BAB 4
Teman yang Tidak Boleh Disebut
Tahun 1978, Damar Jati memasuki bangku SMP sekolah yang letaknya lebih jauh dari rumah, mengharuskannya bersepeda ontel tua peninggalan pamannya yang hilang, melewati dua desa sebelum sampai di gedung sekolah yang lebih besar dari SD dulu. Bimo, sahabatnya sejak kelas empat, ternyata bersekolah di tempat yang sama, dan setiap pagi mereka berdua janjian bertemu di simpang jalan, lalu bersepeda beriringan sambil bercerita apa saja dari pelajaran yang baru mereka terima sampai gosip-gosip kecil tentang guru-guru yang menurut mereka galak tanpa alasan jelas.
Persahabatan mereka, yang dulu sekadar urusan memancing dan bermain layang-layang, kini bertambah dengan hal baru: berdebat. Bimo punya cara berpikir yang tajam, sering mempertanyakan hal-hal yang oleh anak-anak lain dianggap sudah semestinya begitu. Damar Jati, yang sejak kecil terbiasa mendengarkan banyak sebelum berbicara, menemukan dalam diri Bimo seorang lawan bicara yang membuatnya harus benar-benar berpikir, bukan sekadar mengangguk setuju.
“Damar, menurutmu, kenapa Tuhan mengizinkan orang jahat hidup senang, sementara orang baik malah susah?” tanya Bimo suatu sore, ketika mereka berdua duduk di tepi sungai sambil menunggu kail memancing bergerak.
Damar Jati terdiam lama, mengingat kata-kata Mbah Sastro tentang dunia yang tidak selalu hitam-putih. “Entah, Bim. Mbahku pernah bilang, hidup ini banyak yang abu-abu. Mungkin tidak semua perkara bisa dijawab langsung.”
“Tapi kok kamu tidak penasaran mencari jawabannya?”
“Penasaran. Tapi Mbahku juga bilang, ada pertanyaan yang seharusnya dirasakan lama, tidak buru-buru dicari jawabannya.”
Bimo tertawa kecil. “Mbahmu itu memang seperti guru ngaji, Mar. Tapi bukan guru ngaji.”
Keduanya tertawa bersama, tanpa tahu bahwa persahabatan yang terasa begitu ringan dan alami itu, tak lama lagi, akan diuji oleh sesuatu yang jauh lebih berat daripada perdebatan tentang takdir dan keadilan Tuhan.
Nama yang Dijaga Jarak
Bimo bukan anak sembarangan di mata sebagian orang dewasa di desa. Ayahnya, yang sudah lama meninggal sebelum Bimo cukup besar untuk mengingatnya dengan jelas, dulu dikenal sebagai salah satu orang yang aktif dalam organisasi tani di kecamatan organisasi yang, pada masa gejolak 1965, dicap terlalu dekat dengan gerakan yang kemudian dinyatakan terlarang. Ayah Bimo sendiri tidak pernah terbukti melakukan kejahatan apa pun; ia hanya pernah datang ke beberapa pertemuan, ikut membicarakan soal pembagian tanah yang lebih adil bagi petani penggarap, sebelum akhirnya, seperti begitu banyak orang lain pada masa itu, dijemput suatu malam dan tak pernah kembali.
Ibunya, seorang perempuan yang kini membesarkan Bimo dan dua adiknya sendirian dengan berjualan jamu gendong keliling desa, hidup dalam bayang-bayang nama yang menempel pada keluarganya sebuah nama yang, meski tidak pernah diucapkan langsung di depan mereka, terasa hadir di setiap tatapan curiga, di setiap perbincangan yang tiba-tiba berhenti ketika mereka lewat, di setiap undangan hajatan desa yang entah kenapa sering “terlupa” untuk sampai ke rumah mereka.
Damar Jati tidak sepenuhnya memahami semua itu. Bagi Damar, Bimo hanyalah Bimo sahabat yang cerdas, yang suka berdebat, yang selalu berbagi separuh nasi bungkusnya jika Damar lupa membawa bekal. Ia tidak tahu tentang ayah Bimo yang hilang. Ia tidak tahu tentang catatan-catatan lama di kantor kecamatan yang menandai keluarga itu dengan kode tertentu, yang membuat ibu Bimo kesulitan mendapatkan kartu penduduk yang bersih dari catatan, yang membuat Bimo sendiri kelak, ketika lulus SMA, akan menghadapi kesulitan berlipat untuk melanjutkan sekolah atau melamar pekerjaan tertentu sesuatu yang disebut orang-orang dengan istilah samar “ET”, eks tapol, meski Bimo sendiri bahkan belum lahir ketika semua itu terjadi.
Suatu sore, sepulang bermain bersama Bimo di sungai, Damar Jati pulang dengan wajah ceria, menceritakan kepada ibunya tentang ikan yang berhasil mereka pancing hari itu. Sriyati mendengarkan sambil tersenyum, tetapi ketika Damar menyebut nama Bimo, ada perubahan kecil di wajah ibunya perubahan yang nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat Damar merasa ada sesuatu yang janggal.
Malam itu, ketika Damar sudah masuk kamar, ia mendengar suara ibunya dan ayahnya berbicara pelan di ruang depan.
“Pak, aku agak khawatir. Damar kok makin akrab berteman dengan Bimo.”