EPILOG
Yang Dibawa Pergi, Yang Ditinggalkan
Pertengahan tahun 1985. Pagi itu, kabut turun lebih lambat dari biasanya di lereng Gunung Kawi, seolah alam sendiri sedang memberi waktu tambahan bagi siapa pun yang ingin melihat desa itu sekali lagi sebelum semuanya berubah.
Damar Jati berdiri di jalan desa, tepat di depan rumahnya sendiri, dengan sebuah tas kain sederhana tersampir di bahu berisi beberapa lembar pakaian, sedikit uang hasil tabungan yang dikumpulkannya diam-diam selama dua tahun terakhir dari menjual hasil kebun, dan satu benda yang paling berharga dari semuanya: buku tua warisan Mbah Sastro, dibungkus rapi dengan kain batik lungsuran, diselipkan hati-hati di bagian paling dalam tasnya agar tidak rusak sepanjang perjalanan.
Di belakangnya, berdiri rumah yang telah membesarkannya sembilan belas tahun rumah sederhana yang bersebelahan dengan rumah joglo yang kini terasa terlalu sunyi tanpa suara Mbah Sastro. Di sampingnya, pohon sawo yang buahnya dulu sering jatuh berdua ke halaman rumah mereka, kini berdiri diam seolah ikut menyaksikan kepergian yang akan terjadi pagi itu.
Pamitan
Sriyati memeluk anaknya erat-erat, air mata yang sejak semalam ia coba tahan akhirnya jatuh juga. “Jaga diri baik-baik, Le. Jangan lupa makan. Jangan lupa salat. Jangan lupa kirim kabar.”
“Saya akan kirim kabar, Bu. Saya janji,” jawab Damar, suaranya bergetar menahan haru.
Prawiro Sentono, yang biasanya tidak banyak menunjukkan emosinya secara terbuka, menepuk pundak anaknya dengan tangan yang sedikit gemetar. “Bapak dan Ibu bangga sama kamu, Damar. Bapakmu ini cuma petani biasa, tidak pernah bisa memberimu banyak hal. Tapi kamu sudah tumbuh jadi lebih dari yang pernah Bapak bayangkan.”
“Bapak sudah memberi saya semuanya,” kata Damar, memeluk ayahnya. “Rumah, keluarga, contoh bagaimana jadi orang jujur. Itu lebih dari cukup.”
Bimo datang pagi itu juga, membawakan sekantung jajanan pasar untuk bekal perjalanan Damar kebiasaan kecil yang sudah mereka lakukan sejak kanak-kanak, kini menjadi semacam ritual perpisahan yang tidak pernah mereka rencanakan sebelumnya.
“Jangan lupa sama kampung halaman, Mar,” kata Bimo, berusaha membuat suasana tidak terlalu sendu dengan nada bercanda yang dipaksakan. “Kalau kamu jadi orang besar di kota nanti, jangan pura-pura tidak kenal aku.”
Damar tertawa, meski matanya berkaca-kaca. “Mbah pernah bilang, jangan jadi orang besar, Bim. Jadi orang yang berguna saja. Dan orang yang berguna tidak akan pernah lupa sama sahabatnya sendiri.”
Kedua sahabat itu berpelukan lama, tanpa perlu kata-kata lebih banyak sebuah pelukan yang menyimpan begitu banyak kenangan: memancing di sungai, berdebat tentang takdir dan keadilan Tuhan, dan momen ketika Damar memilih duduk di pinggir jalan bersama Bimo yang tak diundang ke sebuah hajatan, bertahun-tahun lalu, sebuah keputusan kecil yang ternyata menjadi salah satu benih terpenting dalam membentuk siapa Damar hari ini.