Julian baru saja keluar dari kamar mandi. Selang beberapa saat, ponselnya berbunyi. Ia segera meraih ponselnya yang semula sedang diisi daya.
Jessica Margareth
Julian, kamu udah siap? 05:15
05:15 Ini baru beres mandi. Kenapa, Jessica?
Pulang sekolah aku mau ajak kamu berenang. 05:11
Sekalian mau bicarain soal kejadian waktu itu. 05:11
05:12 Boleh, tapi kalau masalah kejadian itu …
05:12 Sebaiknya dibicarakan di luar sekolah.
05:13 Kita harus main aman, Jess.
Hmm … iya juga sih. Ya, sudah kita bicarakan soal itu nanti aja. 05:13
“Siapa, Jul?”
“Biasa pacar gue. Lo udah beres?”
“Cie, cie, pagi-pagi udah bucin aja. Udah dong bucinnya.”
“Makanya lo cari pacar. Aluna kayaknya cocok buat lo.”
“Cocok? Idih amit-amit. Udah ah, nggak usah dibahas. Kita ke kantin sekarang. Udah lapar banget gue.”
“Iya, iya, kita ke kantin sekarang.”
Setelah mencabut ponselnya, Julian dan James beranjak menuju kantin. Sudah beberapa hari ini, Julian, Jessica, James, dan Aluna memutuskan untuk tidak membahas kejadian beberapa hari lalu demi keselamatan masing-masing. Meskipun sebenarnya mereka masih penasaran dengan fungsi dari ruang bawah tanah tersebut. Lalu bagaimana dengan Nania yang hilang? Tiga hari setelahnya, Nania kembali meskipun ia sama sekali tidak dapat mengingat apa yang terjadi dengannya beberapa hari terakhir.
“Lo sama sekali nggak ingat, Nan?”
“Nggak, Jess. Memangnya gue ke mana sih? Apa yang sebenarnya terjadi sama gue? Lun, lo tahu nggak?”
“Kalau lo nanya gue, gue juga nggak tahu lo ke mana. Tiba-tiba lo ngilang begitu saja.”
“Ngilang? Aneh banget. Gue kenapa ya? Kejadian ini mirip banget sama kejadian waktu class meeting. Begitu sadar, kita nggak ingat apa-apa.”
“Bener juga. Terus gimana kondisi lo sekarang?”
“Masih suka pusing sih. Padahal sudah minum obat. Apa gue ke klinik asrama aja ya?”
“Ya, sebaiknya begitu. Nanti gue antar lo.”
-oOo-
Sabtu dini hari. Tiba-tiba Julian terbangun dari tidurnya karena mendengar ponselnya bergetar beberapa kali. Dengan setengah sadar, Julian meraib ponselnya yang ia taruh di nakas. Pada layar tercantum nama Jessica melakukan panggilan.
“Jessica telepon pagi-pagi gini? Ada apa ya?”
Tanpa berlama-lama, Julian langsung menjawab panggilan tersebut.
“Halo, Julian. Maaf, aku ganggu kamu pagi-pagi gini.”
“Ya, Jessica? Kamu nggak tahu ini jam berapa? Kenapa kamu telepon aku sepagi ini?”
“Sekali lagi aku minta maaf. Ada hal penting yang harus aku bicarain sama kamu.”
“Soal apa?”
“Ini soal Kak Jazz. Kemarin malam aku dapat pesan dari Kak Jazz.”
“Kak Jazz kirim pesan? Kamu yakin itu beneran Kak Jazz?”
“Aku yakin banget. Memang dari nomor nggak dikenal, tapi aku hafal banget gaya penulisan Kak Jazz. Katanya dia masih hidup dan sekarang lagi dikurung di sebuah ruangan bawah tanah. Apa ini ruang bawah tanah Bintang Megah yang waktu itu ya?”
“Hmm … bisa jadi.”
“Kok jawabnya singkat banget?”