BAB 1
Cahaya di Malam yang Belum Reda
Desa itu terletak di lereng Gunung Kawi, tempat kabut turun lebih dulu daripada matahari naik, dan tempat orang-orang belajar berbicara pelan-pelan bukan karena sopan santun semata, melainkan karena luka yang belum lama menganga masih basah di banyak rumah. Tahun 1966 baru berjalan beberapa bulan, dan meskipun musim sudah berganti, sebagian penduduk desa masih hidup dengan cara menahan napas seolah suara yang terlalu keras bisa mengundang sesuatu yang tidak diinginkan datang lagi.
Di rumah joglo tua milik Sastrodiharjo, malam itu, suara justru tak bisa ditahan. Dari kamar belakang, suara Sriyati menahan sakit bersahutan dengan suara emak-emak yang sejak sore berkumpul membawa air, kain, dan doa-doa yang diucapkan dalam hati. Prawiro Sentono, suaminya, duduk di serambi bersama mertuanya, Sastrodiharjo yang oleh seluruh desa dipanggil Mbah Sastro dengan kepala tertunduk, bibir bergerak tanpa suara, melafalkan ayat-ayat yang ia hafal luar kepala sejak masih nyantri di Ponorogo puluhan tahun silam.
Mbah Sastro sudah terlalu sering duduk dalam posisi seperti ini. Menunggu. Menahan diri. Ia pernah menunggu dengan cara yang sama ketika istrinya, Marsiyah, berjuang melahirkan lima anaknya satu demi satu, dan kini ia menunggu lagi tiga tahun setelah Marsiyah pergi karena sakit yang tak juga sembuh meski sudah diupayakan dengan segala cara, dari mantri di kecamatan sampai doa-doa yang dipanjatkan sampai subuh. Sejak itu Mbah Sastro tidak lagi menikah. Bukan karena tak ada yang menawarkan di desa sekecil itu, seorang lurah yang gagah, alim, dan disegani tentu banyak yang berminat menjadi pendampingnya tetapi karena ia merasa cukup. Rumahnya sudah penuh oleh anak-anak dan kini cucu-cucu, dan kesendirian yang ia jalani perlahan berubah menjadi semacam kekuatan diam yang membuat warga desa semakin percaya kepadanya.
Sebab bukan hanya soal padi dan pupuk yang membuat Mbah Sastro dihormati. Ia hafal betul seluk-beluk warganya siapa yang berutang ke siapa, siapa yang diam-diam masih menangisi anggota keluarga yang hilang, siapa yang dulu ikut arisan di balai desa yang kini balai itu sendiri seperti enggan disebut namanya. Di zaman genting yang baru saja lewat, ketika tuduhan sebagai simpatisan bisa membuat nyawa seseorang melayang hanya dalam semalam, Mbah Sastro-lah yang berkali-kali berdiri di antara warganya dan orang-orang bersenjata yang datang dengan daftar nama. Ia tidak selalu berhasil. Ada nama yang tetap dibawa pergi dan tak pernah kembali. Tetapi ia berusaha membela dengan cara yang benar, tanpa gentar, dan karena itulah rumahnya menjadi semacam tempat rujukan tempat orang datang bukan hanya untuk urusan surat tanah, tetapi juga untuk sekadar duduk dan merasa aman.
Malam itu, ketika tangis pertama pecah dari kamar belakang, Prawiro Sentono berdiri begitu cepat hingga hampir menjatuhkan lampu teplok di sampingnya. Mbah Sastro menahan lengan menantunya.
“Sabar dulu, Nak. Biarkan simbah-simbah itu yang bekerja.”
Tidak lama kemudian, salah satu perempuan tua keluar dari kamar dengan wajah basah keringat tapi tersenyum lebar.
“Jabang bayi lanang, Pak Lurah! Sehat! Ibunya juga sehat!”
Mbah Sastro memejamkan mata sejenak. Bibirnya bergerak mengucap syukur, dan untuk pertama kalinya sejak kepergian Marsiyah, matanya berkaca-kaca bukan karena duka, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih hangat.
Sebelum siapa pun sempat menyentuh urusan nama, Prawiro Sentono sendiri yang masuk ke kamar, mengambil bayinya dari tangan dukun bayi dengan hati-hati, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga kanan sang anak. Suaranya bergetar menahan haru, tetapi lafalnya tetap jelas, mengalunkan azan pelan-pelan, kata demi kata, sebagaimana yang diajarkan Kyai Marzuki kepadanya bertahun-tahun lalu bahwa kalimat pertama yang harus didengar seorang bayi ke dunia adalah seruan kepada Tuhan, bukan yang lain. Setelah azan selesai, ia berpindah ke telinga kiri, membisikkan iqamah dengan cara yang sama khusyuknya, menandai bahwa kehidupan bayi itu, sejak detik pertama, sudah disandarkan pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Baru setelah itu, Mbah Sastro yang menerima bayi itu dari gendongan anaknya, membawanya mendekat ke lampu teplok, dan mulai menghitung weton dengan jari-jarinya sendiri.
Bayi laki-laki itu lahir tepat menjelang subuh, pada hari Senin Pahing menurut penanggalan Masehi yang dicatat mantri desa, tetapi bagi Mbah Sastro, yang lebih penting bukanlah tanggal itu, melainkan weton-nya: Senin Wage. Ia duduk semalaman menghitung dengan jarinya sendiri, mencocokkan hari dan pasaran, membuka lembar-lembar buku tua yang diwariskan turun-temurun, berisi petung Jawa yang diajarkan gurunya dulu di pondok.
“Senin Wage,” gumamnya pelan, hampir seperti mantra. “Anak ini punya watak yang dalam. Pendiam, tapi tajam pikirannya. Harus hati-hati mengasuhnya, jangan terburu-buru.”
Ia menatap bayi merah itu lama sekali, lalu memberinya nama lengkap: Damar Jati. Bukan nama yang muluk-muluk, bukan nama yang berbau kebesaran atau kekuasaan. Damar cahaya. Jati sejati, yang sesungguhnya. Bukan matahari yang membakar, bukan bulan yang jauh, melainkan cahaya kecil yang cukup untuk menuntun orang berjalan di tempat gelap, seukuran lampu teplok yang selama ini menemani malam-malam panjang di rumah itu namun cahaya yang sejati, yang tidak akan padam meski ditiup angin sekencang apa pun.
“Namamu Damar Jati, Nak,” bisiknya ke telinga cucunya, dengan suara yang nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali bayi itu sendiri. “Jadilah cahaya yang tidak mematikan sinar orang lain. Cukup menerangi jalan yang dekat, agar orang-orang bisa berjalan tanpa tersandung.”
Damar Jati tidur di rumah joglo itu untuk beberapa malam pertama, tapi begitu Sriyati cukup kuat berjalan, keluarga kecil itu pindah ke rumah mereka sendiri rumah yang berdiri persis di sebelah rumah Mbah Sastro, hanya dipisahkan oleh pagar bambu setinggi pinggang dan sebatang pohon sawo yang buahnya sering jatuh ke kedua halaman sekaligus. Jarak sedekat itu bukan kebetulan. Prawiro Sentono adalah anak sulung dari lima bersaudara, dan sejak dulu memang dialah yang diharapkan tinggal paling dekat dengan bapaknya, menjaga rumah induk, meneruskan apa yang perlu diteruskan.