Bintang Panjer Wengi

Prasetya
Chapter #7

BAB 7 Cinta Pertama dan Kehilangan Pertama

BAB 7

Cinta Pertama dan Kehilangan Pertama

Tahun terakhir di SMA membawa perubahan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Damar Jati, yang usianya kini menginjak tujuh belas tahun, mendapati dirinya semakin sering memikirkan Retno bukan lagi sekadar ketertarikan malu-malu seperti dua tahun sebelumnya, melainkan sesuatu yang terasa lebih dalam, lebih ingin ia jaga, meski ia sendiri masih kesulitan menemukan kata yang tepat untuk menyebutnya.

Setelah peristiwa pertemuan yang berakhir ricuh di Bab sebelumnya, nama Damar justru semakin dikenal di kalangan murid-murid seangkatannya bukan sebagai pahlawan seperti Yusuf yang berapi-api, melainkan sebagai sosok yang, entah kenapa, orang-orang merasa bisa dipercaya untuk bicara jujur. Retno adalah salah satu yang memperhatikan hal itu.

“Kamu itu aneh, Mar,” katanya suatu hari, ketika mereka berdua kebetulan pulang bersama karena kelompok belajar yang sama harus menyelesaikan tugas di rumah salah satu teman. “Kamu bisa bikin dua kubu yang lagi berantem duduk bareng, tapi kalau ditanya soal dirimu sendiri, kamu malah diam.”

Damar tertawa kecil, mencoba menutupi rasa gugup yang tiba-tiba muncul. “Mungkin karena menengahi orang lain lebih gampang daripada mengerti diri sendiri.”

Retno menatapnya sejenak, seperti sedang menimbang sesuatu. “Itu jawaban yang lumayan dalam, untuk orang yang katanya tidak suka bicara soal dirinya sendiri.”

 

Dua Dunia yang Berjalan Bersama

Hubungan mereka tumbuh bukan lewat kata-kata besar atau pengakuan yang dramatis, melainkan lewat hal-hal kecil yang terjadi berulang kali sepanjang tahun itu: Retno yang meminjamkan catatan pelajaran matematika yang tulisannya jauh lebih rapi daripada milik Damar, Damar yang selalu menyisakan satu jajanan pasar dari bekalnya untuk dibagi berdua saat istirahat, keduanya yang sering berjalan pulang bersama sejauh yang bisa mereka tempuh sebelum jalan mereka berpisah arah Retno menuju rumahnya di desa tetangga yang lebih dekat ke kota kecamatan, Damar menuju lereng gunung yang jauh lebih terpencil.

Ayah Retno, seorang guru SD yang dikenal disiplin tapi tidak kaku, awalnya memandang kedekatan anak gadisnya dengan Damar Jati dengan sedikit kecurigaan, sebagaimana lazimnya seorang ayah. Tapi setelah beberapa kali Damar berkunjung ke rumah mereka selalu dengan sopan, selalu membawa sesuatu yang sederhana seperti hasil kebun Mbah Sastro, dan selalu berbicara dengan cara yang membuatnya terdengar lebih tua dari usianya kecurigaan itu perlahan berubah menjadi semacam penghormatan yang jarang diberikan seorang ayah kepada anak muda yang mendekati putrinya.

“Kamu ini bicara kayak orang tua, Le,” kata ayah Retno suatu kali, setengah bercanda, setengah serius, setelah mendengar Damar menjelaskan pandangannya tentang pendidikan dengan cara yang menurutnya terlalu matang untuk anak SMA. “Siapa yang mengajarimu bicara begitu?”

“Kakek saya, Pak,” jawab Damar sederhana. “Beliau lurah di desa saya.”

Mendengar itu, raut wajah ayah Retno sedikit berubah bukan karena terkesan oleh jabatan, melainkan karena nama Sastrodiharjo, meski desanya cukup jauh, ternyata sampai juga terdengar sebagai nama yang dihormati bahkan di luar wilayahnya sendiri, terutama di kalangan sesama pamong desa dan guru-guru yang sering berurusan dengan kantor kecamatan.

“Sastrodiharjo dari desa lereng Kawi? Yang katanya tidak pernah mau tanda tangan kalau merugikan warganya sendiri?”

Damar tersenyum, sedikit bangga meski berusaha tidak menunjukkannya berlebihan. “Betul, Pak. Itu kakek saya.”

 

Bayang-bayang Struktur Sosial

Namun, seiring waktu, Damar Jati mulai menyadari sesuatu yang tidak sepenuhnya menyenangkan: meski keluarganya dihormati karena nama Mbah Sastro, secara ekonomi mereka tetaplah keluarga petani biasa, sementara keluarga Retno, meski bukan kaya raya, hidup dengan standar yang sedikit lebih mapan sebagai keluarga seorang guru pegawai negeri gaji tetap setiap bulan, rumah dengan lantai keramik, bahkan sebuah radio transistor yang selalu menyala di sore hari.

Perbedaan itu tidak pernah diucapkan secara terbuka oleh siapa pun, tapi terasa dalam hal-hal kecil: ketika teman-teman sekelas mulai membicarakan rencana melanjutkan kuliah ke kota besar, Retno bisa berbicara dengan yakin tentang kemungkinan itu, sementara Damar hanya bisa mendengarkan, tidak yakin apakah keluarganya mampu membiayai kuliah, atau apakah ia harus membantu di sawah dan mengurus desa bersama kakeknya yang semakin menua.

Suatu sore, ketika mereka berdua duduk di beranda rumah Retno menunggu hujan reda, Retno bertanya dengan nada yang lebih serius dari biasanya. “Mar, kamu mau kuliah setelah lulus nanti?”

Lihat selengkapnya