Suatu pagi yang cerah di kediaman keluarga Ardiaman. Julian—putra satu-satunya keluarga Ardiaman—tengah menikmati sarapan bersama dengan sang papa di ruang makan.
“Kamu yakin tetap ingin bersekolah di SMA Bintang Megah, Jul?” tanya Maxime membuka obrolan pagi itu.
“Julian yakin, Pa. Itu ‘kan salah satu sekolah terbaik di kota ini. Julian senang bisa keterima di sekolah itu.”
“Sebenarnya Papa masih kurang sreg kamu bersekolah di sana. Rumah ini jadi sepi kalau kamu tinggal.”
“Aku ngerti perasaan Papa. Lagian Sabtu dan Minggu ‘kan Julian bisa pulang ke sini, menghabiskan waktu sama Papa. Jadi Papa dukung aku ‘kan?”
“Pasti, Sayang. Papa selalu dukung keputusan kamu. Sekarang lanjut lagi sarapannya. Nanti kamu telat. Papa bakal antar kamu.”
“Iya. Makasih buat dukungannya ya, Pa.”
“Sama-sama, Sayang.”
Tiga hari yang lalu. Julian telah menantikan hari itu tiba. Hari di mana pengumuman penerimaan murid baru SMA Bintang Megah. Tepat pukul 12.00, hasil pengumuman keluar dan Julian berhasil diterima di sekolah tersebut setelah berjuang mengikuti ujian saringan masuk.
“Pa, Julian keterima di SMA Bintang Megah! Sekolah yang selama ini aku impi-impikan.”
“Selamat ya, Sayang. Papa bangga sama kamu. Mama di Surga pun pasti bangga sama kamu.”
“Makasih, Pa. Besok kita ke makam Mama ya?”
“Oke, besok kita ke sana.”
Keesokan harinya. Julian dan Maxime berangkat menuju pemakaman di mana mama Julian dimakamkan.
“Mama apa kabar? Julian sama Papa ke sini bawa kabar baik, Ma. Julian keterima di SMA Bintang Megah, Ma. Sekolah yang Julian impi-impikan dari dulu.”
“Iya, Jen. Julian hebat ya? Seandainya kamu masih hidup, pasti kamu ikut bahagia bersama kita.”
Seusai sarapan, Julian kembali ke kamar untuk mengambil koper yang telah dipersiapkan tadi malam.
“Semuanya sudah siap. Sekarang waktunya berangkat.”
Julian terdiam sejenak, memandangi seluruh penjuru kamarnya. Setelah itu, barulah ia turun menghampiri Maxime yang sudah berada di luar rumah.
“Gimana, Julian? Semuanya sudah dibawa? Ada yang ketinggalan nggak? Coba dicek lagi.”
“Semuanya aman. Julian sudah cek ulang, Pa.”
“Ya, sudah. Kita berangkat sekarang?”
“Iya, Pa. Sudah jam segini juga. Julian harus sudah di sana sebelum setengah tujuh.”
“Kamu tenang saja. Papa jamin kita akan sampai di sana sebelum waktunya. Let’s go!”
Sekitar 45 menit perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Maxime tiba di depan gerbang SMA Bintang Megah. Gerbang itu berhasil membuat keduanya terpukau.
“Sekolahnya ternyata lebih keren dari yang ada di brosur, Pa.”
“Iya, Papa juga nggak nyangka sekolah kamu sekeren ini.”
“Julian masuk sekarang ya, Pa?”
“Perlu Papa antar masuk?’
Julian menggeleng.
“Pa … Julian ini bukan anak kecil lagi. Julian bisa masuk sendiri.”
“Iya, iya, Papa ngerti. Waktu berjalan begitu cepat. Perasaan kamu kemarin baru saja masuk TK, sekarang udah masuk SMA.”
“Iya, Pa. Julian pamit ya?”
“Kamu semangat belajarnya. Belajar yang rajin.”
“Iya, Pa. Papa juga sehat-sehat. Sibuk kerja boleh, tapi jangan lupa makan.”
“Iya, Sayang. Papa nggak akan lupa makan.”
“Janji?”
“Papa janji.”
Setelah berpamitan sekali lagi dengan Maxime, Julian turun dari mobil. Ia mulai melangkahkan kaki memasuki area sekolah.
“Selamat datang siswa-siswi baru Bintang Megah High School,” suara sambutan terdengar dari pengeras suara yang terpasang.