Clava memutuskan untuk tidak merusak persahabatannya dengan Olla perihal status cewek itu yang pernah menjadi orang ketiga di balik hubungan Clava dan Delva. Terlebih sekarang Delva telah meninggal dan hanya menyisakan sejumput kenangan di diri Clava maupun Olla sendiri.
Bagi Clava, urusan bersama Delva telah berlalu dan sudah selesai. Clava harus melupakan sosok Delva yang pernah menjadi bintang di hidupnya meski Delva pernah menyakiti. Kini Clava fokus dengan tujuan yang ingin dicapai. Salah satunya untuk membawa Black Roses—nama kelompok dance-nya—meraih posisi juara dalam event dance competition usia remaja antar SMA.
Setelah perform memukau dari Black Roses yang beranggotakan empat orang, Clava merasa puas dan lega luar biasa. Selama latihan sejauh ini, gadis tersebut sudah menguras otak untuk menciptakan koreo-koreo yang menarik dan apik. Dan hal tersebut terbayar dengan komentar para juri yang menilai performa mereka sangat berbeda dengan kelompok dance dari sekolah lain.
Acara yang digelar di sebuah gedung khusus pementasan event tersebut masih berlangsung. Rega yang menyaksikan bersama Fendi dan Iman berdiri di barisan penonton, bertepuk tangan bangga melihat aksi Clava.
"Hallo, Clava... lo apa kabar?" Rega memasang senyum menawan ketika Clava berjalan menghampirinya. Tadi Rega sudah sempat mengirimi pesan chat kepada Clava agar cewek itu menemuinya di backstage.
"Rega... gue... gue baik. Lo...?"
"Gue baik juga." Rega mengangguk takzim. "Lo tadi keren banget, Va. Semoga hasilnya memuaskan dan Black Roses bisa meraih gelar juara."
"Thanks, Rega." Clava menyahut pendek. Sebenarnya Clava masih mengingat kejadian beberapa waktu lalu perihal aksinya yang sedang bercumbu dengan Army terpergok oleh Delva, Rega dan semua anggota geng cowok itu. Clava merasa sangat emosi saat disekap oleh Delva. Belum lagi, Clava melihat dengan mata kepala sendiri bahwa komplotan Rega itu berniat membuang tubuh Army yang sedang pingsan ke dalam jurang.
Menyadari wajah Clava yang jutek dan tidak antusias, Rega cepat-cepat mengeluarkan buket bunga dari balik punggung. Cowok itu menyerahkan bunga indah nan wangi tersebut ke hadapan Clava.
"Clava... ini buat elo. Sebagai ucapan selamat atas suksesnya penampilan lo barusan. Lo kelihatan cantik banget pakai kostum dance begini, Va." Rega terus menyunggingkan senyum.
Clava tersenyum tipis. Cewek itu melirik Iman dan Fendi yang berdiri di sebelah Rega.
"Terima aja, Va. Rega udah beliin bunga itu sepenuh hati." Fendi mengompori.
"Bunga spesial dengan harga nggak main-main. Buket bunga buat wisuda mah kalah jauh." Iman menimpali.
Clava mengangguk pelan, tangannya siap menerima bunga dari tangan Rega. Namun sayang, ketika tinggal beberapa senti lagi menyentuh buket bunga itu, tak sengaja tatapan Clava mengarah ke tempat di belakang Rega. Clava tersenyum lebar, tidak jadi menerima bunga.
"ARMY!"
Rega terkesiap mendengar nama itu disebut dari mulut Clava. Secara serentak, Rega, Iman dan Fendi menoleh ke belakang dan segera mendapati keberadaan Army.
Clava melambaikan tangan dengan wajah ceria. Berbanding terbalik dengan respon yang ditujukan untuk Rega. Army membalas seraya tersenyum lebar. Detik berikutnya, Clava melangkah lebar menghampiri Army, mengabaikan Rega yang kini sedang tampak menahan geram.
"Army, makasih banget lo udah datang!" Clava memeluk Army tanpa merasa canggung. Dan adegan tersebut disaksikan oleh Rega. Tentu saja hati Rega serasa dibakar api yang membara. Bunga wangi di tangannya sontak terjatuh ke lantai.
"Surprise banget lo akhirnya datang, My!" Clava melepas pelukan.
"Maaf ya, Cla. Tadi gue sempat bohong, bilang nggak bisa datang ke acara ini." Army menyahut sembari menatap mata Clava dalam-dalam.
"Ngga masalah. Ini kejutan buat gue. Tapi sayang, lo terlambat, Black Roses udah tampil tadi." Clava pasang muka manja.
"Kata siapa gue telat? Gue udah nonton sedari awal kok. Dan yah... tarian lo luar biasa banget. Amazing. Jauh lebih memukau dari waktu latihan. Dan lo menggemaskan... cantik seperti boneka barbie." Army sesekali melirik ke arah Rega yang sedang mengepalkan tangan menahan emosi. Diam-diam Army merasa senang bisa membalas segala perlakukan Rega terhadapnya.
Clava manggut-manggut senang dipuji demikian oleh Army. Meskipun mereka berdua tidak pernah menyatakan diri sebagai pasangan kekasih, namun kedua insan itu sudah sama-sama tahu perasaan mereka masing-masing.
"Oh iya... ini gue cuma bisa bawain lo setangkai bunga mawar. Aromanya alami karena dipetik langsung dari kebunnya."
Clava menerima mawar yang sudah sedikit layu itu. "Thank you so much, Army. Gue lebih suka dengan bau bunga alami."
Army tersenyum penuh kemenangan. Setelah itu, Army mengajak Clava keluar dari backstage. Sengaja meninggalkan Rega yang berdiri kaku menahan aliran emosi.
Rega sontak menginjak buket bunga di bawah kakinya sekuat tenaga. "Kurang ajar! Ternyata Clava nggak main-main berhubungan dengan cowok teler itu!"
"Bener. Aksi ciuman mereka waktu itu berlanjut sampai sekarang." Iman geleng-geleng kepala, ikut melihat adegan di depan mereka.
"Gue rasa... lo kalah untuk kedua kalinya, Re. Dulu lo ditikung sama Delva, sekarang lo ditikung sama cowok cupu itu!" tukas Fendi sembari merangkul pundak Rega.
"Kata siapa gue kalah?!" Rega melepaskan tangan Fendi. "Oke, gue dulu boleh kalah sama Delva. Tapi nggak buat yang sekarang! Awas aja lo, Army! Lo akan mendapat balasan dari gue!"
Baru saja selesai mengatupkan bibir, bunyi ponsel milik mereka bertiga terdengar secara serentak. Dengan penuh perasaan was-was, Rega, Fendi dan Iman membuka isi pesan tersebut.
"PEMBULLY BERHAK MATI!!
DASAR PICIK!!"