"Fendi... tebakan gue emang nggak salah kalau lo bakal balik lagi ke sini," ucap seorang pemuda berusia 28 tahun sembari menepuk-nepuk bahu Fendi dengan gestur ramah. "Sejak lo memutuskan buat resign sementara beberapa bulan lalu, jujur aja, gue bener-bener belum bisa menemukan pengganti yang seperti elo, Fen."
Fendi hanya tersenyum sekilas mendengar omongan cowok tersebut yang cenderung berlebihan.
Rasanya sudah lama sekali Fendi tidak berkunjung ke tempat clubbing ini dan bertemu dengan Bang Ame yang sedang duduk di hadapannya itu seraya menghisap vape penuh kenikmatan. Fendi melakukan hal yang sama. Begitu tadi ia masuk Binara Guana—nama tempat clubbing—Bang Ame langsung menyambut senang dan memberikan vape gratis untuknya.
Melihat Fendi yang hanya terdiam saja, Bang Ame kembali bersuara. "Jadi... gimana?"
Fendi menghela napas sebelum menyahut. "Ya... gue mau nerusin kerja sama bareng lo lagi, Bang."
Seperti dugaan, Bang Ame langsung tersenyum lebar. Ia sudah menduga, cowok remaja macam Fendi tak akan pernah lepas dari jalur yang telah dia buat. Jalur hitam yang penuh kenikmatan duniawi.
Menjadi seorang admin seller. Ya, terdengar biasa dan lumrah, tapi itu jabatan yang Fendi sandang beberapa bulan silam. Bermula saat Fendi bertengkar hebat dengan ayahnya karena cowok itu ketahuan sedang merokok di dalam kamar. Tidak tahukah atau sengaja tak peduli bahwa rokok yang telah merenggut nyawa mamanya. Ayah Fendi tidak ingin hal yang sama terulang lagi kepada anaknya. Maka saat didapati Fendi ketangkap merokok di rumah, ia tak segan-segan memukul kepala Fendi dengan kencang. Merasa tak terima, jiwa labil Fendi berontak. Tanpa pikir panjang, Fendi memilih untuk kabur saja dari rumah.
"Fendi akan buktiin ke Papa kalau Fendi bisa hidup tanpa Papa. Camkan itu, Pa!" kata Fendi pada saat itu dengan penuh emosi. Lantas cowok itu bergegas menemui Ame dan tak berpikir panjang menerima tawaran yang pernah diajukan Ame sebelumnya. Ia harus membuktikan bisa hidup mandiri tanpa seorang ayah, meski lewat jalur yang salah. Fendi tak peduli.
Fendi bekerja sama dengan Ame. Tugasnya mudah, ia hanya diperintah untuk menjual sebuah video bokep maupun video syur seorang wanita bugil di situs dan aplikasi tertentu. Ceritanya begini; Fendi bersama seorang cewek yang dalam hal ini menjadi partnernya, bertugas menaruh alat spy cam canggih di kamar mandi sebuah Asrama Putri. Mudah saja, partner Fendi ini tinggal di asrama tersebut, sehingga ia tidak kesulitan untuk melakukan aksi itu. Setiap hari, hasil video cewek-cewek sedang berkegiatan di kamar mandi sudah tentu didapatkan.
Fendi yang menjadi admin seller mulai promosi besar-besaran di aplikasi tersebut. Tentu saja, video-video mereka cukup laris di kalangan orang tertentu, bahkan tak jarang ada customer dari luar negeri. Namun video mentahan yang dihasilkan itu masih harus disetor ke Bang Ame terlebih dahulu untuk diedit, dipangkas, serta dihapus untuk yang tidak sesuai. Setelah itu, video cuplikan akan diserahkan kepada Fendi untuk dipotong sebagai media promosi. Hasilnya tak main-main. Income yang mereka dapat selama satu bulan bisa mencapai jutaan rupiah. Miris, tetapi itulah kenyataannya, Fendi menjual dengan harga-harga tertentu yang telah disepakati bersama Ame. Pelanggan mereka kebanyakan anak sekolah SMP-SMA, mahasiswa, bahkan pengusaha serta para karyawan dari kelas rendah hingga atas.
