Pukul tujuh empat puluh lima pagi, dan Anindya Kirana Wijaya sudah berdiri di depan pintu kaca Gedung Cendana Lima selama tiga menit penuh, hanya untuk menatap pantulan dirinya sendiri dan bertanya, "Oke. Lo bisa. Lo cuma karyawan baru biasa. Bukan siapa-siapa."
Seorang petugas keamanan dari dalam memperhatikannya dengan tatapan curiga, seolah-olah sedang menimbang apakah perlu memanggil bantuan. Andin buru-buru mendorong pintu dan melangkah masuk dengan senyum yang dipaksakan selebar mungkin.
"Selamat pagi, Pak. Saya... saya karyawan baru. Hari ini hari pertama," katanya,sambil menyodorkan KTP yang sudah dipegangnya sejak di taksi, sampai pinggirannya agak basah karena tangannya berkeringat.
Satpam itu memandangi foto KTP, lalu memandangi wajah Andin, lalu memandangi foto KTP lagi.
"Mbak, pernah ketemu saya di mana, ya? Familiar banget."
Jantung Andin langsung berdebar tiga kali lebih cepat dari biasanya. Ini dia. Momen yang ditakutkannya sejak dua tahun lalu. Satu kalimat lagi dan—
"Mungkin, Mbak tetangga saya di Bekasi? Yang suka beli gorengan di depan komplek?"
Andin menghela napas panjang, antara lega dan ingin tertawa. "Bukan, Pak. Saya baru pindah ke Jakarta."
"Oh. Ya udah, mirip aja kali. Silakan, Mbak, lift di sebelah kanan. Lantai delapan, divisi kreatif."
"Terima kasih, Pak."
Andin berjalan ke lift sambil menahan diri untuk tidak tertawa histeris karena lega. Tukang gorengan di Bekasi. Oke. Itu bukan yang terburuk yang pernah gue dengar. Dua tahun lalu, kalimat seperti itu akan diikuti teriakan, foto candid yang diunggah ke Twitter dalam waktu kurang dari semenit, dan caption seperti "OMG ITU KIKI ASTRAEA KAN?? DI MALL INI!!" Sekarang, untungnya, dia cuma mirip tukang gorengan langganan seseorang.
Dia menatap pantulan dirinya di pintu lift logam yang mengilap. Rambut yang dulu selalu diwarnai cokelat karamel sesuai konsep comeback sekarang sudah kembali hitam alami, dipotong sebahu, simpel. Tidak ada lagi riasan tebal yang dirancang khusus untuk kamera definisi tinggi. Hanya bedak tipis, lip tint, dan kacamata berbingkai bulat yang—menurut teorinya—membuat orang sulit mengenalinya. Selama dua tahun terakhir, teori itu Sebagian besar berhasil.
Pintu lift terbuka di lantai delapan, dan suara musik pop yang diputar dari speaker bluetooth seseorang langsung menyambutnya, bercampur dengan obrolan dan suara keyboard yang diketik cepat. Ruangan open-space dengan dinding kaca, meja-meja berwarna-warni, dan poster-poster kampanye iklan tertempel di mana-mana. Ini Orbit Kreasi—agensi periklanan menengah yang, menurut hasil pencarian Andin semalam, terkenal karena dua hal: kampanye-kampanye mereka yang sering viral, dan reputasi Creative Director mereka yang menurut sebuah forum anonim "lebih dingin dari AC kantor yang disetel 16 derajat."
"Halo! Lo pasti Andin, ya?"
Seorang perempuan dengan kemeja kotak-kotak dan kacamata besar bergegas menghampirinya, membawa dua gelas kertas kopi.
"I-iya. Anindya. Tapi panggil aja Andin," jawabnya, mengulurkan tangan.
"Sastika. Tapi semua orang panggil Sasti, kecuali ibu gue, yang masih ngotot manggil gue 'Tika sayang' di depan klien, yang... ya, gak usah dibahas." Sasti menyodorkan satu gelas kopi. "Ini buat lo. Karamel macchiato, gue tebak-tebak aja lo suka yang manis, soalnya muka lo muka orang yang suka yang manis-manis."
Andin tertawa kecil, menerima kopinya. "Makasih banget. Tapi gimana lo tahu nama gue?"
