Bintang Panjer Wengi

Prasetya
Chapter #3

BAB 3 Sawah, Buku Tua, dan Pertanyaan tentang Kekuasaan

BAB 3

Sawah, Buku Tua, dan Pertanyaan tentang Kekuasaan

Tahun-tahun setelah Paidi berdiri di depan kelas itu, Damar Jati tumbuh menjadi anak yang semakin lekat dengan kakeknya. Bukan karena disuruh, bukan karena kewajiban seorang cucu sulung dari cucu sulung, melainkan karena ada sesuatu dalam diri Mbah Sastro yang membuat Damar merasa selalu ingin berada di dekatnya cara kakeknya berbicara pelan tapi penuh isi, cara ia memandang sesuatu yang tampak sederhana namun ternyata menyimpan makna yang lebih dalam.

Setiap pagi buta, sebelum ayam-ayam berkokok bersahutan dan sebelum kabut benar-benar turun menyelimuti pematang, Mbah Sastro sudah berjalan ke sawah, memikul cangkul di bahu kanannya, sementara di tangan kirinya biasanya tergenggam sebungkus nasi jagung yang dibawa untuk sarapan di tengah sawah. Damar Jati, yang usianya sudah menginjak sembilan tahun, mulai diizinkan ikut tidak setiap hari, hanya pada hari Minggu atau ketika sekolah libur, tetapi cukup sering hingga aroma tanah basah dan suara kodok di pagi hari menjadi bagian dari ingatannya yang paling awal tentang masa kecil.

Yang Diajarkan Sawah

“Sawah itu guru yang paling jujur, Nak,” kata Mbah Sastro suatu pagi, sambil menunjukkan cara memegang cangkul yang benar tidak terlalu erat, tidak terlalu longgar, sebagaimana banyak hal lain dalam hidup yang menurutnya harus dipegang dengan cara yang sama: cukup kuat untuk tidak lepas, cukup longgar untuk tidak mematahkan.

Damar Jati belajar banyak hal dari sawah yang tidak diajarkan Pak Slamet di sekolah maupun Kyai Marzuki di masjid. Ia belajar bahwa padi butuh air pada waktu yang tepat, tidak boleh terlalu banyak, tidak boleh terlalu sedikit. Ia belajar mengenali hama wereng dari daun yang menguning tak wajar. Ia belajar bahwa kerja keras seorang petani, dari subuh sampai matahari tenggelam, tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang didapat.

Suatu musim panen, ketika padi di sawah Mbah Sastro tumbuh subur dan bulirnya berat menunduk, seluruh keluarga bergembira membayangkan hasil yang melimpah. Tetapi ketika musim panen tiba dan gabah dibawa ke tengkulak di kecamatan, harga yang ditawarkan jauh lebih rendah dari yang diharapkan konon karena panen di mana-mana serentak bagus, sehingga harga jatuh dengan sendirinya. Di saat yang sama, harga pupuk yang harus dibeli untuk musim tanam berikutnya justru naik, entah karena alasan apa yang tidak pernah benar-benar dijelaskan kepada para petani.

Damar Jati, yang ikut menyaksikan wajah kecewa beberapa tetangga yang berkumpul di rumah Mbah Sastro membicarakan hal itu, bertanya dengan polos, “Mbah, kok sudah kerja capek-capek, panennya bagus, tapi kok tetap tidak cukup untuk membayar utang?”

Mbah Sastro menghela napas panjang sebelum menjawab. “Itu yang harus kamu perhatikan, Nak. Kerja sungguh-sungguh itu penting, tapi kerja sungguh-sungguh saja tidak selalu menentukan hasilnya. Ada perkara lain yang lebih besar daripada satu orang tani di sawah ini harga, perdagangan, siapa yang menentukan harga, siapa yang berkuasa. Orang tani cuma bisa memegang cangkul, tidak bisa menentukan harga gabahnya sendiri. Itu yang namanya…” Mbah Sastro sempat berhenti sejenak, seolah mencari kata yang tepat untuk anak seusia Damar “…struktur. Ada struktur yang lebih besar daripada satu orang.”

Kata “struktur” itu terdengar asing di telinga Damar Jati yang baru sembilan tahun. Tetapi ia menyimpannya, sebagaimana ia menyimpan banyak kata dan kalimat lain dari kakeknya, untuk dipikirkan lagi kelak ketika ia sudah cukup besar untuk benar-benar memahaminya.

Keesokan harinya, Damar melihat sendiri sisi lain dari kakeknya yang selama ini jarang ia perhatikan. Mbah Sastro, dengan blangkon dan surjannya yang biasa dipakai untuk urusan dinas, berangkat ke kantor kecamatan bersama dua kepala desa tetangga, membawa catatan harga gabah dari tiga musim terakhir yang ia kumpulkan sendiri dari warganya, untuk mengadukan permainan harga yang dicurigai dilakukan para tengkulak besar. Ia pulang sore hari dengan wajah lelah dan hasil yang tidak seberapa hanya janji bahwa harga akan “dipantau” tetapi tetap saja berangkat lagi minggu berikutnya, karena baginya, kata-katanya sendiri, “biar tidak berhasil pun, warga harus tahu ada yang memperjuangkan, bukan dibiarkan begitu saja.”

Buku-buku Tua

Lihat selengkapnya