Army baru saja keluar dari salah satu bilik toilet ketika langkahnya sudah terhalang oleh Rega, Fendi, Rizal, Iman dan Ronny.
Belum sempat bereaksi lebih lanjut, tubuh Army segera didorong Rega untuk masuk kembali ke dalam toilet. Disusul Iman dan Fendi yang mengepung Army di sisi kiri dan kanan. Sementara Rizal dan Ronny bertugas jaga-jaga di depan toilet.
"Woy, cowok muka screenshot! Ngaku sekarang juga lo, kalau lo tuh Bintang Kematian!" kata Rega dengan tajam, tepat di depan wajah Army.
Army berusaha untuk tenang. Menghadapi tingkah Rega yang suka main kasar sudah menjadi hal yang biasa baginya.
"Dasar licik! Beraninya main belakang. Mau balas dendam kok pakai cara kayak begini," timpal Iman tak kalah tajam.
"Bener! Mendingan sekarang lo ngaku atau lo yang akan menjadi korban." Fendi menyambung.
Army mencibir. "Korban? Apa maksud kalian?"
"Sudah gue duga. Dia bakal pura-pura bego." Iman bersedekap. "Cowok teler ini emang susah dari dulu."
"Ngaku! Lo yang udah meneror kita sejauh ini. Sengaja mau balas dendam?" Fendi kembali melotot.
Mendengar itu, Army justru tertawa pelan. "Meneror? Jadi kalian semua diteror? Hahaha, atas dasar apa? Apa karena gara-gara kalian udah membunuh Delva, sahabat kalian sendiri?"
Rega mulai meremas seragam Army dengan kencang. Army tampak santai, tidak berusaha melawan. "Gue nggak ada nyebut-nyebut soal Delva!"
Army mengangguk. "Ya, gue tahu sekarang. Kematian Delva emang mencurigakan. Setelah gue cermati sejauh ini, kalian semua pelaku pembunuhan berencana terhadap Delva!"
"Woy! Jangan asal ngomong! Buktinya apa? Hmm?" ujar Rega lagi, rasanya sudah tidak tahan ingin memukul wajah Army.
"Lagi pula, Delva sahabat kita semua. Mana mungkin kita tega ngelakuin hal semacam itu? Kecuali sama orang kayak lo yang lebih layak mati daripada Delva." Iman menoyor kepala Army.
"Oh ya? Masa?" Army tetap tenang. "Pikirkan baik-baik, sebelum kalian berniat membunuh gue, mending kalian mencari cara dulu untuk melindungi nyawa kalian masing-masing."
"Oke fine..." Rega menganggukkan kepala. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Detik berikutnya, Rega mengambil gayung yang terisi air lalu dengan cepat disiramkan ke seluruh tubuh Army dari atas kepala. Iman dan Fendi tertawa-tawa melihat Army yang sudah basah kuyup.
"Kemarin Ronny menyiram pakai air got. Sekarang gue siram lo pakai air dingin. Mungkin lain kali bakal gue guyur lo pakai air mendidih supaya muka teler lo itu melepuh." Sekali lagi, Rega menyiram sekujur tubuh Army sebelum berbalik pergi keluar dari bilik toilet. Iman dan Fendi di belakang segera mengurung Army di dalam bilik.
"Eh gays, habis diapain si Army? Ah sayang gue nggak ikut action. Betewe, dia kena mental nggak?" ujar Rizal begitu melihat Rega, Iman dan Fendi sudah keluar toilet. "Gue tebak, pasti dia nggak mau ngaku kalau dia dalang di balik teror yang kita alami," kata Rizal lagi begitu mendapati muka-muka sahabatnya yang keruh.
"Namanya juga pecundang. Sampai dunia terbalik sekalipun, dia nggak akan mau ngaku," sahut Iman dengan kesal.
"Awas aja nanti." Rega mengepalkan tangan. "Kita harus menyiapkan skenario berikutnya untuk melenyapkan cowok itu."
"Re, tapi kalau bukan Army pelaku teror yang sebenarnya gimana?" tanya Ronny. "Yang ada, kita malah semakin dikejar-kejar sama Bintang Kematian."
"Emang Bintang Kematian ini siapa? Hmm? Penegak keadilan? Guardian Angel? Ayolah, Ronny... Bintang Kematian juga sosok pembunuh keji. This is game, kalau kita nggak mau jadi korban dan mati duluan, jalan satu-satunya ya kita harus jadi pembunuh, melenyapkan musuh."
"Gue setuju apa kata Rega. Kita harus tetap mempertahankan diri kita apa pun yang terjadi." Iman mengangguk.
Sementara di dalam bilik toilet, Army tidak merasa gentar menghadapi bullying yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Meski ia dikurung di bilik dengan keadaan basah kuyup, cowok itu tampak santai. Banyak jalan keluar yang mudah. Salah satunya menyelundup melalui sela-sela bilik yang bolong untuk berpindah tempat ke bilik sebelah. Untung saja saat ini sudah jam bubar sekolah, sehingga Army tak perlu khawatir perihal kondisinya sekarang.
***
Clava sedang menunggu Army di parkiran SMA Armada dengan hati gelisah. Bagaimana tidak? Seharian kemarin Army tidak memberi kabar sedikit pun. Clava ingin mendatangi kediaman Army tetapi dia sadar bahwa ternyata ia belum mengetahui letak rumah Army berada di mana. Alasan Army tak ada kabar rupanya cowok itu terlalu sibuk menjadi pembantu di rumah tantenya sendiri.
Menghela napas menahan rasa sabar, Clava yang duduk di kap mobil mengeluarkan ponsel, kembali membuka aplikasi pesan.
"Army, apa yang terjadi sama elo? Kok pesan-pesan gue cuma lo baca doang. Apa gue ada salah sama lo?" Clava menatap layar ponsel. Tentu saja Clava tidak tahu bahwa ponsel Army disita dengan sengaja oleh tantenya. Bahkan sampai detik ini ponsel Army belum dikembalikan.
Clava mencoba mengingat pertemuan terakhir mereka dan tidak ada hal yang sekiranya membuat Army marah lalu menghindar. Semua tampak baik-baik saja.
"Apa gue samperin dia aja kali ya?" Clava sudah hendak mencari keberadaan Army ketika tiba-tiba dari arah belakang terdengar sebuah nyanyian dari seseorang.