Bintang Megah

WillsonEP
Chapter #20

Kebusukan Terbongkar!

Julian dan Jessica tiba di SMA Bintang Megah menggunakan taksi online. Sepeda listrik Jessica sengaja ditinggal di rumah Ardan untuk mempersingkat waktu karena jarak dari rumah Ardan ke SMA Bintang Megah lumayan jauh.

“Kamu yakin kita bakal masuk ke dalam? Gimana kalau kita sampai tertangkap? Ini sangat berbahaya, Jessica.”

“Tentu yakin, Julian. Aku nggak bisa membiarkan Kak Jazz tertahan di dalam sana lebih lama lagi. Kalau kamu tidak yakin, biarkan aku masuk sendiri. Kamu pulang saja.”

“Aku nggak akan biarin kamu masuk sendiri. Aku ikut.”

“Ya, sudah ayo masuk! Yah, gerbangnya terkunci. Gimana nih?”

“Terkunci ya? Terpaksa kita harus manjat pagar ini.”

“Pagarnya tinggi, Julian. Mana bisa aku manjat pagar setinggi ini.”

“Bisa, kok. Tingginya paling sekitar dua meter. Sekarang kamu injak tangan aku ini. Aku bakal angkat kamu naik.”

“Kamu yakin kuat?”

“Yakin.”

Jessica mulai melangkahkan kakinya menginjak telapak tangan Julian yang sudah bersiap di depan pagar.

“Nyampe ‘kan?”

“Iya, Julian.”

“Sekarang kamu masuk ke dalam.”

Okay. Kamu gimana?”

“Gampang. Ini aku mau naik.”

Julian langsung menaiki pagar tersebut dengan cepat.

“Turunnya aku gimana?”

“Ya tinggal turun, Jessica.”

“Ih, nggak bisa, Julian! Bantuin dong.”

Julian tersenyum kecil melihat pacarnya masih terjebak di pagar.

“Kok malah senyum-senyum sih! Bantuin aku ih.”

“Iya, iya aku bantu.”

-oOo-

Julian dan Jessica telah berada di depan ruangan kepala sekolah. Sebelumnya mereka telah mempersiapkan dua buah tongkat baseball serta masker gas respirator yang sengaja dibeli beberapa waktu lalu. Seusai persiapan, mereka pun menaiki lift menuju ruang bawah tanah.

“Semoga saja hari ini kita bisa ketemu sama Kak Jazz.”

“Amin.”

“Kok tumben ya gas yang waktu itu nggak keluar?”

“Ya, bagus dong. Memangnya kamu mau tertangkap lagi?”

“Ya nggaklah.”

“Sebentar lagi kita sampai di lantai yang kita tuju. Bersiaplah.”

“Aku siap.”

“3… 2 … 1 …”

Lift yang ditumpangi mereka berhenti di lantai yang dituju. Mereka pun mulai melakukan pemeriksaan terhadap ruangan yang ada di sana. Sudah lima ruangan lebih mereka periksa, tetapi belum menemukan apa-apa.

“Ruangan di sini banyak banget ya? Kak Jazz di ruangan mana ya?”

“Iya, banyak banget. Sudah delapan ruangan kita cek, masih belum ketemu juga.”

“Gimana kalau ruangan ini? Production room ini belum kita cek. Feeling aku sih Kak Jazz pasti ada di sini.”

“Boleh, tapi ingat ya bukanya pelan-pelan.”

“Iya, Julian. Aku tahu itu.”

Lihat selengkapnya