungkin. Tapi bagaimana dengan motornya? Ia mencoba naik ke atas motor seraya menghidupkan mesin. Ternyata berhasil.
Menghela napas lega, Fendi segera memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh. Menghiraukan sosok bertopeng tengkorak itu yang masih mengikutinya atau tidak.
Sementara Iman yang sedang menunggu di depan warung yang sudah ditutup ternyata terlelap tidur di kursi panjang. Ia sama sekali tidak menyadari saat Fendi berusaha membangunkan.
"Man... Iman lo belum mati, kan?" Fendi tak perlu repot turun dari sepeda motornya. Dia hanya berseru. "Woy bangun!"
Iman memicingkan mata, perlahan kesadarannya utuh, lantas segera berjalan cepat ke arah Fendi.
"Gila, udah jam berapa ini?" tanya Iman begitu duduk di belakang Fendi. Iman baru ingat bahwa jam tangan mahal miliknya sudah terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Fendi tak menyahut, memilih melajukan motor dengan kecepatan semakin penuh.
"Jangan tanya hal yang nggak penting. Dari tadi gue lagi dikejar-kejar sama Bintang Kematian, Man. Gila, lo nggak tahu rasanya jadi gue yang mau mati," ujar Fendi setelah beberapa saat.
"Keterlaluan! Ternyata teror Bintang Kematian nggak main-main! Kita harus secepatnya membongkar siapa dia sebenarnya," sahut Iman dengan segenap emosi yang dirasakan.
***
Setelah beberapa menit yang terasa begitu lama, Rega dan Rizal akhirnya sampai juga di lorong menuju dapur dalam keadaan masih gelap gulita. Mereka hanya mengandalkan cahaya senter yang tidak terlalu terang. Aura mencekam sangat kerasa di ruangan tersebut. Hawa dingin membuat bulu kuduk Rega dan Rizal berdiri.
Rega meringis, memegang perutnya. "Zal, lo nggak ada persediaan makanan atau camilan gitu?"
"Gila lo, Re. Situasi lagi kayak gini masih aja mikirin makanan."
"Gue laper, sob. Lagian gue harus mikirin apa? Udah gue bilang kan, jangan tunjukin rasa takut kita sama ancaman dan teror dari Bintang Kematian."
"Masalahnya ini menyangkut nyawa kita berlima, Re. Bintang Kematian nggak main-main buat meneror kita," tukas Rizal sambil membuka-buka lemari dapur untuk mencari lilin.
Rega berdecak. "Tenang aja. Sebelum Bintang Kematian membunuh kita, gue pastikan kalau kita semua berhasil mengungkap kedok dia yang sebenarnya."
Rizal tidak terlalu yakin dengan perkataan Rega barusan. Baru diteror seperti ini saja mereka tampak sudah kewalahan dan merasa parno. Hal itu membuktikan sekali bahwa mereka memang cukup takut terhadap sosok Bintang Kematian.
"Finally! Lilinnya ketemu!" Rizal mengambil satu kotak lilin sekaligus.
"Gue udah ada korek. Buruan langsung bawa semua aja." Rega mengambil alih senter di tangan Rizal. Berjalan mendahului Rizal keluar area dapur.
Baru saja mereka hendak kembali berbelok ke arah kamar, langkah Rizal terhenti lantaran jendela di ruang tengah berputar dengan bunyi pelan, lantas membuka dengan sendirinya.
"Kenapa lo?" Rega menyorot dengan senter wajah Rizal yang tegang. Berdiri kaku menatap arah jendela yang sudah terbuka sempurna.
"Re... dia... kembali."
"Dia siapa? Lo ngelihat apa, Zal?" tanya Rega dengan tatapan selidik.
Rizal menggeleng pelan. Matanya menatap lurus ke arah jendela yang terbuka itu, melihat sosok sahabat mereka yang sudah meninggal tengah berdiri tegak dengan kondisi wajah penuh darah.
"Delva..." Rizal mengucapakan nama itu dengan suara bergetar.
Rega terkesiap, seketika tengkuknya merasa dingin. Desiran angin malam masuk ke dalam ruangan, melengkapi suasana yang kian mencekam.
"Rizal, jangan bercanda." Rega mendesis.
"Delva... dia... gue rasa dia dendam sama kita." Rizal semakin menunjukkan rasa tegang.
Dengan memberanikan diri, akhirnya Rega menoleh ke belakang, ke tempat di mana Rizal melihat sosok Delva. Rega tercekat saat melihat Delva dengan kondisi yang sama persis dalam mimpinya. Wajah yang dulunya tampan dan penuh pujian kini terlihat begitu menyeramkan. Darah memenuhi sekujur wajah Delva yang pucat. Pakainnya hitam, tatapannya sendu. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya.
Melihat gelagat tersebut, Rega mengambil sebuah sapu ijuk yang berada di dekatnya. Cowok itu dengan sombong melempar sapu tersebut ke arah jendela. Sapu melesat cepat. Tidak ingin mendapati sesuatu yang lebih mengerikan, Rega sontak menarik tangan Rizal, berlari kencang. Baru saja mereka lari, lampu kristal di atas mereka bergerak-gerak sebelum jatuh dan pecah berkeping-keping.
Di antara kegelapan malam, mereka berdua berlari dan terus berlari seolah jalan yang mereka lewati begitu panjang. Padahal Rega dan Rizal hanya ingin mencapai pintu utama untuk keluar rumah.
Ketika mereka sampai di ruang depan, Rega lekas membuka pintu. Dalam waktu yang bersamaan, dua orang lain tiba-tiba hendak masuk ke dalam rumah. Akibatnya mereka semua saling bertabrakan hingga membuat Rega dan Rizal terjungkal ke belakang, jatuh ke lantai.