Bintang Kematian: Pembully Berhak Mati!!

Prasetyo Adhi Suseno
Chapter #16

Sebuah Ancaman

"Wow... perkembangan yang sungguh tak terduga. Clava nyamperin Army ke sekolah sama kayak dulu dia nyamperin Delva." Rega geleng-geleng kepala ketika melihat Clava yang muncul di SMA Armada di jam pulang sekolah. "Clava memang bener-bener cewek yang beda."

"Terus apa yang harus kita lakukan, Re?" tanya Iman yang berdiri di sebelah Rega.

"Pastinya. Gue kepengen membuat Army selalu kena mental." Rega tersenyum miring.

Rizal, Iman dan Ronny mengangguk setuju, menatap lurus ke arah Clava yang dengan senang hati sedang membukakan pintu mobil untuk Army masuki. Army merasa diperlakukan istimewa, cowok itu tersenyum lebar penuh rasa terima kasih.

"Dasar norak!" Rega mencebik kesal. Sungguh, ia tidak suka melihat senyuman Army yang menjengkelkan tersebut. "Tangan gue gatel. Gue harus ngerjain orang itu sekarang juga!"

"Harus banget, Re. Gue juga kesel ngelihat gaya Army barusan." Rizal menyahut. "Sok-sokan banget ya dia!"

"Oke, Rizal, Iman, kalian berdua datang ke rumah Fendi dulu, nanti kita kumpul di sana. Sementara Ronny, lo ikut gue ya!" ujar Rega mengambil keputusan.

"Mobil gue terus gimana?" tanya Ronny.

Rega mengibaskan tangan. "Itu urusan gampang. Eh sebelum itu..." Rega merangkul pundak Rizal dan Iman lalu berbicara dengan intonasi pelan sehingga Ronny tidak bisa mendengar. Namun Ronny paham bahwa Rega sedang menyusun rencana.

Beberapa saat Rega menginteruksi Rizal dan Iman, mereka berdua mengangguk kompak.

"Sekarang juga. Gue tunggu di mobil."

"Beres!" Iman mengangkat kedua ibu jari. Bersama dengan Rizal, mereka berdua lekas pergi meninggalkan area parkir, hendak menunaikan perintah Rega.

"Ayo, Ron. Kita tunggu mereka di mobil gue." Rega memaksa Ronny untuk berjalan mengikutinya.

Sementara itu Clava dan Army menikmati kebersamaan di dalam mobil dalam mode hening. Hanya alunan musik yang meramaikan suasana.

"Ehm... Cla...?" Army membuka suara setelah beberapa saat mereka hanya terdiam saja.

"Iya?" sahut Clava sambil fokus menyetir.

"Makasih ya, lo udah mau berinteraksi sama gue."

Clava tersenyum. "Sekarang lo nggak sendiri lagi, My."

Army mengangguk. "Kita boleh tukar posisi?"

"Maksudnya?" Clava melirik Army sekilas.

"Kayaknya gue yang harus menyetir dan lo yang harus duduk manis."

Bibir Clava menyunggingkan senyum. "Emang lo bisa?"

"Tentu." Army mengangguk yakin.

"Baiklah. Gue percaya." Clava akhirnya menepikan mobilnya di suatu jalanan lengang. Mereka akhirnya bertukar posisi.

"Gue nggak akan membiarkan lo kecapekan, Cla." Army tersenyum tipis setelah duduk di balik kemudi.

Clava mengangguk dan dengan refleks segera memeluk Army saat itu juga. "I love you, Army!"

Army sengaja tidak membalas kata-kata Clava barusan. Cowok itu terlalu menikmati euforia yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Pertama kalinya, Clava datang dan memasuki gerbang kehidupan seorang Army yang kelam. Clava seolah-olah menjadi pijar penerangan di ruang waktu milik Army yang buram.

Army mengusap puncak kepala Clava dengan tulus. Mereka berdua memejamkan mata, menikmati semilir angin sore yang ditemani dengan alunan musik romantis. Namun tanpa Army dan Clava sadari, sebuah mobil Pajero merah rupanya sudah berhenti tepat di sebelah mobil Clava. Ya, Rega dan Ronny yang berada di dalam Pajero tersebut ternganga begitu mereka melihat adegan yang terpampang di depan mata. Bukan kali pertama Rega dipecundangi oleh perlakuan Army. Terlebih, ini masalah cewek.

"Oke, Ronny, sekarang juga lo siram Army pakai air ini!" Rega mengambil benda di jok belakang. Sebuah botol berisi air got yang tadi sudah disiapkan oleh Rizal dan Iman.

Ronny tercekat sesaat, tidak menyangka harus mendapat perintah demikian dari Rega. Tadi Ronny berpikir mungkin yang akan melakukan aksi bullying hanya Rega sendiri, tidak melibatkan dirinya. Namun ternyata perkiraan Ronny salah. Ronny-lah yang harus menjadi pelaku.

"Tapi, Re... " Ronny menukas pelan. Tentu saja Ronny ragu untuk melakukan hal tersebut.

Rega mendelik tajam. "Cepet lakukan sekarang kalau lo masih ingin jadi bagian dari Bintang!"

Ronny melirik ke arah kiri, ke tempat mobil milik Clava berhenti. Kesalahan fatal mereka berdua, kaca mobil tersebut tidak ditutup sehingga mudah saja orang luar akan melihat mereka.

"Buruan, Ron!"

Dengan pasrah, Ronny akhirnya menerima botol itu.

Rega menyeringai keji. "Bagus. Sekarang juga lo keluar dan langsung siram tubuh Army pakai air got di tangan lo! Buruan, Ronny, keburu mereka sadar ada kita di sini."

Karena tidak ingin dipecat menjadi bagian dari kelompok bintang yang bersinar, akhirnya Ronny mengangguk yakin. Mau tidak mau, Ronny harus melakukan perintah sang ketua geng mereka. Ronny turun dari mobil seraya membuka penutup botol, lalu dengan sepenuh hati Ronny segera menyiram kepala Army menggunakan air got tersebut.

Sontak saja, Army terkesiap kaget saat tiba-tiba kepalanya basah hingga mengenai seragam putih. Seketika seragam tersebut ternodai air got yang hitam.

Clava tersentak, percikan air tersebut sedikit mengenai lehernya. "What...? Apa ini?" Clava menoleh ke arah Ronny yang sedang berdiri dengan wajah penuh rasa bersalah.

Mengetahui Ronny sang pelaku, Army lekas membuka pintu dan turun dari mobil.

"Maksud lo apa?!"

"Ini pantas buat lo dapatkan!" Ronny memberanikan diri melawan Army.

Lihat selengkapnya