"Bu Retno ngirim email ke seluruh divisi kreatif kemarin sore. 'Mohon sambut Anindya Kirana Wijaya, copywriter baru kita.' Terus gue langsung mikir, oke, ini calon korban selanjutnya yang harus gue selamatkan sebelum kena terjang Pak Es."
"Pak Es?"
Sasti berhenti berjalan, menatap Andin dengan ekspresi serius yang dilebih-lebihkan, seperti orang yang akan menyampaikan kabar duka.
"Lo belum pernah denger soal Pak Es?"
"Belum. Siapa dia?"
"Oke, duduk dulu," kata Sasti, menarik kursi di meja kosong di sebelah mejanya sendiri—yang ternyata memang meja baru Andin, lengkap dengan nama "ANINDYA K. W." tertempel di plastik label di atas monitor. "Ini penting. Ini soal kelangsungan hidup lo di kantor ini."
Andin duduk, agak gentar dengan intro dramatis itu. "Oke, gue dengerin."
"Nama aslinya Galang Atmaja Nugroho. Creative Director kita. Umur dua puluh sembilan, tapi auranya kayak umur empat puluh lima yang capek sama dunia. Orang panggil dia Pak Es bukan cuma karena dia dingin secara personality, tapi karena dan ini fakta, gue gak bohong dia pernah bikin karyawan magang nangis cuma gara-gara nyebut warna 'biru langit' padahal yang dia maksud 'biru cobalt'."
"itu serem juga sih bedanya."
"BUKAN ITU POINNYA, AND." Sasti menggebrak meja pelan, antusias. "Poinnya adalah cara dia bilangnya. Dia gak marah-marah. Dia cuma natap lo, terus bilang dengan suara paling datar di dunia, 'Kalau kamu mau jadi tukang cat, saya kasih alamat toko bangunan terdekat.' TERUS DIA BALIK KERJA LAGI. Kayak gak terjadi apa-apa. Si magang itu langsung resign keesokan harinya."
Andin menelan ludah. "Oke. Itu cukup menakutkan."
"Itu belum apa-apa. Ada legenda tentang dia yang udah turun-temurun di divisi ini. Katanya, dia pernah nolak ide campaign dari klien gede banget, brand kosmetik internasional, di depan direksi mereka, cuma dengan bilang, 'Konsep ini membosankan. Saya bisa bikin yang lebih baik sambil tidur.' Dan tau apa yang lebih gila? Dia BENERAN bikin yang lebih baik. Dalam semalam. Klien itu sampe sekarang masih jadi klien tetap kita."
"Jadi dia galak tapi jenius?"
"Galak, jenius, dan ini bagian paling annoying—GANTENG. Lo bakal liat sendiri nanti dan langsung mikir, 'kok bisa orang sejahat ini wajahnya kayak model iklan parfum.' Gue udah kerja di sini dua tahun dan masih bingung kenapa Tuhan kasih dia muka itu padahal personality-nya kayak termos."
Andin tertawa, mulai merasa lebih santai meski deg-degan. "Lo lebay banget, Sas."
"Gue gak lebay. Tanya aja siapa pun di lantai ini." Sasti melirik ke kanan kiri, lalu berbisik lebih pelan. "Ada teori konspirasi juga, katanya dia pernah patah hati parah waktu kuliah terus jadi dingin gini. Ada juga yang bilang dia emang dari lahir gak punya emosi, kayak robot yang disetting buat bikin iklan bagus doang. Gue pribadi lebih percaya teori robot."
"Terus, gue harus ngapain biar gak jadi korban?"
"Pertama, jangan pernah bawa ide setengah jadi ke meja dia. Dia bisa nyium 'ide yang males dipikirin' dari jarak sepuluh meter. Kedua, jangan coba bercanda di rapat sama dia, karena dia gak akan ketawa, dan keheningan setelahnya bisa bikin lo pengen masuk ke dalam tanah. Ketiga..." Sasti menarik napas dramatis. "Jangan pernah, PERNAH, salah eja nama klien di slide presentasi. Pernah ada orang yang nulis 'PT Maju Sentosa' jadi 'PT Maju Sentausa'. Dia diem aja sepanjang rapat. Tapi besoknya, orang itu udah dipindah ke divisi finance."
"Itu, bisa kayak gitu?"