Bintang Kematian: Pembully Berhak Mati!!

Prasetyo Adhi Suseno
Chapter #17

Liang Kubur dan Peti Mati

Tepat tengah malam, Rega baru saja selesai clubbing bersama Iman dan Rizal di Binara Guana. Mereka memang cuma bertiga lantaran Fendi masih proses pemulihan sementara Ronny kurang suka ikut hangout ke tempat kelab malam. Tujuan mereka clubbing tentunya ingin menghilangkan segala rasa penat akibat teror dari Bintang Kematian.

Sesampainya di depan rumah, Rega membunyikan klakson mobil berkali-kali agar Pak Junaedi segera membukakan pintu gerbang. Namun selama hampir 5 menit dengan kesabaran yang jarang dimiliki seorang Rega, Pak Junaedi tidak kunjung muncul untuk membuka pintu.

Alhasil dengan menahan rasa kesal, Rega keluar dari mobil dan dengan terpaksa melebarkan pintu gerbang seorang diri.

Selesai memasukkan mobil, Rega berjalan ke pos satpam dan pada saat itu juga Rega tercekat lantaran tidak menemukan Pak Junaedi di dalamnya.

"Ke mana tuh orang? Biasanya juga selalu stand bye," ujar Rega seraya berjalan masuk ke dalam rumah.

Baru saja hendak membuka pintu, mata Rega tak sengaja menangkap selembar kertas di lantai depan pintu. Perlahan, Rega berjongkok dan memungut kertas tersebut. Awalnya Rega berpikir bahwa kertas tersebut berisi kata-kata teror dari Bintang Kematian. Namun ternyata salah, surat itu merupakan tulisan tangan dari Pak Junaedi.

Mohon maaf, Mas Rega. Saya terpaksa harus pulang kampung karena ada kerabat saya yang meninggal. Kami sebelumnya sudah izin dengan papa dan mama Mas Rega. Dan besar kemungkinan, saya nggak balik lagi kerja di sini, Mas.

Oh iya, kunci utama rumah saya letakkan di bawah pot bunga gelombang cinta ya, Mas.

SALAM.

Pak Junaedi.

Rega meremas-remas surat bertinta merah itu dengan perasaan kesal. Bisa-bisanya Pak Junaedi pulang mendadak sebelum orangtua Rega mencari pengganti mereka.

"Oke, jadi malam hari ini gue sendirian? Hah? Nggak masalah." Rega mengambil kunci di bawah pot dan segera membuka pintu.

"Sekalian aja cewek alay itu nggak usah balik lagi ke sini. Gue malah lebih hepi!"

Kiana memang tidak setiap hari berada dan tinggal di rumah Rega yang notabene adalah seorang cowok. Cewek itu sudah beberapa hari memilih untuk kembali ke rumah aslinya yang terletak cukup jauh dengan rumah Rega ini. Di sekolah, Rega tidak peduli saat Kiana tidak terlihat sama sekali meski sekedar untuk mengganggunya.

"Apa itu hal yang nggak wajar dan patut gue curigai?" Rega masih bermonolog setelah masuk ke ruang tamu yang terlihat cukup gelap.

Merasa tidak ada sesuatu yang aneh, Rega lantas melanjutkan langkah ke lantai dua menuju kamarnya.

Baru saja memasuki ruang kamar, Rega dikagetkan dengan suara aneh yang entah berasal dari mana. Setelah ditelusuri lebih lanjut, rupanya suara tersebut berasal dari dalam lemari pakaian.

Rega yang masih berdiri tegak di depan pintu mulai merasa gentar. Meski bukan kali pertama Rega mendapatkan situasi horor seperti ini, tapi tak pelak, keringat dingin mengucur di kening Rega.

Rega menunggu beberapa saat barangkali suara itu lenyap, tetapi yang ada justru semakin kencang terdengar seakan-akan makhluk yang ada di dalam lemari minta dibebaskan dari dalam.

"Gue yakin, itu cuma tikus doang." Dengan pelan, Rega berjalan mendekat ke arah sumber suara. Sedikit gemetar, Rega siap membuka pintu lemari.

Menarik napas dalam-dalam, setelah menghitung sampai tiga di dalam hati, Rega akhirnya memberanikan diri membuka pintu lemari. Dan pertama kali yang dirasakan Rega begitu melihat sosok di dalam lemarinya adalah perasaan kaget luar biasa. Jantungnya nyaris berhenti berdetak. Rega tak kuasa menahan kekagetan saat sosok bertopeng tengkorak dengan jubah hitam itu mengacungkan kapak tajam ke arahnya.

"I WILL MAKE YOUR DIE, REGA!" Seperti biasa, Bintang Kematian mengeluarkan suara khasnya.

Rega tak berpikir panjang lagi untuk segera balik badan dan lari sekencang mungkin. Rega menuruni tangga tak beraturan sampai nyaris terguling jika saja ia tak langsung menyeimbangkan tubuhnya.

Sial, entah karena ulah siapa, pintu utama tak bisa dibuka. Rega tak habis akal, ia lekas berlari ke arah belakang rumah untuk kabur dengan cara melompat pagar seperti aksinya beberapa waktu lalu. Di tengah pelariannya itu, tiba-tiba lampu seluruh ruangan mati total. Beberapa barang terjatuh dengan sendirinya, pigura di dinding juga jatuh hingga pecah. Rega tertegun sesaat, tetapi dia masih bisa melihat karena pancaran sinar rembulan. Rega terus berlari dengan terengah-engah, kakinya seketika dicekal dari arah belakang, membuat tubuh Rega limbung dan jatuh ke lantai. Rega mencoba bangkit lalu menoleh ke belakang. Bintang Kematian seperti sedang tertawa di balik topeng. Rega geleng-geleng kepala dan hendak kembali berlari ketika Bintang Kematian mengarahkan kapak ke tubuh Rega.

Rega berusaha mengambil vas bunga di dekatnya sebelum dilempar ke arah Bintang Kematian. Percuma saja, lemparan itu melesat jauh. Akhirnya Rega memilih putar badan dan kembali berlari.

Setelah berhasil menginjakkan kaki di area belakang rumah, betapa terkejutnya Rega ketika ia melihat sebuah lubang seukuran kuburan terpampang di depan matanya. Lebih kaget lagi, Rega menemukan batu nisan yang ditancapkan di ujung liang kubur itu terukir namanya dengan jelas.

REGA MANDALA ZWINGLY

BIN

FAUZAN WIMANDALA

Rega menggelengkan kepala tak percaya. Kemarin Bintang Kematian mengetahui titik kelemahan Fendi yang tidak bisa berenang. Lalu sekarang Bintang Kematian bisa tahu nama ayahnya? Dengan jantung berdebar-debar, Rega melihat ke arah dalam lubang dan mendapati sebuah peti mati di sana.

"PEMBULLY BERHAK MATI!!" Sebuah suara dari arah belakang membuat Rega terkejut kaget. Rega berbalik dan menemukan sosok yang tadi ditemui di dalam lemari sedang berdiri tegak tak jauh darinya.

"I WILL MAKE YOUR DIE, REGA!."

"Bintang Kematian?" Tanpa sadar, Rega berjalan mundur secara perlahan. Rega terus mundur dan mundur sampai tubuhnya seketika terhempas ke dalam peti mati yang berada di liang kubur. Rega belum sempat bereaksi lebih lanjut karena tiba-tiba peti tersebut ditutup rapat oleh Bintang Kematian.

Lihat selengkapnya