BAB 2
Tiga Guru dalam Satu Anak
Tahun 1972 membawa perubahan kecil tapi terasa besar bagi keluarga di lereng Gunung Kawi itu: Damar Jati genap enam tahun, dan sesuai kebiasaan desa, saatnya ia didaftarkan ke Sekolah Rakyat yang belakangan orang-orang mulai terbiasa menyebutnya Sekolah Dasar satu-satunya bangunan berdinding tembok di desa itu selain masjid dan balai desa, berdiri di ujung jalan yang setiap pagi ramai oleh anak-anak berjalan kaki, sebagian tanpa alas kaki, membawa buku tulis yang sampulnya dilapisi daun pisang agar awet.
Prawiro Sentono sendiri yang mengantar hari pertama, meski Mbah Sastro sempat menawarkan diri untuk ikut. “Tidak usah, Pak,” kata Prawiro sambil tersenyum kecil. “Saya saja yang mengantar. Nanti Bapak yang menyambut kalau dia pulang.” Ada semacam kebanggaan kecil yang tak diucapkan di antara ayah dan anak itu bahwa untuk urusan sekolah, biarlah generasi yang lebih muda yang mengurus, sementara Mbah Sastro cukup menunggu di rumah dengan hati yang sama berdebar.
Damar Jati berdiri di depan gerbang sekolah dengan seragam merah-putih yang masih kaku, kain yang belum sepenuhnya lentur karena baru dijahit minggu itu juga oleh Sriyati sendiri di bawah lampu teplok, malam demi malam, sampai jari-jarinya kadang tertusuk jarum. Ia menggenggam tangan ayahnya erat-erat, menatap bangunan sekolah yang bagi anak sekecil itu terasa seperti dunia yang jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.
Dunia yang Berbeda-beda
Di sekolah, Damar Jati bertemu dengan seorang guru bernama Pak Slamet, lelaki paruh baya berkacamata tebal yang setiap pagi memimpin upacara kecil di halaman sekolah, mengibarkan bendera merah-putih yang kadang kusut karena angin gunung, lalu mengajarkan murid-muridnya untuk menghafal Pancasila dengan suara lantang, berulang-ulang, sampai kata-kata itu melekat di kepala anak-anak sebelum mereka benar-benar memahami artinya.
“Ketuhanan yang Maha Esa,” ucap Pak Slamet, dan seluruh kelas menirukan dengan suara yang belum kompak.
Di sekolah pula Damar Jati mendengar kata-kata baru: Indonesia, pembangunan, kemerdekaan, pahlawan. Pak Slamet bercerita tentang perjuangan melawan penjajah, tentang para pahlawan yang gugur demi tanah air, tentang cita-cita membangun bangsa yang besar. Damar mendengarkan dengan mata berbinar cerita-cerita itu terasa gagah, penuh semangat, dan sederhana: ada yang baik, ada yang jahat, dan yang baik selalu menang pada akhirnya.
Tetapi di rumah, dunia yang ia kenal jauh lebih rumit. Setiap malam, terutama pada malam-malam tertentu yang dianggap baik menurut petungan Jawa, Mbah Sastro akan duduk di serambi bersama Damar Jati, membuka lembar-lembar buku tua peninggalan leluhurnya, dan bercerita tentang hal-hal yang tidak pernah disebut Pak Slamet di sekolah: tentang Ken Arok, tentang kerajaan-kerajaan Jawa yang berdiri dan runtuh silih berganti, tentang leluhur yang harus dihormati bukan disembah, tentang weton dan pasaran yang menentukan watak seseorang sejak lahir.
“Pak Guru bicara soal Indonesia, Mbah,” kata Damar Jati suatu malam, duduk bersila di atas tikar pandan sambil menyandarkan kepala di lutut kakeknya. “Tapi Mbah kok bicara soal Jawa? Kok beda?”
Mbah Sastro tersenyum, membelai rambut cucunya yang masih tipis. “Tidak beda, Nak. Cuma waktunya yang beda. Indonesia itu rumah besar, Jawa itu salah satu kamar di dalam rumah itu. Kamu harus tahu keduanya, biar tidak kehilangan salah satu.”
Dan di masjid kecil dekat rumah, tempat Kyai Marzuki mengajar mengaji setiap ba’da Maghrib, Damar Jati mendapat dunia yang ketiga lagi: huruf-huruf Arab yang harus dihafal urutannya, doa-doa pendek yang harus dilafalkan sebelum makan dan sebelum tidur, dan kisah-kisah para nabi yang diceritakan Kyai Marzuki dengan suara yang tenang, hampir berbisik, seolah setiap kata terlalu berharga untuk diucapkan keras-keras.
Tiga dunia. Tiga guru. Dan Damar Jati, yang baru berusia enam tahun, mulai menyadari sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami sebagai sebuah pertanyaan hanya sebagai rasa ganjil yang mengendap di dadanya setiap malam sebelum tidur: mengapa tiga dunia itu tidak pernah benar-benar bertemu dalam satu cerita yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan Kecil