Bintang Panjer Wengi

Prasetya
Chapter #8

BAB 8 Wasiat di Bawah Lampu Teplok

BAB 8

Wasiat di Bawah Lampu Teplok

Hasil pemeriksaan yang tidak lengkap dari mantri kecamatan itu, pada akhirnya, tidak pernah benar-benar ditindaklanjuti. Mbah Sastro tetap menolak dibawa ke rumah sakit kota, dan sebagai gantinya, ia mulai mengatur hidupnya dengan cara yang perlahan-lahan disadari seluruh keluarga sebagai persiapan meski tidak seorang pun berani mengucapkannya secara terbuka.

Ia mulai memanggil satu per satu perangkat desa yang lebih muda, mengajarkan hal-hal yang selama ini hanya ia sendiri yang tahu: di mana catatan-catatan lama tentang batas tanah warga tersimpan, bagaimana cara menyelesaikan sengketa waris tanpa membuat kedua pihak merasa kalah, siapa saja warga yang perlu diperhatikan secara khusus karena kondisi mereka yang rentan. Ia juga mulai lebih sering memanggil anak-anaknya yang tinggal jauh untuk sekadar berkunjung, meski tidak pernah mengatakan alasan sebenarnya di balik undangan-undangan itu.

Kepada Damar Jati, perubahan itu terasa paling nyata lewat cara Mbah Sastro mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya di malam hari bukan lagi sekadar bercerita tentang Ken Arok atau kerajaan-kerajaan Jawa, melainkan mulai membuka lembar demi lembar buku tua yang selama ini tersimpan di lemari kayu, menjelaskan satu per satu catatan silsilah keluarga, makna di balik weton-weton anggota keluarga, dan hal-hal lain yang menurutnya penting untuk diwariskan sebelum terlambat.

 

Malam-malam Terakhir

Suatu malam di awal tahun 1985, tak lama setelah Damar Jati merayakan usianya yang kesembilan belas usia yang menandakan ia hampir menyelesaikan masa SMA-nya Mbah Sastro memanggilnya dengan cara yang berbeda dari biasanya.

“Damar,” katanya, suaranya terdengar lebih lemah dari yang pernah Damar dengar sebelumnya, “duduklah dekat-dekat. Mbah ingin bicara banyak malam ini.”

Damar duduk mendekat, memperhatikan wajah kakeknya di bawah cahaya lampu teplok yang bergoyang pelan ditiup angin malam. Ada sesuatu di mata Mbah Sastro malam itu bukan ketakutan, melainkan semacam ketenangan yang aneh, seolah ia sudah membuat perdamaian dengan sesuatu yang belum diketahui Damar sepenuhnya.

“Mbah mau cerita tentang buku ini,” katanya, mengangkat buku tua yang sampulnya sudah lusuh dimakan usia, yang selama bertahun-tahun menjadi sumber begitu banyak kisah yang membentuk cara pandang Damar terhadap dunia. “Buku ini bukan cuma catatan weton dan silsilah, Nak. Ini juga catatan tentang kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat leluhur kita, dan pelajaran yang mereka petik darinya. Mbah ingin buku ini jadi milikmu sekarang.”

“Kenapa sekarang, Mbah? Bapak kan anak tertua, harusnya buku ini diwariskan ke Bapak dulu.”

Mbah Sastro tersenyum lemah. “Bapakmu sudah punya jalannya sendiri, Nak jalan sebagai petani yang jujur dan bapak yang baik, dan itu sudah cukup mulia. Tapi buku ini, dengan segala pertanyaan yang ada di dalamnya tentang kekuasaan, tentang kebenaran, tentang bagaimana manusia mencari Tuhan lewat jalan yang berbeda-beda buku ini cocoknya untuk orang yang punya rasa ingin tahu sepertimu, Nak. Sejak kamu kecil, Mbah sudah tahu, kelak kamu yang akan meneruskan pertanyaan-pertanyaan ini, bukan sekadar menyimpannya.”

Ia membuka halaman terakhir buku itu, menunjukkan tulisan tangan yang sudah agak pudar tapi masih bisa dibaca jelas tulisan yang, Damar baru sadar malam itu, sudah ditulis Mbah Sastro sejak bertahun-tahun lalu, mungkin sejak malam kelahirannya sendiri.

Damar Jati   Senin Wage. Lahir pada zaman ketika banyak orang takut kepada masa lalu. Semoga ia kelak tidak takut mencari kebenaran.

Damar membaca tulisan itu berulang kali, matanya memanas menahan air mata yang mencoba keluar. “Mbah menulis ini sejak saya lahir?”

“Sejak malam kamu lahir, Nak. Mbah sudah menduga, dari cara kamu menangis malam itu bukan tangisan yang panik, melainkan tangisan yang seperti sedang memprotes sesuatu bahwa kamu akan jadi anak yang banyak bertanya. Dan benar saja.”

 

Pesan Terakhir

Malam itu, setelah lama terdiam menikmati kehangatan yang jarang mereka rasakan bersama dengan cara seintens itu, Mbah Sastro berbicara lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih serius, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya sudah dipikirkan matang-matang selama bertahun-tahun.

“Damar, Mbah ingin kamu ingat baik-baik apa yang akan Mbah katakan sekarang, karena ini mungkin yang paling penting dari semua yang pernah Mbah ajarkan padamu.”

Lihat selengkapnya