Bintang Panjer Wengi

Prasetya
Chapter #6

BAB 6 Pertarungan Pertama

BAB 6

Pertarungan Pertama

Awal tahun 1982, sebuah surat edaran dari kantor wilayah pendidikan kecamatan sampai ke meja kepala sekolah SMA tempat Damar Jati dan teman-temannya belajar. Isinya sederhana di atas kertas: setiap siswa kelas dua dan tiga diwajibkan mengikuti program tambahan sore hari, tiga kali seminggu, dengan biaya yang harus ditanggung sendiri oleh murid program yang disebut “pembinaan mental dan disiplin”, meski tidak seorang pun benar-benar tahu persis apa isinya selain baris-berbaris dan ceramah tentang kedisiplinan nasional.

Bagi anak-anak seperti Hendra dan Gunawan, biaya tambahan itu tidak lebih dari uang jajan seminggu. Tapi bagi sebagian besar murid lain anak-anak dari desa-desa di lereng gunung seperti Damar dan puluhan lainnya biaya itu berarti harus meminta tambahan uang dari orang tua yang sudah kesulitan membiayai sekolah sebagaimana adanya, atau bahkan berarti sore hari yang seharusnya dipakai membantu di sawah atau berjualan di pasar harus dikorbankan untuk hal yang manfaatnya tidak jelas.

 

Dua Kubu

Kabar tentang aturan baru itu menyebar cepat di kalangan murid kelas dua dan tiga. Dalam waktu kurang dari seminggu, sekolah yang biasanya tenang itu terbelah menjadi dua kubu yang tidak selalu terlihat jelas batasnya, tapi terasa oleh siapa pun yang cukup peka memperhatikan suasana di lorong-lorong kelas.

Kubu pertama, dipimpin tanpa deklarasi resmi oleh Yusuf kakak kelas yang sejak dulu menggerakkan “Kelompok Kamis Sore” mendorong murid-murid untuk menolak program itu secara terbuka. Yusuf berpendapat bahwa sekolah tidak berhak membebankan biaya tambahan tanpa persetujuan wali murid, dan bahwa “pembinaan mental” semacam itu tidak lebih dari cara pihak berwenang mengendalikan pikiran generasi muda sejak dini.

“Kalau kita diam saja, kita mengajari diri sendiri untuk terus diam seumur hidup,” katanya berapi-api dalam salah satu pertemuan Kelompok Kamis Sore yang kali itu dihadiri lebih banyak orang dari biasanya. “Kalau bukan sekarang kita belajar bicara, kapan lagi?”

Kubu kedua, yang jumlahnya sebenarnya tidak kalah banyak meski suaranya jauh lebih pelan, terdiri dari murid-murid yang takut takut dicap sebagai pembangkang, takut nilai rapornya terpengaruh, takut orang tuanya dipanggil ke sekolah dan dianggap tidak mendukung program pemerintah. Beberapa dari mereka, termasuk Gunawan, bahkan diam-diam merasa program itu tidak masalah toh mereka mampu membayarnya tanpa berpikir dua kali.

Damar Jati sendiri, sebagaimana kebiasaannya sejak kecil, tidak langsung memihak salah satu kubu. Ia mendengarkan Yusuf berbicara dengan penuh semangat, dan merasa ada kebenaran dalam kata-katanya aturan itu memang terasa berat sebelah, dibuat tanpa mempertimbangkan murid-murid yang kondisi ekonominya berbeda-beda. Tetapi ia juga mendengar kekhawatiran teman-teman yang lebih memilih diam, dan tidak bisa begitu saja menyalahkan mereka sebagai pengecut.

“Bim, piye pendapatmu?” tanya Damar suatu sore, ketika mereka berdua duduk di tepi sungai seperti biasa meski kali ini Damar segera mengoreksi ucapannya sendiri ke Bahasa Indonesia, kebiasaan yang mulai tumbuh sejak mereka lebih sering membaca buku dan koran berbahasa Indonesia di sekolah. “Bagaimana pendapatmu?”

Bimo tersenyum tipis mendengar Damar mengoreksi diri sendiri. “Menurutku, aturan itu memang tidak adil, Mar. Tapi aku juga tahu rasanya jadi orang yang diam-diam takut, karena namaku sudah dicap sejak lahir. Aku tidak akan menyalahkan siapa pun yang memilih diam sekarang, karena aku tahu persis beratnya jadi orang yang berani bersuara ketika keadaanmu sudah rentan.”

Jawaban Bimo itu, yang datang dari pengalaman pahitnya sendiri sebagai anak yang dibesarkan dalam bayang-bayang stigma keluarga, membuat Damar semakin yakin bahwa persoalan ini tidak sesederhana memilih menolak atau menurut.

 

Mencoba Menjadi Penengah

Suatu sore, ketika ketegangan di antara dua kubu semakin terasa bahkan sempat terjadi adu mulut kecil di kantin sekolah antara beberapa murid pendukung Yusuf dan beberapa murid yang menganggap mereka terlalu berlebihan Damar Jati memberanikan diri mengambil langkah yang tidak biasa baginya: ia mengusulkan sebuah pertemuan bersama, mengundang perwakilan dari kedua kubu, untuk duduk bersama alih-alih terus saling curiga di belakang.

“Kenapa kita tidak bicarakan bersama-sama saja, bukan cuma berdebat di lorong-lorong dan kantin?” katanya kepada Yusuf, yang awalnya ragu tapi akhirnya setuju, terutama karena Damar dikenal sebagai murid yang tidak memihak siapa pun secara membabi buta.

Pertemuan itu digelar sepulang sekolah, di ruang kelas yang kosong, dihadiri sekitar lima belas murid dari kedua kubu, termasuk Yusuf, Gunawan, Bimo, dan beberapa murid lain yang selama ini lebih banyak diam. Damar Jati, tanpa benar-benar merencanakan untuk menjadi pemimpin pertemuan itu, mendapati dirinya berdiri di depan kelas, menjelaskan maksud pertemuan itu dengan suara yang ia usahakan setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang.

Lihat selengkapnya