Waktu telah menunjukkan pukul 18.15 sore. Julian, Jessica, James, dan Aluna masih berada di sebuah ruangan bawah tanah. Kondisi keempatnya mulai lemas karena selama berjam-jam tidak diberi makan maupun minum.
“Sampai kapan kita di sini terus? Badan gue udah lemes banget nih. Dari tadi siang belum makan,” protes Aluna sambil menahan sakit di perutnya.
“Kalian kok diam aja sih? Memangnya nggak ada yang bisa kita lakuin?” lanjut Aluna.
“Lo bisa tenang nggak sih, Lun? Percuma lo teriak-teriak, hanya buang-buang energi.”
“Benar kata James, Lun. Sabar ya? Kita pasti keluar dari sini,” tambah Jessica berusaha menenangkan.
Sementara itu, di sisi lain Mr. Bintang masih memperhatikan gerak-gerik keempat muridnya itu melalui monitor CCTV sambil terkekeh-kekeh melihat tingkah Aluna.
“Aluna, Aluna, kamu lucu sekali. Percuma kamu mengeluh dan berteriak-teriak seperti itu. Saya nggak peduli sama sekali. Nikmati saja ya malam kalian di sana. Ini hukuman bagi murid yang masuk ke ruangan saya tanpa izin. Jangan main-main sama saya!”
-oOo-
Sekitar pukul 04.00 pagi, seseorang memasuki ruangan tempat di mana Julian, Jessica, James, dan Aluna berada. Orang tersebut langsung membangunkan keempatnya dengan menyiramkan seember air ke arah mereka.
“Bangun! Sudah pagi!”
“Maksudnya apa ini? Bangunin orang nggak gini caranya!” protes James sambil menatap tajam orang yang menyiram dirinya serta teman-temannya.
“Maaf ya, saya hanya disuruh Mr. Bintang. Sebentar lagi beliau akan ke sini untuk bicara sama kalian. Sudah ya saya permisi dulu.”
“Keluarkan kami dari sini!”
“James, sudah. Kontrol emosi lo!”
“Mana bisa gue nggak emosi. Lihat apa yang baru aja dia lakukan ke kita. Memangnya kita ini apa? Disiram-siram seenaknya.”
“Kalian tidak suka diperlakukan seperti ini bukan?”