Berhubung mobilnya akan dibawa ke sekolah, Rega tidak perlu susah payah memasukkan Pajero tersebut ke dalam garasi. Tidak peduli parkir sembarangan di depan rumah, Rega melangkah lebar menuju ke dalam, mengabaikan Pak Junaedi yang terlihat sayu karena mengantuk.
Begitu sampai di ruang tengah, tentu saja Rega segera mendapati keberadaan Kiana yang sedang sibuk menata menu sarapan di meja makan. Melihat kemunculan Rega, cewek yang sudah rapi memakai seragam sekolah itu menyunggingkan senyum manis.
"Well, hello... selamat pagi, Rega?"
Rega berdecak, hanya menatap Kiana dalam diam.
"Udah aku duga sih kalau semalam kamu pasti nggak pulang. Nginap di rumah siapa? Ah iya pasti salah satu temen kamu dong. Hmm... pantesan aja pintu kamar kamu dikunci rapat, padahal tadi aku mau bersih-bersih di sana loh."
Rega tersenyum puas lantaran berhasil membuat Kiana tidak bisa seenaknya nyelonong masuk ke dalam kamarnya. Meskipun niat Kiana baik yaitu untuk membersihkan ruangan, tetapi Rega merasa tidak nyaman jika cewek tersebut melanglang buana ke ranah privasinya.
"Hello, kok kamu bengong? Lagi terkesima sama kecantikan aku ya? I know... setiap waktu, I'm so pretty."
"Najis! Dasar cewek kepedean! Nggak pernah ngaca ya lo!" Rega membuang muka.
"Hmm jangan salah, kaca adalah sahabatku setiap hari, Re.... jadi, aku selalu ngaca kok. Dan kata kaca, aku tuh selalu cantik dan manis."
Rega menjambak rambutnya sendiri. "Selain alay, ternyata lo juga gila!"
Kiana memasang raut cemberut. "Iih jahat... ya udah gih buruan kamu siap-siap, habis itu kita sarapan bareng ya. Aku udah masakin ini semua buat kamu, aku dan Pak Junaedi."
Keramahan dan sikap manis dari Kiana itu sama sekali tidak manjur untuk membuat Rega merespon lebih baik. Bagi Rega, cewek itu hanyalah benalu yang sekedar menumpang di rumahnya saja. Tidak ada hasrat di diri Rega untuk mencintai Kiana sedikit pun. Karena sejauh ini hanya Clava yang ada di hati Rega. Clava adalah cewek yang sudah ditaksirnya semenjak dulu. Bahkan sejak Delva belum mengenal Clava.
Rega mendengus, memilih tak menghiraukan cerocosan Kiana yang menurut Rega begitu sangat mengganggu dan memuakkan.
Rega menaiki dua anak tangga sekaligus seraya merogoh kantung celana untuk mengambil kunci kamar. Setelah berhasil ditemukan tanpa hambatan, Rega membuka pintu kamar dan betapa terkejutnya cowok itu saat melihat kondisi kamarnya yang sudah berantakan.
Jendela kamar yang tadi malam dibiarkan terbuka sudah menutup rapat. Seprai ranjang sudah acak-acakan, selimut membentang kusut di lantai, furnitur-furnitur serta berbagai aksesoris di kamar Rega juga sudah berpindah-pindah tempat.
Rega mengepalkan kedua tangan. Ia berjalan memasuki kamar, mengedarkan pandangan lebih lanjut untuk memindai sesuatu yang mencurigakan. Namun tanpa sengaja mata Rega justru menemukan keberadaan lima foto yang tertempel di dinding, posisinya sama persis dengan teror yang ada di toilet waktu itu.
Rega membaca tulisan darah di atas jejeran foto-foto tersebut.
AKUILAH KEJAHATAN KALIAN! ATAU LEBIH BAIK PEMBULLY SEPERTI KALIAN MATI!!
Bintang Kematian.
Rasa panik, takut dan emosi bercampur menjadi satu. Rega semakin tercekat saat menyadari bahwa foto dirinya dan keempat sahabatnya terdapat tulisan DEAD. Dimulai dari Iman Dead - 1 hingga sampai paling ujung foto Rega dengan tulisan Dead - 5.
Rega menghidupkan ponsel. Cowok itu mengarahkan kamera ke arah dinding yang berisi teror tersebut untuk ditunjukkan kepada temannya nanti. Setelah selesai, Rega menyaku ponsel dan segera bergegas kembali turun ke bawah untuk menghampiri Kiana.
"Woy cewek alay!" Suara Rega mengagetkan Kiana yang sedang duduk santai menikmati sarapan.
Kiana nyaris tersedak, tetapi segera bisa menguasai diri. Kiana meminum segelas air putih sebelum menatap Rega ingin tahu.
"Ada apa, Rega? Kok muka kamu pucat gitu?"
"Lo... pasti elo Bintang Kematian, kan? Ngaku aja lo! Kebangetan! Padahal udah gue peringatin lo beberapa kali supaya lo jangan berani main-main sama gue!" Rega mencekal lengan Kiana dengan kencang.
"Rega... maksud kamu apa? Kok bawa-bawa kematian? Aku nggak–"
"Nggak ada tersangka lain yang bisa mengakses kamar gue selain elo buat mengobrak-abrik isinya. Jadi elo satu-satunya orang yang menjadi tersangka atas teror yang menimpa gue dan temen-temen gue." Rega berkata tajam dengan tatapan mata yang menusuk.
"Rega... mengobrak-abrik kamar? Siapa...? Bahkan aku nggak bisa masuk kamar kamu sama sekali." Kiana tampak panik ditatap Rega yang seolah-olah hendak memangsanya.
"Lebih baik lo jujur dari sekarang, mau lo tuh apa?!"
"Aku bener-bener nggak tahu Re kamu ngomong apa." Kiana berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Rega yang kuat.
Rega mendengus, lantas berkata dengan intonasi yang lebih jelas. "Elo... elo Bintang Kematian, kan? Elo pelaku teror yang gue dan temen-temen gue alamin."
Kiana menganga, terlihat bingung atas ucapan Rega yang dirasa begitu menuduhnya itu.
"Plis, kamu emang nggak suka sama aku, tapi tolong... jangan nuduh aku yang nggak-nggak. Kamu tadi bilang apa? Pelaku teror?" Kiana menggelengkan kepala. "Apa kamu dan semua temanmu diteror?"
"Nggak usah pura-pura polos! Cepet jujur dari sekarang kalau lo adalah Bintang Kematian." Rega teramat yakin jika Kiana saat ini sedang berakting.
Kiana tidak sempat menjawab karena seketika ponsel Rega berdering. Rega terpaksa melepas tangan di lengan Kiana, mengeluarkan ponsel yang berbunyi karena ada panggilan masuk. Rega menekan tombol jawab.
"Hallo, siapa ini?"