Namun, sekitar tiga bulan yang lalu Fendi memutuskan untuk tak melanjutkan pekerjaan itu lagi. Alasannya yang dibilang ke Ame ialah karena Fendi ingin fokus ujian kenaikan kelas. Tetapi alasan yang sebenarnya adalah Fendi cukup lelah ketika harus online setiap saat, datang ke lokasi Asrama Putri setiap hari dengan modus pura-pura menjenguk sang partner, melayani pembeli dengan kesabaran tinggi—ketahuilah, Fendi sama sekali tidak bakat menjadi orang sabar. Alasan lain, Fendi sudah memiliki sejumlah uang yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut, sehingga ia tak perlu lagi khawatir untuk sementara waktu. Namun, belakangan ini uangnya mulai menipis dan ia tak mungkin meminta ke ayahnya lagi. Egonya sudah tak terbantahkan. Lantas, Fendi mau tak mau kembali lagi ke jalur gelap ini.
"Fendi... oh my God. How are you, my cute boy?" Seorang cewek usia 22 tahun dengan pakaian rok mini di atas lutut itu tiba-tiba muncul di meja mereka, memeluk Fendi dari samping.
"Hai Rosita, gue baik-baik aja kok." Fendi menjawab, membalas pelukan cewek yang lebih tua darinya itu. "Lo sendiri gimana kabarnya?"
"Gue baik-baik aja sih, Fen. Lo lama nggak kelihatan kok makin bening aja. Adik gue udah mulai pintar merawat diri rupanya." Cewek yang berperan sebagai partner Fendi itu mengusap puncak kepala Fendi seperti anak kecil.
Fendi berdecak pelan. "Sampai kapan sih gue cuma dianggap adek doang sama lo? Sejak kebersamaan yang kita jalin waktu itu, gue beneran suka sama elo, Rosita."
Rosita tertawa renyah. "Aduh, Fendi. Lo terlalu baper dan menikmati peran yang kita mainkan dengan berpura-pura sebagai pasangan kekasih. Anak-anak di asrama sampai percaya gue punya pacar berondong."
"Ya apa salahnya, Ta? Toh banyak kok pasangan beda usia di luaran sana." Fendi menatap Rosita tanpa kedip.
"Enggak, enggak!" Rosita menggeleng pelan. "Bagi gue, lo tetep adek gue."
Fendi mengepulkan asap vape, tidak berselera menyahut lagi. Sepertinya harapan Fendi sangat tipis untuk bisa mendapatkan Rosita sebagai kekasih sungguhan. Meskipun Rosita sering banget ganti-ganti pacar, tetapi Fendi bukanlah kriteria yang diinginkan oleh Rosita.
"Oh iya, kemarin tiga kali gue ngelihat cowok kesayangan gue jalan sama cewek lain. Ih nyebelin banget. Bayangin, tiga kali kepergok loh." Rosita mulai bercerita.
"Cowok lo yang mana?" Fendi menjawab tak berselera.
"Yang namanya Alfredo. Satu-satunya cowok yang gue beneran sayang sama dia."
"Menurut gue, mendingan lo putusin aja dia. Udah jelas-jelas suka selingkuh gitu." Fendi memberi saran semaunya.
"Iiih Fendi kok lo gitu sih?" Rosita pasang muka cemberut. "Jahat deh jadi adik."
"Oh iya Rosita. Kedatangan Fendi ke sini untuk memastikan kalau dia bakal melanjutkan kerja sama bareng kita lagi," sahut Bang Ame yang sedari tadi diam, menikmati vape dan minuman beralkohol di hadapannya.
"Really?" Rosita merasa senang. Sejauh Fendi resign, cewek itu harus bekerja sendiri, menggantikan posisi Fendi sebagai admin seller.
Fendi mengangguk pelan. Perasaannya seketika tidak nyaman. Fendi merasa ada seseorang yang sedang mengintai dirinya. Fendi menoleh ke sekitar tempat yang dipadati orang-orang dugem. Tentu saja, Fendi tidak menemukan hal yang mencurigakan.
"Finally... gue seneng banget akhirnya lo gabung lagi sama kita." Rosita kembali memeluk Fendi dari samping.
"Yeah... gue bilang juga apa. Cepat atau lambat, anak ini bakal butuh kita lagi." Bang Ame tertawa.
Fendi hanya meringis tipis. Ia membuka ponsel yang berbunyi. Ada pesan masuk.