BAB 5
Dua Dunia yang Semakin Lebar
Tahun 1980, Damar Jati lulus SMP dengan nilai yang cukup baik untuk diterima di SMA Negeri di kota kecamatan sekolah yang jauh lebih besar dari SMP-nya dulu, dengan murid-murid yang datang dari berbagai desa, bahkan beberapa dari kota kabupaten yang sengaja pindah karena reputasi sekolah itu yang dianggap lebih baik. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Damar harus menempuh perjalanan yang lebih jauh dari sekadar bersepeda melewati dua desa ia harus naik angkutan pedesaan yang disebut warga sebagai “colt”, berdesakan dengan penumpang lain, berhenti dan berjalan lagi setiap kali ada yang naik-turun di sepanjang jalan berkelok menuruni lereng gunung.
Dunia yang menyambutnya di SMA jauh lebih luas daripada apa pun yang pernah ia bayangkan. Di sana, Damar bertemu dengan anak-anak dari latar belakang yang sangat berbeda-beda anak pedagang besar di pasar kecamatan yang setiap hari diantar-jemput naik motor, anak seorang camat yang seragamnya selalu tampak baru dan rapi, hingga anak-anak seperti dirinya sendiri, dari desa-desa di lereng gunung, yang harus berangkat sebelum subuh agar tidak terlambat.
Buku, Debat, dan Dunia yang Membesar
Perpustakaan sekolah, meski koleksinya tidak terlalu banyak, menjadi tempat favorit Damar Jati di sela-sela jam istirahat. Ia mulai membaca lebih banyak bukan hanya buku-buku tua warisan Mbah Sastro tentang Jawa dan kerajaan-kerajaan silam, tetapi juga buku-buku pelajaran sejarah nasional, majalah-majalah lama yang disumbangkan alumni, bahkan sesekali koran bekas yang dibawa salah satu guru dari kota.
Di kelas, Damar Jati yang dulu dikenal sebagai anak pendiam di SD dan SMP mulai lebih berani angkat bicara, meski tetap dengan caranya sendiri: tidak asal bicara untuk terlihat pintar, melainkan hanya ketika ia benar-benar punya sesuatu untuk dikatakan, biasanya setelah berpikir cukup lama. Guru sejarahnya, Bu Hartini, seorang perempuan muda lulusan IKIP yang caranya mengajar lebih terbuka untuk diskusi dibandingkan guru-guru lain, mulai memperhatikan cara Damar bertanya pertanyaan yang sering membuat teman-temannya terdiam sejenak sebelum ikut berpikir.
“Bu, kalau Indonesia negara yang berdasar Pancasila, kenapa masih banyak rakyat yang hidup susah, sementara yang kaya makin kaya?” tanyanya suatu hari, dalam pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, membuat kelas hening sejenak.
Bu Hartini tidak langsung menjawab, hanya tersenyum kecil. “Pertanyaan bagus, Damar. Itu pertanyaan yang bahkan para pemimpin negara kita sendiri masih terus mencari jawabannya. Ibu tidak akan memberimu jawaban gampang, karena kalau ada jawaban gampang, mungkin masalahnya sudah selesai dari dulu.”
Jawaban semacam itu, yang tidak memberi kepastian tetapi justru membuka ruang untuk terus bertanya, membuat Damar semakin menyukai pelajaran itu berbeda dengan cara Pak Slamet dulu di SD yang menuntut hafalan tanpa banyak ruang untuk mempertanyakan.
Damar juga mulai berdebat lebih sering dengan Bimo, yang meski bersekolah di sekolah berbeda karena alasan biaya, tetap rutin bertemu setiap akhir pekan. Perdebatan mereka kini menyentuh hal-hal yang lebih besar tentang pembangunan yang digembar-gemborkan pemerintah, tentang mengapa jalan-jalan di kota kecamatan mulus beraspal sementara jalan menuju desa mereka masih berupa tanah berbatu yang becek setiap musim hujan, tentang mengapa sekolah-sekolah di kota tampak jauh lebih lengkap fasilitasnya dibandingkan sekolah mereka.
Ketertarikan Baru